Sebagai Ibu Bekerja, Saya Butuh Quality dan Quantity Time Bersama Anak

Mungkin kesannya saya banyak mau, ingin quality sekaligus quantity time bersama anak. Namun, saya punya alasan tersendiri dan punya cara tersendiri, walaupun kadang yang nomor empat kerap kita lupakan.

Duluuuuu, ketika saya merasa waktu 24 jam sehari sama sekali nggak cukup untuk membagi badan dan pikiran antara bekerja, mengurus anak, suami, urusan rumah tangga, hingga pergaulan, saya selalu menghibur diri dengan mengatakan “Nggak kenapa-kenapa Fi, yang penting itu bukan seberapa sering elo ketemu dengan anak-anak tapi kualitas waktu yang lo habiskan bersama anak-anak.”

Tapi ternyata, semakin anak-anak tumbuh besar, saya merasa kualitas saja sudah nggak cukup. Mereka juga membutuhkan kehadiran saya lebih sering. Kenapa begitu? Karena sekarang, anak-anak sudah lebih kritis dan ingin tahu banyak hal. Belum lagi membesarkan anak di masa sekarang yang ‘digempur’ habis-habisan oleh kehadiran social media dan kemudahan internet.

Saya nggak mau, terbatasnya kehadiran saya di dalam hidup mereka membuat mereka mencari jawaban ke sumber yang salah jika mereka memiliki pertanyaan-pertanyaan.

Saya nggak mau saya harus kehilangan momen-momen berharga bersama mereka yang terbilang cukup singkat. Ayolah, kita semua paham sebagai orangtua (apalagi kalau anaknya laki-laki), bahwa kerelaan mereka bermanja-manja dengan mamanya hanya hitungan sekian tahun. Sisanya? Mereka akan sibuk dengan dunianya sendiri, dan ketika saat itu tiba, saya punya banyaaaaaak waktu untuk diri sendiri dan urusan lain.

Saya juga nggak mau, dengan mengutamakan kualitas menjadi semacam excuse bagi saya untuk tidak berusaha sekuat tenaga meluangkan waktu untuk anak-anak. Paham kan maksud saya. Misalnya gini, hari ini saya niat mau pulang on time dari kantor. Tiba-tiba mendadak ada pekerjaan susulan  (tapi sebenarnya bisa saya kerjakan keesokan harinya) atau tiba-tiba ada undangan dinner cantik dari teman. Kalau saya ‘hanya’ mengutamakan kualitas pertemuan dengan anak, saya bisa dengan mudah menjadikan ini excuse dan nggak jadi pulang on time. Tapi dengan saya berniat memiliki kualitas dan kuantitas waktu bersama anak-anak, saya jadi bisa menahan iman untuk tetap pulang on time.

Kalau sekarang saya memiliki pemikiran bahwa kualitas dan kuantitas sama pentingnya, at least ini membuat saya sebisa mungkin mencari waktu untuk bersama mereka.

Sebagai Ibu Bekerja, Saya Butuh Quality dan Quantity Time Bersama Anak - Mommies Daily

Iya, ngomong emang lebih gampang daripada melakukanya ya, Fi! Ahahaha. Tapi bukan berarti nggak bisa. Putar otak aja untuk mencari cara.

1. Saya memutuskan menggunakan jasa guru les untuk mengajarkan anak-anak pelajaran sekolah. Kenapa? Karena kalau belajar sama mamanya, yang ada saling tarik urat dan hubungan jadi panas, hehehe. Begitu dipegang guru, nilai mereka tetap baik, hubungan saya dan anak-anak juga baik, dan waktu yang ada bisa saya gunakan untuk ngobrol banyak hal dengan mereka. Bukannya untuk marah-marah karena saya stress melihat soal kelas 5 SD, hehehe.

2. Bangun jauuuuuh lebih pagi untuk antar anak sekolah. Dengan menggunakan jasa supir sudah pasti jam tidur saya bisa lebih maksimal. Tapi saya jadi jarang ngobrol sama anak. Nah, dengan bangun lebih pagi dan mengantar sendiri anak-anak ke sekolah, saya jadi punya waktu untuk ngobrol sama mereka di perjalanan menuju sekolah. Lumayan, kan!

3. Jangan bermusuhan dengan teknologi. Udahlah, hari gini jangan terlalu idealis dengan mengharamkan teknologi. Yang penting pintar-pintarnya kita aja memanfaatkannya. Berkat teknologi saya jadi bisa tetap keep in touch dengan anak-anak saat business trip.

4. Time Alone sesingkat apapun, harus ada. Time alone adalah waktu khusus untuk berdua bersama anak. Nggak boleh digabung antara dengan kakak atau adik ya. Nggak perlu lama kok. Sepuluh menit setiap hari juga sudah cukup. Paling enak saat mau tidur malam. Ketika kita sudah santai. Masa iya sih 10 menit sehari aja nggak cukup? (Kadang-kadang iya sih, ahahaha apalagi kalau lagi ada tugas ke luar kota)

Semua nggak selalu berjalan mulus, ada masanya saya gagal karena hal yang memang beneran penting atau karena urusan sepele. Tapi setidaknya, saya mencoba untuk memiliki mindset seperti ini. Kalau nanti berubah lagi, harap maklum ya mom, hihihihi.


Post Comment