Jangan Jadi Racun di Media Sosial

Usai Asian Games, saya kembali deg-degan, apakah timeline media sosial akan kembali penuh “peperangan politik”. Ternyata kekhawatiran saya tidak sendirian karena banyak juga orang menyuarakan kekhawatiran yang sama.

hate-comments

Perlu diketahui dulu, akun-akun provokatif itu kebanyakan bot dan memang gerakan masif serta terstruktur, bukan akun pribadi. Nah yang terprovokasi nih baru akun-akun pribadi termasuk teman-teman kita.

Orang-orang ini jadinya racun banget karena membuat timeline sosial media kita jadi negatif dan penuh kebencian. Sudahlah langsung saja copot status teman, malas juga kan mengaku teman dengan orang yang kerjaannya hanya menyebar kebencian atau berita tidak benar.

Selalu ada pilihan untuk unfriend, unfollow, dan block. Saya anaknya tidak suka pertikaian, jadi jika ada orang yang komentar provokatif di kolom komentar atau DM saya, ya saya langsung delete komentarnya dan block dia. Selesai perkara. Tidak peduli ia teman sekolah, kuliah atau siapapun, group keluarga yang penuh komentar negatif aja saya left kok HAHAHAHA.

Nah tapi juga selalu ada pilihan untuk masuk ke dalam pertikaian dan beri data yang benar. Orang-orang yang gigih seperti ini layak dapat medali banget sih. Mereka sabar menanggapi orang-orang yang pada dasarnya memang otak dan logikanya kurang aja sih. Kadang data dari riset yang benar aja bisa mereka mentahkan dengan argumen dari situs yang tidak jelas kredibilitasnya.

Kalau sudah begini kadang putus asa ya. Program belajar 9 atau 12 tahun juga sia-sia karena ternyata kemampuan berlogika tidak bisa dimiliki semua orang yang sekolah. Bahkan banyak juga di antara mereka-mereka ini yang S2 atau S3 di luar negeri, tapi tetap tidak bisa berargumen dengan riset yang benar. Miris. Susah-susah sekolah, eh malah cuma jadi racun di media sosial.

Sebenarnya peraturan agar tidak jadi racun di media sosial ini mudah sih. Anggap kita punya 2ribu teman di Facebook. Nah setiap kita akan menulis sesuatu, pikirkan dulu jika 2ribu orang ini dikumpulkan di sebuah auditorium, apakah kalian berani bicara hal yang kalian tulis sebagai status LANGSUNG di depan mereka? Jika tidak, maka jangan.

Kedua, cek sumbernya dulu. Ini wajib agar tidak terlihat bodoh aja sih. Sudah berkoar-koar dengan semangat 45 eh ternyata data yang dikoarkan salah. Malu mengaku salah pula. Ya sudahlah, label tolol tertato di jidat. Ah menulis hal semacam ini bikin emosi saja ya.

Ketiga, kita tidak bisa melarang orang memposting sesuatu yang rasis atau provokatif, tetapi kita bisa melaporkannya beramai-ramai. Pastikan selalu report sebelum block.

Samakan apa yang bisa dikatakan di dunia maya dengan dunia nyata. Kalau tidak, kalian hanya pengecut. Dan ya, racun. Please, be more human in social media.


Post Comment