Apa Benar Bayi Tidur Lebih Nyenyak di Kamarnya Sendiri?

Penelitian terbaru di AS menunjukkan bayi akan tidur lebih nyenyak di kamarnya sendiri, daripada ketika tidur dengan orangtua.

Di Indonesia, sepertinya belum lumrah, bayi tidur di kamarnya sendiri. Dari pengalaman sendiri saja. Kini Jordy yang sudah 3 tahun, masih tidur dengan kami orangtuanya. Selain alasan belum menjadi suatu kelumrahan, nggak tega membiarkan anak sendirian di kamarnya, mungkin jadi alasan kesekian para ibu, termasuk saya, sih :D

Baca juga: Kenapa Anak Perlu Tidur Sebelum Jam 9

Apa Benar Bayi Tidur Lebih Nyenyak di Kamarnya Sendiri? - Mommies Daily

Padahal mommies, penelitian terbaru dari ti  peneliti di AS mengatakan semakin cepat bayi tidur di kamarnya sendiri. Maka ia mendapatkan jam tidur yang lebih lama. Penelitian melibatkan 279 ibu dan bayi dari Penn State Helath Milton S. Hershey Medical Center. Dan menggunakan studi INSIGHT.

Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal  Pediatrics menunjukkan:

  1. Di usia 4 bulan, anak akan tidur nyenyak di kamar mereka rata-rata 45 menit. Lebih lama dibandingkan jika anak tidur bersama orangtuanya.
  2. Di usia 9 bulan, rentang waktu tersebut makin melebar, mencapai satu jam 40 menit.

Salah satu Profesor yang terlibat dalam penelitian tersebut, Ian Paul di Penn State Health Milton S. Hershey Medical Center, mengatakan mengulur waktu untuk pemisahan kamar anak dan orangtua bisa memberikan efek negatif pada kualitas tidur anak maupun orangtua, baik itu untuk jangka panjang maupun  jangka pendek.

Namun hal ini berseberangan dengan hasil penelitian yang lain, yang merekomendasikan orangtua tetap mendampingi anaknya setidaknya hingga usia mereka 1 tahun untuk mencegah anak mengalami sindrom kematian SIDS, yaitu meninggalnya anak yang tidak dapat dijelaskan, terjadi secara tiba-tiba pada usia di bawah satu tahun.

Data dan penelitian lain menunjukkan, 9 dari 10 kasus SIDS terjadi sebelum usia 6 bulan, mayoritas terjadi ketika anak berusia 1-4 bulan. Ini artinya, selepas dari usia anak 4 bulan, Paul dan timnya menyarankan agar orangtua sudah bisa berpisah kamar dengan anak.

Paul dan tim meng-klaim bayi yang tidur di kamar sendiri, akan mempunyai rutinitas tidur yang yang konsisten. Sementara bayi  yang berbagi kamar dengan orangtuanya bisa saja terpapar benda-benda lainnya yang bukan miliknya dan berpotensi terkena SIDS tadi. Tak hanya itu penyebab terjadi SIDS. Tinggal serumah dengan seorang perokok juga dicatat oleh American Academy of Pediatrics, menjadi salah satu penyebab SIDS.

Paul juga mengingatakan, jika anak tidur dengan orangtuanya. Anak akan merespon sesuatu yang sebetulnya tidak ia butuhkan, seperti gerakan-gerakan orangtuanya selama tidur.

Hasil rekomendasi ini, menurut hemat saya, terpulang lagi kepada mommies. Jika keadaan memungkinkan, seperti memang tersedia kamar untuk si kecil, sistem keamanan seperti baby monitor juga mumpuni, silakan saja dilakukan.

Tapi memang, saya pernah mendapatkan keterangan dari Mbak Vera Itabiliana, Psikolog Anak dan Remaja, yang menyarankan. Sebelum anak memasuki usia SD, sebaiknya sudah bisa tidur sendiri. Karena masa-masa SD, idealnya sudah bisa melakukan segala sesuatu sendiri, termasuk tidur di kamar sendiri.

Baca juga:

Mencegah Kematian Bayi di 28 Hari Pertama Kehidupannya

Tanda-Tanda Bayi Stres

Tips dari Sesama Ibu Tentang Trik Membuat Anak Cepat Tertidur


Post Comment