Zavnura Pinkan, “Tantangan Terbesar Single Mom Itu Menjaga Emosi Anak”

Menjadi single mom, tentu bukan perkara yang mudah. Menurut Zavnura Pinkan, dari sekian banyaknya tantangan, menjaga emosi kedua anak perempuannya merupakan tugas yang paling sulit.

Beberapa waktu lalu, Fia sempat datang ke pembukaan Math Monkey di bilangan Kemang. Waktu Fia cerita soal metode Math Monkey, saya langsung penasaran dan tertarik dengan konsep kurikulum tempat les matematika ini. Kepikiran, pasti anak saya, Bumi akan senang kalau bisa belajar matematika dengan cara yang fun. Tapi, berhubung lokasinya  cukup jauh dari rumah, saya  masih ‘maju mundur’.

Belum lama ini saya berkesempatan ketemu dengan Zavnura Pinkan, seorang single mom dengan dua orang anak perempuan yang menjadi salah satu orang di balik Math Monkey. Banyak hal yang kami bicarakan saat itu, mulai dari Math Monkey hingga kehidupannya sebagai seorang single mom.

Ceritain sedikit, dong, Mbak… kok, akhirnya tertarik membuka Math Monkey di Kemang?

Mungkin awalnya karena di daerah Kemang itu belum ada tempat les seperti ini. Awal tahun lalu, saya baru ketemu dengan Math Monkey ini, dan melihat kalau metodenya berbeda dengan tempat les Matematika pada umumnya. Math Monkey ini based-nya dari games, kurikulumnya itu banyak permainannya. Bukannya nggak belajar tapi belajarnya itu lewat permainan. Pada dasarnya saya mau anak-anak belajar matematika dengan cara yang menyenangkan, bukan melihatnya sebagai pelajaran yang bikin stres dan menakutkan.

Apa memang ide membuka Math Monkey ini juga karena kebutuhan anak-anak?

Anak saya yang pertama (9 tahun) dulunya senang banget pelajaran Matematika, Cuma mungkin karena makin susah, jadi dia melihatnya Matematika itu bukan pelajaran yang fun lagi. Nah ini yang jadi experience saya dan akhirnya kepikiran kenapa nggak membuka Math Monkey saja? Karena saya nggak mau anak-anak yang semula suka Math, malah akhirnya jadi takut karena tingkatan pelajarannya dianggap makin sulit.

Zavnura Pinkan, Menjadi Single mom Tantangan Terbesarnya Itu Menjaga Emosi Anak -mommiesdaily

Sejauh ini bagaimana dengan animo yang yang Mbak lihat?

Yang sudah-sudah, anak-anak yang les di Math Monkey memang happy. Ke sini itu malah pada senang, tidak jadi beban. Kalau anak saya sendiri malah menunggu-nungu kapan les di sini. Alhamdulillah animo di sini juga cukup baik, ya. Saya senangnya karena nggak pernah melihat anak-anak yang les di sini kemudian nangis dan merasa dipaksa, mereka actually happy to be here. Padahal anak yang les di sini mulai dari 3 tahun. Mungkin karena semua guru di sini sebelumnya sudah di-training dengan baik.

Sebagai working mom apa saja tantangannya?

Saya merasa waktu yang jadi tantangan paling berat. Pasti ada saja rasa guilty karena meninggalkan anak untuk bekerja. Untungnya mereka itu sekolah sampai sore, setelah pulang sekolah lanjut les di Math Monkey, basically  untuk hari-hari biasa, anak-anak pulang sekolah jam 6 sore. Ya, paling nggak dari sana saya nggak perlu merasa bersalah karena mereka kan juga masih banyak kegiatan. Paling saya hanya perlu mengatur waktunya, kalau memang nggak perlu banget, sebelum mereka pulang, saya mengusahakan untuk berada di rumah. Jadi paling penting, be there for them, sih.

Ada ritual keluarga yang masih tetap dipertahankan nggak?

Paling nggak, banyak kegiatan yang bisa saya lakukan bersama anak-anak sebelum mereka tidur. Misalnya baca buku. Kalau ini memang waktunya harus diadain, sih. Biasanya, yang kami lakukan itu kita makan malam bareng di hari Minggu, kalau hari biasa kan makannya suka pisah. Nah, setidaknya hari Minggu ini makannya harus sama-sama. Terus kalau liburan, hampir selalu anak-anak saya ajak pergi. Tapi ini tentu saja tergantung dengan keadaan finansial juga.

Sebagai orangtua masa kini, melihat begitu banyak problem yang dihadapi pada anak dan remaja, apa sih yang paling membuat Mbak merasa khawatir?

Saya itu orangnya nggak banyak khawatir, maksudnya semua anak itu kan pada dasarnya memang perlu pendidikan, yang dimulai dari rumah dan di sekolah. Untuk  itu, mereka memang butuh ilmu sebanyak-banyaknya. Kalau ditanya apa yang membuat saya khawatir mungkin sifatnya lebih ke arah soal kesehatan, khawatir anak saya sakit. Tapi kalau kasus seperti anak bunuh diri, atau LGBT, menurut saya intinya adalah problem komunikasi. Coba, deh, perhatikan. Makanya saya bilang, yang paling penting bagaimana kita memberikan bekal untuk anak-anak. Bekalnya itu ya, ilmu dan doa untuk anak-anak.

Untuk anak survive menjani hidup, apa saja bekal yang Mbak siapkan?

