Diet Ketogenik, Benarkah Bisa Menurunkan Berat Badan Dengan Sehat?

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Diet Ketogenik yang lagi trend saat ini konon bisa menurunkan berat badan dengan cara yang menyenangkan. Pertanyaannya, sehat atau nggak?

Memasuki usia 30-an, ada satu topik yang sering sekali dibicarakan, yaitu diet. Dan sebagian besar fokus pada diet yang bisa bikin berat badan turun plus sehat.

Diet Ketogenik, Benarkah Bisa Menurunkan Berat Badan Dengan Sehat? - Mommies Daily

Kalau biasanya diet itu identik dengan pantangan makan ini itu, beberapa waktu lalu saya mendengar sebuah diet yang konon bisa dilakukan dengan cara menyenangkan. Menyenangkan dalam arti bisa makan yang enak-enak. Mulai dari steak, sosis, ayam panggang mentega, dan makanan lain. Diet ini ternyata mengutamakan asupan lemak dan protein, dan dikenal dengan diet ketogenik.

Penasaran, saya pun menanyakan tentang diet ketogenik atau diet keto ini pada seorang kawan yang kebetulan menjalani diet ini. Menurut pengakuannya, diet keto adalah diet yang seru dan menyenangkan. Syaratnya hanya mengurangi konsumsi karbohidrat dan mengurangi gula. Dalam aturan diet keto ini, pelaku diet juga tidak diperbolehkan terlalu banyak mengonsumsi sayuran. Efek yang dirasakan kawan saya saat pertama kali menjalani diet ini adalah pusing dan sedikit sulit buang air besar (yang menurut saya ini akibat kurangnya konsumsi sayur sebagai sumber serat).

Saya juga menanyakan tentang diet ini pada dr. Luciana, SpGK.

Menurut dokter Luci, Diet ketogenik adalah pola makan dengan asupan karbohidrat rendah, yaitu hanya 5 persen, dan dengan asupan lemak tinggi, antara 50 sampai 75 persen. Padahal, idealnya, pembagian asupan zat gizi makro ini sebaiknya karbohidrat 60 persen, protein 15 persen dan lemak 25 persen dari total kebutuhan kalori. Pembagian ini berdasarkan fisiologi tubuh. Dalam jumlah yang ideal tersebut, tubuh bisa menerima dan memanfaatkan zat gizi yang masuk ke dalam tubuh.

Secara sederhana, cara kerja diet ini seperti ini: tubuh yang biasanya bergantung pada karbohidrat sebagai sumber energi, kemudian beralih pada lemak sebagai sumber energi. Proses lemak untuk menjadi energi inilah yang disebut dengan ketosis. Dalam keadaan normal, kadar keton di dalam darah berkisar 0,17 mg/dL. Namun, karena kondisi ketosis tadi, darah kita jadi mengandung lebih banyak badan keton (produk lemak yang dihasilkan organ hati).

Saat tubuh kekurangan karbohidrat, sehingga kadar gula darah menurun, maka kadar badan keton di dalam darah akan meningkat. Selanjutnya, badan keton ini dipecah untuk menghasilkan energi dalam bentuk keton tersebut. Energi yang tercipta memang bisa digunakan sebagai sumber energi oleh beberapa organ tubuh seperti jantung, otot dan otak. Sayangnya, organ hati tidak dapat menggunakannya meskipun merupakan organ penghasil keton.

Menurut dokter Luci, diet ketogenik mungkin tidak berbahaya jika dilakukan dalam jangka waktu pendek dan selama peningkatan kadar keton masih normal, yaitu dengan konsentrasi 0,5-5 mM. Namun, jika kadarnya sangat tinggi, yaitu sekitar 15-25 mM, maka kondisi ini bisa berisiko tinggi terhadap kesehatan. Kadar keton yang terlalu tinggi disebut ketoasidosis. Keadaan ini bisa menyebabkan penurunan pH darah sehingga bisa menimbulkan berbagai gejala, salah satunya penurunan kesadaran hingga koma.

Baca juga:

6 Cara Sehat Pengelolaan Berat Badan

dr. Luci tidak menyarankan penggunaan diet ini dalam jangka waktu yang lama. Karena berdasarkan fisiologi tubuh dan penelitian, diet yang paling ideal adalah diet berdasarkan gizi seimbang. Selain itu, menyeimbangkan diet dengan olahraga juga sangat penting. Sebab, dengan berolahraga, maka tubuh, termasuk organ pencernaan akan terlatih sehingga metabolisme tubuh bisa terjaga.

Baca juga:

Bodypump, Angkat Beban yang Seru


Post Comment