Mengenali Coital Cephalgia, Gangguan Pusing Setelah Bercinta

Seharusnya sesi mesra-mesraan dengan suami jadi ajang pelepas stress. Tapi kalau setelah bercinta malah menimbulkan pusing bagaimana? Duh jangan-jangan alami Coital Cephalgia.

Setuju nggak, sih, kalau saya bilang aktivitas seksual bisa jadi ajang rekreasi? Saya ingat sekali ketika ngobrol dengan beberapa seksolog, mereka selalu bilang kalau hubungan seksual itu punya beberapa tujuan dan manfaat. Salah satunya ya itu, jadi ajang pelepas stress. Dan terakhir ketika saya kontrol ke dokter kandungan untuk melakukan HSG, dr. Soemanadi SpOG juga mengatakan hal yang serupa.

Hal lain yang nggak kalah penting, hubungan seksual tentu saja bisa membuat hubungan semakin intim dan bahagia. Setidaknya, Tom W. Smith, dalam American Sexual Behaviour Study mengatakan ada hubungan yang kuat antara perkawinan yang bahagia dan frekuensi hubungan seksual. Saya sendiri percaya aktivitas seksual yang sehat bisa memengaruhi aktivitas sehari-hari. Baik secara fisik ataupun psikologis. Untuk mencapai itu semua, kuncinya saat melakukan hubungan intim harus harus dilakukan tanpa tekanan.

Sayangnya, nih, meskipun hubungan seksual sudah dilakukan tanpa tekanan, tetap saja bisa menimbulkan masalah seperti sakit kepala. Ada yang pernah mengalaminya? Jadi, beberapa waktu lalu ada salah satu teman yang mengeluhkan hal ini di WAG. Teman saya cerita kalau belakangan ini, setelah melakukan hubungan intim dengan suami sering mengalami sakit kepala.

Coital Cephalgia-mommiesdaily

Mendengar keluhannya, saya lantas teringat dengan sebuah artikel yang pernah mengulas masalah ini. Di mana dalam artikel tersebut menuliskan kalau sebenarnya keluhan pusing setelah melakukan hubungan seksual umum terjadi. Istilah medisnya adalah coital cephalgia atau sakit kepala orgasme.

Saya pun akhirnya sempat menanyakan hal ini pada seksolog dr. Mulyadi Tedjapranata. Ia mengatakan kalau coital cephalgia disebabkan karena adanya tekanan darah yang naik saat orgasme akan memicu sakit kepala. Kondisi ini bisa dialami oleh perempuan ataupun lelaki. “Namun memang lebih dominan laki-laki yang lebih sering mengalami,” ujarnya

Coital Cephalgia ini sendiri ternyata terdiri dari beberapa jenis. Mulai dari early coital cephalgia di mana jenis ini ini merupakan gangguan yang paling singkat, dengan intensitas sakit kepala yang ringan hingga berat. Biasanya timbul karena adanya kontraksi otot yang berada di area kepala.

Selanjutnya adalah Orgasmic coital cephalgia, jenis yang paling umum terjadi terkait dengan aktivitas seksual, yang disebabkan oleh naiknya tekanan darah sesaat setelah orgasme. Sedangkan late coital cephalgia merupakan sakit kepala yang terjadi ketika berdiri dan dengan onset yang lebih lama.

Untuk orgasmic coital cephalgia sebenarnya tidak perlu khawatir yang berlebihan, karena rasa pusing yang dialami akan hilang beberapa menit kemudian. Lagi pula, pada banyak kasus gangguan orgasmic coital cephalgia ini memang belum terekam sebagai gangguan medis yang cukup membahayakan.

Meski begitu, bukan berarti bisa disepelekan dan dianggap remah juga, sih. Soalnya, nih, kalau memang mengalami pusing-pusing setelah melakukan hubungan seksual bisa mengindikasikan kalau tubuh memang kurang bergerak sehingga membuat otot dan aliran darah kaku.


Post Comment