Ini Tantangan Saat Anak Memasuki Usia 8 Tahun

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Kalau dulu, tantangan yang mungkin terjadi saat anak masih bayi, adalah pengaturan waktu tidur agar tidak begadang melulu. Kini, saat anak berusia 8 tahun, tantangannya berbeda lagi.

Kalau dibilang lebih rumit, yaa, bisa jadi. Dibilang lebih santai, juga bisa jadi. Bagi saya, tumbuh kembang anak 8 tahun itu penuh kejutan!

Diare pada anak - Mommies Daily
Seperti pertanyaan yang muncul dari Dhia saat ia berusia 8 tahun. Iya, Dhia memang hobi nanya sejak ia sudah bisa berbicara. Di usia 8 tahun ini pertanyaannya lebih ajaib. Seperti sore itu, “Ibu, menurut ibu, apakah Allah memperhatikan kita sambil ngopi?” Kaget? Tentu, tapi saya berusaha kalem dan menjawab sebijaksana mungkin.

Pertanyaan yang lebih kritis ini muncul saat Dhia berusia 8 tahun bukanlah tanpa alasan. Ini karena otaknya sudah lebih berpikir kritis sekarang. Sehingga tak heran bila kemudian Dhia datang dengan pertanyaan-pertanyaan ajaib hasil pemikirannya. Yang terpenting, jangan buru-buru menjawab bila tak tahu jawabannya dan tetap berusaha kalem. Hahaha.

(Baca: Perubahan Hormon yang Bikin Anak 6-8 Tahun Super Moody)

Perkembangan lain yang terjadi di usia 8 tahun adalah keterampilan motorik kasarnya. Ini akan membuat anak memiliki pilihan olahraga favorit atau permainan favorit. Meskipun tampaknya penuh risiko, namun sebaiknya jangan dibatasi. Kita hanya perlu mengingatkan terus menerus tentang faktor keamanan.

Motorik halusnya juga berkembang lebih baik. Kini anak bisa menggambar model, hewan atau tumbuhan lebih detail lagi. Ini termasuk saat ia mewarnai gambarnya. Bahkan, suatu saat, saya menemukan Dhia sedang menggambar logo musisi favoritnya, lengkap dengan warnanya. Mempraktikkan keterampilan motorik kasar maupun halus akan membantu anak berkembang lebih baik lagi.

Kepercayaan dirinya juga berkembang, terbukti dari caranya menyelesaikan masalahnya tanpa meminta bantuan. Saat membaca buku, anak 8 tahun juga sudah mulai menemukan informasi-informasi yang memang ia inginkan. Sehingga, membaca buku kini bukan hanya sekadar kesenangan dongeng semata. Jadi, tak heran bila Dhia tiba-tiba tertarik buku jenis ensiklopedia, ketimbang buku dongeng.

Kesenangannya terhadap membaca ini juga bisa menjadi bekal untuk mendukungnya saat ia sedang beraktivitas. Misalnya, saat ia bercita-cita ingin pergi ke London, saya mengambil kesempatan ini dengan mendorongnya untuk menyelesaikan bacaan ensiklopedia tentang negara yang baru dibelinya.

(Baca: Membesarkan Anak Lelaki yang Anti Kekerasan)

Dari segi tulisan, si 8 tahun juga sudah cukup mahir dan bisa dibaca dengan lebih enak. Terbayang saat Dhia baru masuk SD (usia 6 tahun), tulisannya tanpa titik dan koma, sehingga saat membaca harus mengeluarkan jurus cenanyang, untuk mengira-ngira isi tulisannya. Hahaha..

Keyakinannya juga mulai tumbuh, tapi si 8 tahun mungkin cenderung melebih-lebihkan kemampuannya. Sayangnya hal ini tak berefek baik, karena bisa membuat anak frustasi ketika ia gagal. Kuncinya adalah memberi tahu anak tentang tantangan yang realitis, dan tetap fokus pada yang telah ia capai. Lucunya, si 8 tahun juga mulai berpikir tentang masa depan. Jangan kaget kalau ia tiba-tiba mengatakan ingin punya anak perempuan atau laki-laki.

Sementara itu, perkembangan emosinya juga berkembang. Anda mungkin akan melihat si 8 tahun mulai peduli dengan lingkungannya, penderitaan pengungsi atau kemiskinan di sekitarnya. Tentu saja hal ini bisa menjadi salah satu cara agar anak lebih peduli dan mau membatu orang lain.

Emosi lain yang berkembang antara lain rasa malu dan rasa bersalah. Sehingga ini menjadi momen penting bagi orangtua untuk membicarakan tentang pikiran dan perasaan. Ini juga waktu yang tepat untuk mengajarkan anak untuk menghargai dirinya sendiri dan memberinya contoh untuk berstrategi, bagaimana memperbaiki keadaan dan memaafkan dirinya sendiri. Kondisi ini akan membuat anak belajar tentang memahami kondisi dari sudut pandang orang lain.

(Baca: 8 Vaksin untuk Anak SD Hingga Remaja, Emang Masih Perlu?)

Temperamennya juga berubah. Anak mungkin anak terlihat lebih kasar (terutama pada adiknya), suka memerintah, penasaran, menuntut, cekikikan atau berbuat konyol seharian. Meskipun tampak menyebalkan, namun sebagai orangtua tetap perlu membiarkan emosi negatif tersebut. Dengan catatan Anda menetapkan batasan pada perilaku buruk tersebut agar anak dapat mengelola hal ini untuk dirinya sendiri dalam jangka panjang.

Hal lain yang kadang membuat sedih adalah, saat si 8 tahun mulai merasa kurang tertarik pada kegiatan keluarga. Ia merasa lebih nyaman dengan kegiatan-kegiatan yang ia sukai saja. Namun demikian, si 8 tahun juga sedang senang-senangnya menjadi bagian dalam sebuah tim dengan teman sebayanya.

Meskipun membesarkan anak 8 tahun penuh tantangan, namun kita tetap perlu memberikan kasih sayang penuh padanya. Kita juga perlu memahami upayanya dan pencapainnya, serta menetapkan dan mempertahankan batasan-batasan yang jelas. Selain itu, mengajarkananak 8 tahun untuk tetap menghormati orang lain terutama yang lebih tua juga penting dilakukan. Ini akan menjadi pondasi bagi tumbuh kembang anak selanjutnya.


Post Comment