Akur dengan Para Ipar

Percayalah, hidup itu memang seimbang. Di antara drama menghadapi dunia per-iparan, masih terselip kisah akurnya hubungan persaudaraan tidak sedarah ini.

Masih ingat nggak, artikel saya tentang ipar yang selalu bikin ulah? Nah, biar imbang dan memberikan gambaran utuh tentang fakta kehidupan pernikahan yang melibatkan para ipar ini, saya juga mau cerita nih, hidup berdampingan dengan damai dengan para ipar itu, bisa terjadi kok.

Akur dengan Para Ipar - Mommies DailyImage: Nicole Honeywill on Unsplash

Contohnya, saya punya dua adik ipar, dan dengan mereka hampir tidak ada drama yang bikin emosi saya sampai ke ubun-ubun. Secara alami, setelah saya telaah. Ada beberapa hal, yang saya lakukan, dan ternyata berdampak baik pada hubungan kami.

1.Jangan sok tahu

Setiap ada kesempatan ketemu di momen keluarga atau situasi lainnya. Ada mind set tersendiri yang saya tanamkan. Bicara sesuai kebutuhan, jika tak diminta pendapat tentang sesuatu, lebih baik diam. Kecuali, pembicaraan yang sedang bergulir, ada hubungannya dengan keluarga kita. Kalau memang setelah ditelaah, kita butuh membela diri, atau ada yang harus disanggah, lakukan saja. Tapi dengan cara sopan, namun tetap tegas. Intinya jangan iseng, masuk ke ranah privasi seseorang.

Artinya gini, nggak usah coba-coba masuk dalam kehidupan pribadi para kakak atau adik ipar. Kecuali ditanya, saya nggak pernah memancing atau memberikan pendapat seputar kehidupan asmara adik ipar saya yang paling bungsu (misalnya). Pasti ada masanya, dia bakalan curhat panjang lebar. Di sini saya baru bisa memainkan peran saya sebagai kakak ipar. Hasilnya? adik ipar saya, nyaman bercerita tentang masalah pribadinya. Sampai di poin, yang sifatnya masukan. Saya pastikan, tidak menggurui. Diakali dengan menceritakan kasus kita sendiri, atau orang-orang terdekat kita. Minimal, dia punya gambaran, “Oh ini toh, yang sebaiknya saya lakukan.” Termasuk, soal nilai-nilai parenting. Lebih baik diam, daripada nyeletuk sesuatu, dan akhirnya bikin orang itu melirik tajam ke kita. Karena masing-masing keluarga punya value mereka masing-masing.

2.Everyone is fighting their own battle

Mommies pasti sudah familiar dengan quote “Everyone is fighting their own battle”, quote ini jadi bekal saya berinteraksi dengan siapapun. Kita nggak akan pernah tahu lho, perjalanan seberat apa yang sudah dilalui setiap orang. Contohnya, salah satu adik ipar saya, punya kisah kurang menyenangkan dengan  mantan istrinya. Dan hubungan dia dengan anak-anak juga tak berjalan sebagaimana mestinya. Apa yang bisa saya lakukan?

Memberikan kesempatan kepada adik ipar saya untuk meluapkan kasih sayangnya, pada ponakannya. Pas ada kesempatan pergi, yang bisa ajak anak saya, dan adik ipar laki-laki, saya dan suami pasti melakukannya. Dengan catatan, nggak membuka luka lama dia, dengan bertanya hal-hal yang bikin nggak nyaman. Setidaknya saya mengakomodir rasa kangennya, akan sosok anak-anaknya, lewat anak saya – walau saya tahu, itu tidak tergantikan.

3.Have fun together

Kedua adik ipar saya, punya kesibukan yang lumayan padat. Tapi ada masanya, sesekali saya menegur mereka di WA (terutama untuk yang perempuan). Karena mungkin lebih banyak hal yang bisa kami share bersama, dan banyak kesamaan kali, ya, hahaha. Ngajak jalan, makan atau nonton. Kalau emang nggak bisa, yang nggak apa-apa. Setidaknya saya sudah mencoba, melibatkan mereka pada aktivitas senang-senang.  Oh iya, atau sebaliknya. Jika ada undangan ke rumah mereka, usahakan datang. Paling nggak diwakili anak dan suami, saat kita sedang ada jadwal kerja di akhir pekan. Kalau si adik ipar laki-laki, biasanya suami yang ngajak jalan. Sejauh ini sih, berhasil ya.

Ada yang punya trik lain?


Post Comment