Resolusi Tahun Baru: Lebih Banyak Menggunakan Adult Brain

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Di sepanjang tahun 2019 ini, seberapa sering adult brain kita mengalahkan baby brain?

Cek kesehatan perempuan jelang usia 35 tahun - Mommies Daily

Pernahkah kita menyesali apa yang baru saja diperbuat? “Seandainya saja saya mau berpikir lebih panjang, pasti hal itu tidak akan terjadi.” Seandainya saja saya tidak impulsif, saya tidak akan mengambil keputusan seperti itu.” “Seandainya saja saya bisa lebih menahan diri untuk tidak makan sembarangan.” “Seandainya saja saya tidak memikirkan kesenangan sesaat.” Di sepanjang tahun ini, ada berapa kali “Seandainya” dan penyesalan-penyesalan lain yang terucap?

Triune Brain

Setiap orang pasti pernah mengalaminya, tidak terkecuali saya. Fenomena ini, jika merujuk pada ahli neurosaintis Paul MacLean, adalah pengaruh dari kerja otak. Teori ini dikenal dengan sebutan Triune Brain, yang membagi otak menjadi tiga bagian, yakni:

1. Otak reptil. Terdiri dari ganglia basal dan batang otak. Bagian paling primitif dari otak kita yang memengaruhi dorongan mendasar seperti rasa lapar, haus, dan insting untuk pertahanan diri. “Perhatikan saja, jika kita dalam keadaan lapar, kita menjadi mudah tersinggung dan kasar pada orang lain,” jelas Robert Sapolsky, profesor neurologi dari Universitas Stanford.

2. Otak limbik. Terdiri dari hypothalamus, hippocampus, amygdala, dan cingulate cortex, yang memengaruhi motivasi, emosi, dan memori.

3. Neocorteks. Bagian otak yang digunakan untuk berpikir logis. Kemampuan berbahasa dan kemampuan kreatif dimiliki oleh bagian ini.

Sayangnya, neocorteks seringkali dikalahkan oleh otak reptil dan otak limbik. Otak reptil cenderung mencari kesenangan, menghindari hal-hal yang sulit, dan mudah dipengaruhi oleh orang lain atau situasi yang dianggap mengancam. Begitu juga, pada saat seseorang stres, emosi tidak stabil, otak limbiklah yang dominan.

Jadi, jika di tahun 2019 ini ada banyak kegagalan yang seharusnya bisa saya hindari, hal itu karena otak reptil dan otak limbik saya yang masih dominan. Keinginan bawah sadar yang menang, mengalahkan logika. Hal-hal seperti,

• Malas berolahraga
• Mencandu junk food
• Kurang tegas menerapkan disiplin ke anak
• Kurang giat bekerja
• Ogah-ogahan bebersih rumah, dan banyak lagi lainnya.

Jurnal kemenangan

Di tahun yang baru, resolusi saya hanya satu, memberi ruang dan kekuasaan yang lebih luas untuk otak neokorteks, atau bisa juga disebut sebagai adult brain, dan mampu mengendalikan otak reptile dan otak limbik, atau yang disebut dengan baby brain. Untuk itu, saya perlu mempelajari lagi bagaimana cara memperkuat neokorteks saya. Misalnya, dengan:

-Belajar pengendalian diri. Menunda saat ingin mengonsumsi junk food, misalnya.

-Membayangkan kesenangan dan penderitaan sebagai motivasi. Kita cenderung menyukai kesenangan dan ingin menghindari penderitaan. Cara ini bisa kita terapkan, dengan cara membayangkan kesenangan yang akan kita raih jika kita mau berdisiplin. Misalnya, kesenangan karena penyakit kita akhirnya sembuh setelah kita menjaga makanan.

-Berpikir positif. Salah satunya lewat kegiatan bermeditasi, menarik napas panjang, membayangkan hal-hal yang menyenangkan, bisa menurunkan tekanan darah, denyut jantung berdetak normal, dan bisa mengaktifkan otak neokorteks.

-Menuliskan jurnal. Menulis membuat kita berefleksi dan memikirkan kembali segala sesuatu. Kita juga menjadi makin terlatih untuk mengidentifikasi, otak mana yang lebih dominan? Kapan otak reptil kita bereaksi? Bagaimana cara menghindari keputusan yang didasari otak reptil?

Cara ini juga bisa, lho, diperkenalkan ke anak, agar ia bisa membedakan antara keinginan yang didasari baby brain dan adult brain.


Post Comment