Hidup Ibu Bekerja Setelah Jam Kerja Kantor Usai

Hidup ibu bekerja setelah jam kantor usia inginnya sih bisa murni untel-untelan sama anak dan leyeh-leyeh manja nan santai, tapi apa daya, nggak selalu hal indah itu akan terealisasi.

“Emangnya segitu susahnya ya mbak sampai rumah langsung leyeh-leyeh sama anak-anak?” tanya seorang teman di tengah-tengah sesi curhat makan siang kantor.

Yup, saat itu topiknya lagi tentang the perks of being working mom. Hal menyenangkan dan tidak menyenangkan apa yang sering kami alami. Hal menyenangkan? Banyaaaak banget. Hal tidak menyenangkan? Ya pasti ada. Salah satunya mengenai kehidupan setelah jam kantor selesai.

Jangan berpikir setelah jam kerja selesai, kelar juga tanggung jawab kami, apalagi untuk working mom yang sudah menduduki posisi manager ke atas. Bisa dibilang kantor mengikuti kami ke mana-mana, apalagi di era digital sekarang, ketika pekerjaan bisa dilakukan dari mana saja.

Baca juga:

Etika Kerja di Kantor dengan Jam Kerja Fleksibel

Setelah pulang kerja….

Kami masih harus menghadapi kemacetan jalanan yang luar biasa. Alhasil rute dekat bisa ditempuh hingga 1,5 hingga 2 jam.

Di tengah kemacetan, di antara keinginan untuk tidur dan berharap bangun-bangun sudah sampai di rumah, atau main games (saat ini saya dengan kecanduan Candy Crush lagi), tapi biasanya kami lebih sering mengecek email kerjaan yang umumnya datang dari atasan atau klien. Bukannya sok dedikasi, tapi pemikiran kami adalah, mumpung macet dan belum sama anak, lebih baik menyelesaikan pekerjaan, jadi sampai di rumah bisa full bersama anak.

Sampai rumah, bayangan bisa mandi di bawah air hangat melemaskan otot-otot dan pikiran yang tegang segera musnah begitu pintu digedor (digedor ya bukan diketuk) oleh anak-anak yang nggak sabar mau ngobrol sama mamanya. Yak, mari mandi ala koboi yang penting kotoran luruh.

Hidup Ibu Bekerja Setelah Jam Kerja Kantor Usai - Mommies Daily

Switch mode: melakukan pekerjaan rumah, alias mengecek apa yang dilakukan anak-anak seharian ini, belum kalau mereka berantem dan kita harus menjadi pelerai, lanjut mengecek tugas sekolah atau menemani mereka mengerjakan tugas sekolah.

Untuk yang anaknya masih bayi, menggendong bayi, menyusui sambil ngobrol dengan baby sitter untuk mencari bagaimana si kecil hari ini. Makannya pintar nggak, minum ASIP-nya oke nggak (dulu bahkan saya minta baby sitter untuk mencatat jumlah ASIP yang diminum lho selama saya pergi), hingga frekuensi BAK dan BAB-nya.

Harus benar-benar menunggu anak tidur baru bisa melakukan kebutuhan pribadi, seperti makan dengan tenang. Saya yang anak-anaknya sudah besar aja, kadang makan malam menunggu mereka tidur, karena anak-anak sudah asik mau cerita banyak hal ke saya di kamar tidur. Apalagi mereka yang anaknya masih bayi, masih kangen-kangennya meluk si kecil :D. Sebisa mungkin puas-puasin dulu nggak sih main sama si kecil, baru memikirkan kebutuhan kita pribadi?

Anak-anak sudah tidur, barulah kami bisa meluruskan punggung di tempat tidur, itu pun nggak langsung bisa merem dan tidur. Kami memikirkan bagaimana anak-anak besok, bagaimana pekerjaan di kantor besok, ada meeting apa, ada report apa, pakai baju apa.

Baca juga:

Ibu Bekerja Juga Butuh Quantity Time, Tak Hanya Quality Timer Bersama Anak!

Untuk yang masih punya pasangan, jangan lupa selipkan ngobrol-ngobrol santai dengan pasangan mengenai hari ini, dan plan esok harinya mau apa. Nanti kalau nggak ada pillow talk, katanya kan komunikasi bisa bermasalah :p.

Dan, di tengah-tengah melakukan semua hal di atas, mata dan pikiran kami harus siaga mencermati apa yang terjadi di dalam WAG kantor kalau-kalau ada hal penting yang harus diberikan respon cepat.

Makanya, kalau melihat kami pulang on time, jangan langsung memberikan tatapan menghujam penuh penghakiman atau celetukan nyinyir. Percaya deh, jam berapa kami datang atau keluar dari kantor, itu bukan jaminan bahwa pekerjaan kami sudah beres res res dan bukan jaminan bahwa jam kerja kami juga sudah selesai.

Kami hanya mencoba untuk bersikap adil terhadap kebutuhan pekerjaan dan kebutuhan keluarga kami. Walaupun itu berarti kami harus memindahkan kantor ke rumah, ke jalan atau ke tempat tidur. Kalau itu versi seimbang antara pekerjaan dan rumah tangga menurut kami, ya nggak kenapa-kenapa juga kan?!


Post Comment