Ini Kata Anakku Soal Setan Gepeng

Ditulis oleh: Febria Silaen

setan gepeng

“Kalau biasanya setan gepeng ditakuti orang, termasuk ibu-ibu. Setan ini malah sebaiknya lho, Bu!”

“Setan ini banyak dicari semua orang, dipegang, dielus bahkan nggak boleh dibagi-bagi ke orang. Ibu tahu nggak apa?”

“Setan ini bentuknya gepeng, Bu!”

Begitulah tebak-tebakan dilontarkan anak perempuan saya yang berusia 9 tahun sebelum tidur.

Hmm…setan apa ya? Dalam hati saya mikir. Ada-ada aja nih anak. Pasti jawabannya bikin zonk.

Karena malas berpikir lagi, saya langsung menyerah dan menjawab TIDAK TAHU.

Dengan spontan anak saya menjawab dan menunjuk ke gawai yang sedang saya pegang sedari tadi.

“Tuh, setan gepeng, handphone Ibu. Setan yang bikin ibu-ibu tuh susah move on. Setan yang bikin ibu-ibu suka cuekin anaknya.”

What! Makjleb langsung saya. Sesaat saya menatap anak saya dan langsung menaruh gawai. Tidak terima dengan jawaban anak, saya pun langsung membuka debat terbuka.

Dan saya akhirnya paham, ternyata benar gawai yang jujur 80 persen lebih banyak ada di tangan saya itu memang setan. Setan berbentuk gepeng yang enak untuk dipegang dan dibawa kemana pun.

Setan gepeng yang sepertinya mengerti kebutuhan saya sebagai ibu di rumah. Mulai dari mencari ide masakan di pagi hari, mencari informasi dari gosip artis bahkan sampai urusan harga telur dan cabai, kepo kehidupan orang yang sedang berlibur sampai menjawab obrolan di WhatsApp grup yang kadang penting. Tapi kadang banyak juga tidak pentingnya.

Benar, setan gepeng ini membuat saya pelit. Seringkali menjadi egois tidak boleh anak memegang handphone dengan alasan yang sungguh egois. “Anak-anak jangan kebanyakan main gadget. Nggak bagus!”
Lha, bagaimana dengan saya! Apakah orang dewasa itu tidak bahaya kebanyakan main gadget. Duh, jadi malu seperti ditampar bolak-balik gegara tebakan setan gepeng.

Kadang sebagai orangtua, orang dewasa kita memang lupa bercermin. Lupa sadar diri. Melarang anak main gadget tetapi contoh yang dilihat anak adalah kita asyik bermain dengan gadget.

Ya, seperti setan yang suka menggoda kepada hal tidak baik. Keasyikan main gadget dengan alasan mencari bahan artikel, membalas Whatsapp penting atau membaca email urusan pekerjaan membuat kita menjadi contoh yang tidak baik. Dan menjadi pengikut Si Setan Gepeng.

Tidak heran ketika segerombolan anak di Kota Hamburg, Jerman berdemo pada awal September lalu. Mereka sedang berdemonstrasi di jalanan memprotes orangtua mereka yang terlalu sibuk bermain ponsel.

Pemimpin demo, Emil Rustige bocah berusia 7 tahun tampil dan berorasi meminta para orangtua untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka.

“Kami di sini! Kami lantang bersuara! Karena engkau hanya bermain dengan smartphone.

“Bermainlah denganku, bukan dengan smartphone kalian!” Seru Emil dengan lantang. Seperti yang ditampilkan dalam video ini.


View this post on Instagram

“Kami di sini! Kami lantang bersuara! Karena engkau hanya bermain dengan smartphone!”. . Demikianlah yang diteriakkan serombongan anak di kota Hamburg, Jerman, awal September lalu. Mereka sedang berdemonstrasi di jalanan memprotes orang tua mereka yang terlalu sibuk bermain ponsel (ketohok ga, Mams? ????). . Pemimpin demo, Emil Rustige yang berusia 7 tahun, tampil dan berorasi meminta para orang tua untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka. “Bermainlah denganku, bukan dengan smartphone kalian!” serunya, sebagaimana yang ditampilkan dalam video dari media Jerman, Deutsche Welle ini. . Keren banget ya Mams, aksi mereka? ???????? . Sebelum Mama didemo anak sendiri, coba deh sekali-sekali minta pendapat anak tentang kebiasaan kita menggunakan teknologi di rumah. “Dek, menurut kamu Mama suka terlalu asyik main hape di depan Adek, ga?”. . Kira-kira si kecil bakal jawab gimana, ya?! ???????? . . . . #digitalparenting #parenting #parentingeradigital #gawai #demo

A post shared by digitalMamaID (@digitalmamaid) on

Ya, ampun ternyata anak-anak itu menjadi korban dari kedekatan kami, orangtua dengan setan gepeng.
Saya jadi membayangkan, satu hari anak saya akan mengajak teman-temannya dan berdemo dengan yel-yel, “Ibu Teman Setan Gepeng! Setan Gepeng adalah musuh kami! Kembalikan Ibu kami agar mau bermain bersama!”

Duh, terkesan lebay ya. Tapi saya benar-benar takut kalau demo itu terjadi dan pemimpinnya adalah anak saya sendiri.

Ternyata selama ini anak-anak melihat, merekam dan merasa menjadi pihak yang disisihkan karena kedekatan orangtua dengan ponsel. Ada perasaan tersisihkan, dicuekin dan merasa sendiri yang dirasakan anak-anak ketika orangtua malah asyik tenggelam dengan Si Setan Gepeng. Mereka ternyata merindukan kehadiran orangtua yang mau duduk bersama, main bersama.

Dan ketika orangtua pun memberikan gawai sebagai pengalih perhatian agar anak tenang dan kita pun tenang berselancar dengan ponsel kita ternyata yang ada adalah kesunyian. Benar ponsel itu adalah setan gepeng. Dan saya tidak mau menjadi sahabat setan gepeng yang menjauhkan dengan anak.

Jadi sebelum saya didemo anak sendiri, seperti saya harus mulai meminta pendapat anak soal kebiasaan kami, orangtua menggunakan teknologi di rumah.

Pertanyaan simpel saja. “Nak, menurut kamu, ibu suka terlalu asyik main hape di depan kamu, gak?
Dengar dan ingat jawaban anak. Karena itu akan memposisikan kita apakah benar sudah menjadi sahabat Si Setan Gepeng.


Post Comment