Membesarkan Anak Lelaki yang Anti Kekerasan

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Salah satu penyebab kekerasan pada anak laki-laki adalah karena mereka dibesarkan dengan stereotip bahwa anak laki-laki tidak boleh mengekspresikan emosi sebebas anak perempuan.

Membesarkan Anak Laki-laki yang Anti Kekerasan - Mommies DailyImage: Photo by Robert Collins on Unsplash

Saya sering membanding-bandingkan anak saya yang laki-laki dengan anak-anak perempuan seusianya. Terus terang, gadis-gadis itu membuat saya iri sekali. Sayang, saya tidak punya anak perempuan. Dari sisi kecerdasan dan kedewasaannya, jauh melampaui anak-anak lelaki sebayanya. Terlebih, anak-anak perempuan yang mendapat paparan intelektual dan stimulasi pengasuhan yang optimal, kecerdasan mereka sangat mengagumkan. Perempuan juga identik dengan kelembutan dan kemampuan intrapersonal yang menakjubkan. Saya suka dibuat terkagum-kagum dengan anak-anak perempuan yang bisa ngobrol dengan orang dewasa, dengan penuh sopan santun dan pintar mengambil hati lawan bicara. Duh, gemes!

Baca juga: Untuk Para Ibu yang Memiliki Anak Laki-laki

Harus diakui, dalam hal hubungan sosial dan tanggung jawab, anak perempuan paling bisa. Dengan kemampuan seperti itu mereka bisa menggerakkan perubahan. Gretha Thunberg dan Malala Yousafzai adalah sebagian contoh anak perempuan yang mampu menggemakan perubahan ke seluruh dunia, sementara anak laki-laki seusia mereka masih senang-senangnya main.

Dulu, dalam bayangan saya, membesarkan anak perempuan pastilah berat. Terlebih dalam masyarakat yang budaya patriarkinya masih kuat. Anak perempuan rentan menjadi korban kekerasan, baik itu kekerasan fisik maupun seksual.  

Korban Maskulinitas

Sewaktu kecil, saya sering jadi korban agresivitas adik laki-laki saya, yang sedikit-sedikit ngajak berantem, dan kalau sudah berantem pasti main fisik; nyubit, jambak, mukul. Setelah menjadi ibu, saya baru sadar, ternyata ‘privilege’ yang seolah dimiliki anak laki-laki, sebetulnya tidak menguntungkan bagi anak laki-laki itu sendiri. Saya sering was-was dengan perilaku anak-anak lelaki yang cenderung agesif dan dekat dengan perilaku kekerasan. Tonjok-tonjokan dengan teman dianggap hal yang biasa. Punya anak laki-laki lebih rentan menjadi korban kekerasan temannya, dibanding anak perempuan. Anak saya yang secara fisik terbilang lemah, kerap mengalaminya. Malah terkadang, berkelahi bukan karena marahan tapi sekadar ekspresi bercanda.

Menyitir tulisan seorang psikolog di New York Times, ada keterkaitan erat antara norma maskulinitas dan perilaku kekerasan. Menurut sebuah penelitian tahun 2017, laki-laki muda berusia 18-30 tahun yang dibesarkan dalam budaya identitas gender tradisional cenderung tidak bahagia. Mereka juga rentan mengalami perisakan (bully) dan pelecehan seksual. Dalam sebuah penelitian lain mengungkap, pria di negara dengan tingkat kesetaraan gender yang tinggi lebih kecil kemungkinannya untuk bercerai, tertekan, atau mati akibat kekerasan.

Perilaku kekerasan yang dilakukan anak laki-laki ini termanifestasi menjadi tiga jenis kekerasan, yakni kekerasan terhadap sesama laki-laki, kekerasan terhadap perempuan, dan kekerasan terhadap diri sendiri. Salah satu penyebab kekerasan pada anak laki-laki adalah karena mereka dibesarkan dengan stereotip bahwa anak laki-laki tidak boleh mengekspresikan emosi sebebas anak perempuan. Contoh sederhana, saat anak kita menangis, orangtua cenderung berkomentar, “Ih, masa anak laki kok cengeng gitu! Udah, jangan nangis!” “Gitu aja mewek! Cowok macam apa kamu!” Sebagai orangtua, tanpa sadar cenderung membedakan antara pengasuhan anak laki-laki dan perempuan. Konsep tentang kejantanan ini juga mereka peroleh dari televisi, film, game, teman, lingkugan, dan sebagainya.  

Baca juga: 5 Hal yang Ingin Selalu Saya Lakukan Bersama Anak Laki-Laki Saya

Memutus Budaya Kekerasan

Pertanyaannya, bagaimana membesarkan anak laki-laki yang antikekerasan, di tengah budaya patriarki yang masih melekat? Sejak kecil saya tidak pernah membelikan mainan anak berupa pistol-pistolan, pedang, atau apa pun yang berbentuk senjata. Anak saya juga tidak pernah tertarik untuk memainkannya. Walaupun, tetap saja, ia punya kegandrungan tinggi pada hal-hal yang berbau peperangan.

Selain itu, ada beberapa poin menarik yang saya temukan di website Bay Area Parent, antara lain:

  • Tidak menoleransi orang lain mempermalukan anak Anda ketika dia menunjukkan perilaku lembut dan penuh kasih sayang.
  • Dorong permainan tanpa kekerasan. Pantau paparan anak Anda terhadap permainan berbau kekerasan dan sediakan permainan dan aktivitas tanpa kekerasan. Dorong anak Anda untuk bergaul dengan teman-teman yang menikmati permainan tanpa kekerasan. Ciptakan aturan yang aman untuk putra Anda ketika dia terlibat dalam aktivitas yang berpotensi berbahaya.
  • Beri dia hewan peliharaan. Merawat hewan peliharaan tidak hanya mengajarkan tanggung jawab anak laki-laki, tetapi dengan memeluk anak kucing, misalnya, ia akan belajar tentang kasih sayang terhadap semua makhluk hidup.
  • Ajak anak untuk bertemu orang baru, berinteraksi dalam lingkungan yang plural, dengan mereka yang berbeda agama, kebangsaan, maupun ras.
  • Dekatkan anak pada keindahan. Seni bisa menumbuhkan kelembutan pada anak.
  • Tingkatkan sifat welas asihnya dengan membuatnya terlibat pada kegiatan sosial.

 Baca juga: Anak Berpikir Kritis Tak Hanya Aktif Bertanya, Kenalkan & Latih dengan 5 Cara Ini!


Post Comment