Kalau saya ke anak-anak, khususnya anak saya yang sudah masuk usia preteenager, yang paling penting itu adalah komunikasi. Mulai dengan apa yang anak-anak saya rasakan, harus bilang ke saya. Buat saya itu sih, penting. Jadi, mau anak saya lagi sedih, kesal, atau marah, selama mereka mau cerita, saya bisa tenang. Dari kecil anak-anak memang perlu dibiasakan untuk ngobrol jujur dengan apa yang mereka rasakan. Buat saya kuncinya pada komunikasi, dan tentu saja mereka butuh contoh dari orangtua.

Nah, bagaimana dengan tugas Mbak sebagai single mom, apa tantangan terbesarnya?

Umh, tantangnya itu lebih ke arah waktu juga, sih. Bapaknya anak-anak itu kan sibuk banget, tapi saya bersyukur hubungan mereka sangat dekat. Sementara waktu kami itu beda banget, bisa dibilang 90% waktu anak-anak itu sama saya. Nah, tantangan saya justru adalah menjaga hubungan anak-anak dengan ayahnya, dalam arti saya juga harus pintar menjaga emosional anak.

Misalnya, dengan waktu ayahnya yang cukup terbatas, saya harus bisa kasih tahu ke anak-anak hal itu bukan karena nggak sayang, tapi memang karena sibuk. Biar gimana saya nggak mau anak-anak tumbuh tanpa figure ayahnya. Jadi saya mau anak-anak dekat dengannya. Ini yang penting untuk dijaga.

Contohnya, nih, ayahnya janji mau datang dan membawakan sepeda buat anak, tapi nggak datang sehingga anak mengeluh. Mungkin kalau mengikuti ego, saya bisa ikut-ikutan ‘Tau, nih, Papa… bilangnya mau datang, tapi malah nggak jadi datang’. Nah, yang seperti ini yang saya hindari, jadi  lebih baik bilang, kalau sebenarnya bukan papa nggak mau datang dan tidak menepati janjinya, saya malah akan bilang, bahwa papanya sudah telepon dan bilang kalau Papanya telat datang.

WhatsApp Image 2017-08-14 at 08.34.11

Justru malah harus back up, dan nggak ada kamus untuk menjelek-jelekkan, ya, Mbak…

Iya, dong, Itu kan bapaknya anak-anak, saya nggak mau anak-anak malah mencari sosok ayahnya pada orang lain. Misalnya, nanti ke pacarnya. Itu saya nggak mau.

Saat memutuskan untuk berpisah dengan ayahnya anak-anak, apakah memang Mbak mengomunikasikannya lebih dulu ke anak-anak?

Kalau ke anak yang saya kecil sih, nggak ya, karena waktu itu anak saya usianya masih 3-4 tahun. Sampai sekarang dia  tumbuh jadi anak happy  kayaknya dia melihat ya orangtuanya itu memang nggak tinggal bareng aja. Untung saja rumah kami juga dekat. Kalau anak yang besar, sudah saya jelaskan tentu saja dengan bahasa yang mudah ia pahami. Buat saya dalam keluarga itu yang paling penting adalah komunikasi dan kejujuran.

Saya masih ingat waktu itu saya menjelaskannya lewat cerita film. Jadi ada film yang menceritakan adik kakak yang selalu berantem. Itu yang saya kasih gambaran. ‘Ibu sama bapak itu seperti itu…. Ada hal yang nggak bisa kami setujui bersama, daripada kami berantem terus, lebih baik kami pisah’. Nah saat itu anak saya cukup mengerti. Syukurnya sampai sekarang nggak pernah ada pertanyaan lagi, mungkin karena memang sebenarnya nggak banyak perubahan yang mereka temukan.

Perubahan terbesar yang Mbak rasakan setelah menjadi single mom?

Tidur sendiri, hahaha. Dari kecil sampai saya dewasa saya memang nggak bisa tidur sendiri, event sampai kuliah. Waktu kuliah dulu room mate saya itu sepupu dan saya selalu minta tidur bersama. Kalau sekarang, ya, tidur dengan anak-anak. Yang kedua off course  dulu kalau pulang kerja ada tempat buat ngobrol, ada tempat buat saya ngadu, tapi sebenarnya ini juga nggak terlalu signifikan karena sampai sekarang untuk hal yang berkaitan dengan anak-anak saya masih selalu cerita. Ya, buat saya sih karena memang saya pada dasarnya nggak banyak khawatir.

Survival guide, Mbak sebagai single mom

Pasti yang pertama itu soal komunikasi dengan anak penting sekali untuk dijaga. Selain itu buat saya penting sekali creating good memories dengan anak-anak. Saya lebih senang ajak anak liburan daripada membelikan mereka barang-barang mewah atau mainan. Misalnya, nih, saya punya uang 10 juta, saya akan lebih senang untuk menghabiskannya dengan mengajak anak liburan ke Bali selama dua hari, daripada membelikan anak gadget terbaru.

Creating moment itu hal yang paling penting. Kalau soal finansial, percaya saya kalau perempuan itu bisa mandiri karena pada dasarnya perempuan itu  kan ulet. Bagaimana kita pintar dan melihat prioritas dalam hidup. Tahu dulu, prioritas hidupnya sekarang apa? Kalau saya itu creating moment dengan keluarga dan teman baik sangat penting. Dari pada saya membeli sesuatu yang hanya bisa saya nikmati seorang diri, lebih baik kalau dinikmati dengan orang-orang yang kita sayangi.

—-

Setelah menghabiskan waktu lebih dari satu jam ngobrol dengan ibu dari Sadira Aksa dan Salma Drisana banyak sekali insight menarik yang bisa saya dapatkan dan ingin saya aplikasikan. Terutama soal pentingnya menciptakan moment indah bersama keluarga. Ketimbang, egois membeli barang untuk kesenangan pribadi, akan lebih baik dananya dialokasikan untuk bersenang-senang bersama.


Post Comment