Mengenal Penyakit Autoimun Pada Anak

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Seram, ya! Membayangkan tubuh tak bisa mengenali mana ‘teman’ dan mana ‘lawan’. Inilah yang terjadi saat seseorang menderta penyakit autoimun.

“Duh, berat amat bahasan lo Beb…”

Iya emang berat, apalagi kalau dibaca sore-sore begini, ahahaha. Tapi saya kan tipe orang penasaran, makanya mau membahas ini :D.

Memang, penyakit autoimun itu apa sih? Saat sistem kekebalan tubuh tidak mengenali jaringan yang sehat di dalam tubuh dan menyerang jaringan tersebut karena menganggapnya sebagai benda asing sehingga menyebabkan kerusakan organ, maka inilah yang disebut dengan penyakit autoimun.

Awalnya, saya pikir penyakit autoimun ini seperti penyakit bawaan. Ternyata, menurut dr. Meta Hanindita, SpA, dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya, dua jenis penyakit ini berbeda.

Mengenal Penyakit Autoimun Pada Anak - Mommies Daily

Pada penyakit autoimun, antibodi yang menyerang diri sendiri ini bisa terbentuk karena adanya rangsangan virus sebelumnya, sehingga antibodi ikut beredar ke seluruh tubuh dan dapat mengakibatkan kerusakan organ tubuh. Gangguan autoimun ini bisa memengaruhi satu atau lebih organ atau jaringan. Sedangkan pada penyakit bawaan (kongenital), kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur.

Satu atau bahkan lebih bagian tubuh itu seperti sendi, pembuluh darah, sel darah merah, otot, dan organ pankreas. Gejalanya juga bisa sangat bervariasi dan bisa tumpang tindih karena sifat penyakit autoimun yang bisa menyerang berbagai organ tadi. Jadi, tergantung pada organ mana penyakit ini memengaruhi. Sayangnya, saat terjadi pada anak, penyakit autoimun seringkali menampakkan gejalanya seperti gejala penyakit umum saja. Tapi, ada beberapa gejala yang bisa diamati sebagai gejala penyakit autoimun, seperti pusing, demam, kelelahan, mulut kering, penurunan berat badan, nyeri sendi, ruam kulit.

Ada 3 jenis penyakit autoimun yang biasa ditemukan pada anak, yaitu Diabetes Melitus tipe 1, Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA) dan penyakit lupus atau dikenal dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), meskipun jenis penyakit autoimun bisa sangat banyak.

Penyakit autoimun memang bisa muncul kapan saja. Tapi, untuk DM tipe 1 paling sering terdeteksi saat anak berusia 4-6 tahun atau setelah pubertas dini (usia 10-14 tahun). Sedangkan JIA biasanya akan terdeteksi saat anak berusia 7-12 tahun, tapi usia di atas atau di bawah itupun banyak terjadi. Berbeda dengan dua jenis penyakit autoimun ini, penyakit lupus yang lebih sering dialami oleh perempuan biasanya terdeteksi pada usia sekitar 12 tahun.

Baca juga:

Kontrol Diabetes dengan 5 Jenis Makanan Ini

Saat saya tanyakan pada dr. Meta, apa, sih yang anak-anak rasakan saat mereka menderita penyakit autoimun? Jawaban cukup membuat kaget, sebab memang hampir sama dengan penyakit umum. Misalnya pada anak yang sakit Lupus, biasanya anak yang datang ke dokter dalam keadan demam yang berkepanjangan, tampak pucat, lalu gejala lainnya mengikuti organ apa yang diserang. Bila organ yang diserang adalah jantung, maka anak bisa merasakan sesak napas. Bila yang diserang organ paru-paru, bisa jadi anak akan merasakan sesak napas dan nyeri dada. Makanya, jangan sepelekan sesak napas pada anak. Sementara bila otot yang diserang maka anak akan merasa nyeri sendi dan nyeri otot.

Baca juga:

Anak Anda Selalu Lemas, Waspada Myopathy

Lalu pada anak yang mengalami penyakit DM tipe 1, ia akan mengalami gejala layaknya orang dewasa yang mangalami DM tipe 2, yaitu banyak makan, banyak minum dan banyak kencing tapi berat badan turun terus. Harusnya, saat hal ini terjadi orangtua aware, tapi seringkali orangtua membawa anak ke RS sudah dalam keadaan tak sadar karena gula darah yang sangat tinggi. Meskipun demikian, karena diagnosis penyakit autoimun ini sulit, maka anak harus melewati banyak pemeriksaan fisik, laboratorium dan radiologi, untuk menegakkan diagnosis.

Ada yang bilang, orang yang sudah kena penyakit autoimun tidak bisa sembuh, namun dr. Meta menegaskan bahwa pengobatan tetap dapat dilakukan. “Pengobatan ini bertujuan untuk memastikan penderita bertahan dalam jangka waktu yang panjang, mencegah kerusakan organ lebih parah, mencapai level aktivitas penyakit yang paling rendah, meminimalisir efek toksik obat, memperbaiki kualitas hidup anak, dan mengedukasi pasien dan keluarganya mengenai peran masing-masing pada manajemen penyakit tersebut,” jelas dr. Meta.

Beberapa terapi pengobatan yang mungkin akan dilalui oleh anak-anak dengan penyakit autoimun antara lain seperti transfusi darah atau fisioterapi. Sedangkan pada anak yang menderita DM tipe 1, maka ia harus menjalani diet yang benar dan mengecek secara rutin kadar gula darah serta menyuntikkan insulin.

Menjadi orangtua memang harus meninggikan ‘antena’ saat anak mengalami sakit. Memang benar kita tak perlu panik berlebihan, namun meninggikan ‘antena’ untuk segera mencari pertolongan


Post Comment