Kenalan dengan Adenia Colin, Gadis SMA yang Bantu Ibu Tua Mendorong Gerobak dan Viral di Socmed

Adenia Colin, sosok perwakilan gen Z yang punya empati yang cukup tinggi dengan sesama. Mau tahu nggak bagaimana hatinya bisa tergerak, membantu nenek tua yang sedang menarik gerobak?

Saat melihat, postingan teman saya di FB tentang anak SMA yang kedapatan salah satu netizen membantu seorang nenek tua, mendorong gerobaknya – hati saya rasanya sejuk. Bukannya lebay, yah. Mengingat di zaman yang serba canggih ini, empati semacam itu, jarang yang punya. Dan ini yang melakukan, masih anak SMA.

Adenia ColinImage: FB Prasetyo Hartono

Contoh sederhananya. Ketika saya masih kerja dengan rute Ciputat-Thamrin naik bis. Segitu jelasnya, ada ibu hamil nggak dapat tempat duduk, nggak ada tuh yang tergerak ngasih tempat duduk. Sementara, saya nggak bisa berbuat banyak, karena posisi saya juga berdiri. Yang bisa saya lakukan, memberi tahu, beberapa penumpang di sekitar saya, untuk merelakan tempat duduknya buat si bumil.

Awal cerita kebaikan Adenia, viral di social media

Alkisah Adenia, “ditemukan” oleh netizen yang bernama Prasetyo Hartono. Kejadian tersebut ia foto dan dibagikan di FB, 25 Mei jam 17.29 lalu. Postingan Prasetyo Hartono, lantas menuai simpati hampir 7.000 netizen, yang memberikan respond “like” di postingannya. Dan lebih dari 1.200 komentar.

Penasaran dengan sosok Adenia Colin, sayapun menyapa dirinya lewat mess FB. Tak berapa lama ia merespon saya.  Menurut Adenia, hati tergerak membantu ibu tersebut, karena melihat muatan gerobak si ibu yang terlalu banyak.

Adenia ColinImage: FB Prasetyo Hartono

Sempat ada perasaan malu menghantui Adenia, tapi ada semacam kekuatan besar yang mendorong dirinya untuk bantu si ibu. Niat Adenia membantu si ibu, tak semulus itu. Si ibu sempat menolak untuk ditolong. Bukannya surut, Adenia justru lebih semangat untuk menolong, “Sebelumnya saya tanya dulu, “Ibu saya bantu ya?, dan ibu  bilang “Nggak usah, Neng nanti bajunya kotor.” Saat menerima jawaban ibu seperti itu, niat saya membantu si ibu malah semakin bulat. Dan saya akhirnya, berhasil memaksa ibu untuk ditolong.”

Setelah menolong ibu pemulung, Adenia mengaku puas, dan batinnya merasa damai, walau capek. Dengan empati yang tinggi terhadap sesama, Adenia mengaku, “Saya jadi lebih kenal sama diri saya. Semakin saya berbagi semakin banyak yang saya dapat. Dan itu membuat saya merasa berlimpah.”

Tak berhenti sampai di situ, MD mencoba mengulik, value-value apa yang ditanamkan di dalam keluarga dia. Sehingga, Adenia punya empati yang tinggi terhadap sesama.

Tiga hal apa yang paling kamu sukai dari diri kamu?

Sensitif, berani bertanggung jawab dan berani ambil keputusan yang hati aku inginkan.

Adenia Colin

Pengalaman masa kecil apa yang membentuk kamu sampai bisa memiliki 3 point itu? Apakah ada kondisi-kondisi tertentu yang membentuk karakter kamu? dan sejauh mana andil orangtua?

Contohnya, sifat saya yang sensitif. Pas saya SMP, saya pernah didiskriminasi sama teman-teman, diikatain bopung (bocah kampung). Sampai teman cowok saya, nggak ada yang mau sekelompok atau duduk bareng pas misa. Di situ, saya merasa, sakit banget. Padahal saya bisa bersikap tidak pedulu. Tapi setiap mereka berbuat seperti itu lagi. Membuat hati saya luka, dan nangis.

Akhirnya, saya suka menulis, refleksi tentang sikap mereka ke saya. Dengan menulis refeksi semacam itu. Membuat saya menjadi lega, dan mampu mengampuni. Dari kejadian itu, saya sensitive dengan kata atau tindakan yang nggak nyaman di hati. Dan lebih menjaga tindakan dan sikap saya, karena tidak semua orang bersikap nggak peduli.

  • Kondisi dimana saya bisa hening memikirkan semua yang sudah terjadi, atau apa yang sudah saya lakukan.
  • Saat saya berada di sekitar orang yang kurang, hal ini membuat saya bersyukur.
  • Saat saya bisa menolong yang kurang beruntun.
  • saat saya bisa bikin orang lain tertawa.

Mama papa aku itu terbilang pendidikannya kurang mumpuni, jadi mereka tak bisa bantu banyak dari proses pertumbuhan karakter dan iman aku. Tapi mereka selalu dukung untuk mencukupi kebutuhan saya, itu udah lebih dari cukup. Saya yang harus dewasa memiliki keinginan untuk bertumbuh

Kalau 3 hal itu tidak ada hubungannya dengan masa kecil. Mungkin ada tiga pengalaman lainnya di fase kehidupan lainnnya, yang membentuk karakter Adenia seperti sekarang?

Saya pernah membuat hati mama aku terluka, karena melakukan suatu kesalahan di sekolah. Saya sangat merasa bersalah, nggak tega lihat mama. Dari kejadian itu, saya belajar banyak hal, saya makin mendekatkan diri ke Tuhan. Tuhan selalu terbuka buat saya, bahkan saat saya berdosa.

Saya, ikut camping acara muda katolik, yang membuat roh saya diperbaharui oleh roh kudus. Dan mengubah cara pandang saya terhadap hidup. Saya lebih legowo, dan melihat karakter manusia itu berbeda-beda. Dari kegiatan ini, saya juga berusaha memperbaharui hati, agar lebih baik.

Selain itu, saya ikut organisasi spes cordis yang juga mengubah cara pandang saya akan hidup. Saya  belajar seven habits dan banyak hal lainnya.

Buku/film/lagu favorit kamu, yang mengubah cara pandang kamu akan sesuatu? Dan tolong jelaskan.

Buku, saya suka dengan Chicke Soup, tentang cara berpikir positif. Mengubah cara pandang saya. Ternyata pikiran itu memengaruhi bagaimana kita bersikap dengan diri sendiri dan orang lain, buku ini membuat saya jadi lebih optimis, menurunkan ekspetasi saya ke orang dan lebih melayani.

Kalau untuk film, Wonder. Film ini mengajarkan, kalau baik ke semua orang, memang nggak gampang. Tapi kita harus menaklukkannya, karena cinta, adalah kunci utama sama seperti Tuhan yang mengajarkan saya untuk mengasihi.

Sementara, untuk lagu, saya terinspirasi,  I am Light, dari India Arie. Mengajarkan saya, kalau siapa saya itu, nggak dipengaruhi sama apapun, kecuali sama diri saya sendiri. Jadi itu pilihan saya untuk mau berubah, jadi yang lebih baik lagi.

Pesan orangtua (papa/mama) yang membekas, dan jadi semacam “my life quote”

Adenia Colin

Mama papa bilang saya harus lebih baik dari mereka.

Di akhir perpincangan, Adenia titip pesan ke teman-teman seusinya yang masih malu memberikan bantuan terhadap sesama. “Coba ambil keputusan dengan hati yang terbuka.”


Post Comment