Editor’s Note: Menjadi Ibu Bekerja Itu Nggak Salah, kok

Editor's Note

fiaindriokusumo・01 Oct 2015

detail-thumb

Entah berapa banyak saya membaca berbagai postingan image atau tulisan yang cukup ‘menohok’ tentang ibu bekerja. Pertanyaan saya, harus ya mem-posting tulisan atau image seperti itu?

Selama 9 tahun saya menjadi seorang ibu, hanya 1 tahun saya pernah merasakan nggak bekerja. Enam bulan saat cuti hamil dalam jangka waktu dua kali melahirkan, dan 6 bulan lagi (kalau nggak salah) ketika saya memutuskan ingin istirahat sejenak dari hiruk pikuk dunia kerja. Saya paham banget beratnya tanggung jawab seorang ibu rumah tangga. Dan, buat saya pribadi, every mom is working mom.

Jadi, saya suka mengelus dada kalau melihat teman-teman saya yang notabene seorang perempuan dan seorang ibu memposting tulisan yang menyindir ibu bekerja tega menitipkan anak seperti sebuah perhiasan. Atau menunjukkan bahwa anak akan lebih dekat dengan pengasuh dibanding ibunya kalau si ibu itu bekerja. Padahal, bekerja itu juga bisa menjadi wujud cinta dari ibu ke keluarga kok. Dan, nggak usah disindir-sindiri seperti itu pun, kami, ibu bekerja juga sudah punya ketakutan-ketakutan yang harus kami hadapi, tanpa perlu ditambah sikap nyinyir dari sesama ibu.

Every family is different and we are choosing to do what’s best for ours

Saat kalian sibuk menghakimi para ibu bekerja, mungkin kalian nggak tahu, berapa banyak ibu bekerja di luar sana yang pontang panting kerja dari pagi sampai malam hanya agar anak-anaknya bisa makan sehari tiga kali (iya makan sehari tiga kali, bukan untuk belanja barang bermerek). Atau karena mereka adalah tulang punggung keluarga. Iya, mencari nafkah itu memang tanggung jawab suami. Masalahnya, nggak semua perempuan beruntung mendapat suami mapan atau bertanggung jawab seperti suami kalian J. Jangan samakan semua ibu bekerja dengan (sebagian kecil) perempuan yang bekerja demi eksistensi. Karena masih banyaaaaaak ibu bekerja yang memang bekerja agar mereka bisa bertahan hidup.

Being a working mom doesn’t mean my family is not my first priority

Kemarin saat FGD, seorang member di forum, Ari, menceritakan bagaimana meskipun bekerja, prioritas utamanya tetap keluarga. Tahu cara dia melakukannya? Saat di kantor, sepenting apapun pekerjaan yang dia lakukan, kalau orang rumah menghubungi, dia akan selalu mengangkat. Dan, saat di rumah, sepenting apapun alasan orang kantor menghubungi dia, dia akan selalu membiarkan ponselnya tak terjamah, sedikitpun.

When it comes to spending time with my kids, we value QUALITY as much as QUANTITY

Kalau ada orang bilang ke saya, “Kalau emang lo cinta sama anak lo, ya lo resign dong Fi, fokus sama anak.” Pertanyaan saya adalah, yakin kalau udah di rumah bakalan lebih fokus sama anak-anak? Apa  kabar dengan teman saya yang sering di rumah tapi punya 3 ART untuk ngurusin satu orang anak? Dan dia malah sibuk arisan sana-sini, jalan sama teman-temannya. Jadi, anak akan lebih dekat dengan pengasuh atau ibunya, nggak bergantung dari apakah si ibu bekerja atau enggak! Tapi tergantung dari bagaimana ibu bisa memaksimalkan waktunya yang ada bersama si anak. That’s the point, mbak-mbak, mas-mas dan teman-teman sejagad raya!

image1

Jadi, mungkin, saat kalian mem-posting tulisan atau image yang niat awalnya untuk menunjukkan berapa beruntungnya kalian, pikirkan juga berapa banyak hati sesama ibu yang akan kalian sakiti. Jadi, sutralah, mari kita saling menghargai keputusan satu sama lain. Ibu bekerja nggak usah merasa jumawa karena bekerja (kalau memang ada yang begini) dan ibu rumah tangga juga nggak usah sibuk memposting betapa beruntungnya anak-anak kalian karena diasuh oleh ibunya sendiri.

Dan, bagi saya pribadi banyak hal yang bisa saya syukuri dengan menjadi ibu bekerja. Loving my job doesn’t make me any less of a mom dan dengan pede saya bisa bilang I can love my children and love my job.