Bertanya Soal Menstruasi - Mommies Daily

Ketika Anak Perempuan 9 Tahun Bertanya Soal Menstruasi

Ditulis oleh: Febria Silaen

Siapkan mental mommies, pertanyaan semacam ini pasti deh muncul dari anak perempuan kita. Redaksional kalimatnya macam-macam, contohnya seperti yang ditanyakan anak saya berikut ini.

Bertanya Soal Menstruasi - Mommies Daily

“Bu,kalau haid itu sakit nggak sih?”

“Terus, kalau mau haid itu, keluar putih dulu ya?”

Suatu sore, tiba-tiba anak perempuan saya melontarkan dua pertanyaan di atas. Saya kaget banget ketika anak usia 9 tahun, duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD) sudah kepikiran soal haid. Sebelum memberikan jawaban, saya coba menarik napas panjang untuk mengurangi rasa kaget. Lalu balik bertanya seperti ini: “Hmmm, kakak tahu dari mana soal haid?”. Kenapa saya tanyakan hal ini? Karena jujur, saya belum pernah mengajak anak berdiskusi tentang menstruasi. Alasannya saya:  menganggap dia masih kecil.

Anak saya bercerita, bahwa kakak kelasnya yang menceritakan tentang haid. Menurut cerita para senior, haid itu bisa membuat perut sakit. Di titik ini, saya merasa salah. Seharusnya informasi seputar haid, saya sampaikan sejak dini. Ketimbang dia menerima informasi dari orang lain.

Lalu pikiran saya pun menerawang agak jauh, “Saya yang belum siap sebagai ibu untuk menerima kondisi bahwa anak saya sudah beranjak remaja,” saya masih “terjebak” dalam bayang-bayang, gadis kecil saya, masih imut yang menggemaskan. Saya belum siap untuk untuk menghadapi fase di mana menstruasi ia hadapi.

Saya pun lantas mencari tahu cara yang tepat untuk bisa menjelaskan tentang menstruasi. Agar ia bisa menyiapkan diri dan merasa nyaman, aman dengan perubahan yang akan terjadi pada tubuhnya.

Dari laman Kids Health, saya dianjurkan untuk menjelaskan bahwa menstruasi adalah salah satu bentuk pubertas. “Selama siklus menstruasi, hormon dilepaskan dari berbagai bagian tubuh untuk membantu mengontrol dan mempersiapkan tubuh untuk kehamilan. Persiapan itu dimulai ketika ovarium (dua organ berbentuk oval yang terletak di kanan atas dan kiri rahim, atau rahim) menghasilkan hormon estrogen dan progesteron.” Begitu penjelasan di laman tersebut.

Lalu hormon-hormon ini memicu perubahan tertentu di endometrium (lapisan rahim). Kemudian, hormon lain dari kelenjar pituitari menstimulasi pematangan dan pelepasan sel telur, atau ovum, dari ovarium. Nah, itu kan penjelasan secara bahasa ilmiah atau kedokterannya. Supaya lebih mudah dicerna sesuai konsep berpikir anak, saya imbangi dengan gambar dan video di internet. Apalagi anak saya tipe anak visual yang lebih mudah memahami dengan cara melihat gambar.

Salah satu teman sempat merekomendasikan buku berjudul “I Am Little Lady, Aku Dapet”, karya Robin Soetikno. Buku ini bisa membantu anak untuk memahami soal menstruasi dan bagaimana menyikapinya.

Setelah anak bisa memahami dan mengerti tentang mengapa perempuan mengalami menstruasi, selanjutnya adalah tahap untuk mengenalkan perlengkapan kebersihan wanita.

Pembalut atau tampon, akan saya tunjukkan pada anak. Lalu memberikan penjelasan tentang fungsi pembalut yaitu untuk menampung darah yang keluar saat menstruasi. Dan hal lain yang juga penting mengajarkan bagaimana cara menggunakan pembalut serta membersihkan bagian kewanitaan dengan benar dan baik. Seperti yang diceritakan sahabat saya, Desi (38) yang sudah mempunyai pengalaman tentang menghadapi haid pertama anak perempuannya.

Menurut Desi, anak harus diajarkan untuk bisa mencuci celana dalamnya sendiri. Karena ketika haid, celana dalam berpotensi terkena noda darah. Maka sebaiknya, saat mandi, mencuci langsung celana tersebut. Dan jangan lupa untuk mengajarkan cara melipat dengan baik tampon dan membungkus dengan plastik sebelum dibuang ke tempat sampah.

Selain itu, jangan lupa memberitahu kemungkinan terburuk yang ia alami saat haid. Terkadang menstruasi dapat menyebabkan kram perut, dan keluhan yang umumnya dirasakan saat menstruasi. Cara mengatasinya, dengan banyak minum air putih hangat, makan buah serta sayur. Plus rajin olahraga.

Di tengah proses menjelaskan, biasanya sih akan muncul pertanyaan baru. Makanya saya harus siap, dengan varian pertanyaa-pertanyaan “ajaib”. Jawabannya nggak harus saat itu juga, sih. Paling tidak, kita menyiapkan nyali dulu, supaya ekspresi wajah dan bahasa tubuh kita, bisa terkendali, nggak panik.

Jadi, meski saat ini anak saya belum haid, saya harus bisa membekali dengan pengetahuan seputar kesehatan organ intim perempuan. Serta bagaimana menjaga dirinya. Jangan sampai anak mendapatkan informasi yang keliru dari orang lain.

Misal, saya mulai tegas membiasakan anak untuk disiplin mengambil handuk sebelum mandi, menutup tubuh saat keluar kamar mandi. Dan dilarang untuk wara-wiri di depan ayahnya dengan kondisi tanpa pakaian.

Tambahan lainnya, saya membiasakan anak untuk memakai miniset atau bra mini. Untuk menutup payudara yang sudah mulai tampak. Tentu semua ini dilakukan bertahap agar anak tidak merasa terpaksa. Tapi sebaliknya, anak dengan sukarela mau menjaga diri dan melindungi tubuhnya.


Post Comment