Kualitas Sperma Bisa Banget Ditingkatkan Lho

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Nggak cuma berat badan aja yang bisa ditingkatkan, kualitas sperma juga bisa ditingkatkan mom, hahaha. Mau tahu bagaimana caranya?

Beberapa waktu lalu, banyak cerita tentang momongan berseliweran di sekitar saya. Mulai dari beberapa pasangan muda yang berencana menunda momongan, sampai adu argumen dari mereka yang menganggap bahwa menikah itu ya memang untuk punya anak.

Saya sih nggak pro salah satu. Hanya jadi penasaran juga, tentang keinginan menunda anak itu, kalau usia semakin tua, pengaruh nggak ya pada kualitas sperma :D. Takutnya nanti malah timbul masalah baru. Gara-garanya, saya menemukan sebuah penelitian di University of Otago, Selandia Baru, tahun 2014, mengatakan kalau kualitas sperma makin menurun seiring bertambahnya usia. Sehingga, akan ada potensi gangguan kesuburan nantinya. Nah, lho!

Baca juga:

Pilihan Pekerjaan Juga Pengaruhi Infertilitas

Dari membaca penelitian ini, saya beralih ngobrol dengan dr. Anita Gunawan, MS, Sp.And dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Atas nama rasa penasaran, hehehe. Menurut dokter Anita, terdapat 3 kategori yang menjadi pengukur kualitas sperma. Di mana 3 kategori ini akan mencapai tingkat optimalnya pada periode usia tertentu.

Kualitas Sperma Bisa Banget Ditingkatkan Lho - Mommies Daily

“Usia 25-35 itu maksimum kesuburan. Sesudah itu, kualitas sperma umumnya akan menurun,” jelas dokter Anita. Pada rentang waktu tersebut, tidak ada perbedaan kualitas sperma sepanjang syarat kesehatan terpenuhi. “Selama memiliki kondisi kesehatan tubuh dan kesehatan seksual yang prima, maka hasil pemeriksaan sperma tidak menunjukkan perbedaan di antara usia-usia itu,” jelasnya. Namun jelas ada perbedaan kualitas sperma yang dihasilkan oleh pria di periode puncak kesuburan dengan manula. Walaupun, sel sperma terus diproduksi sepanjang usia.

Mengecek kualitas sperma hanya bisa dipantau dengan tes spermiogram. Tiga kategori meliputi jumlah (konsentrasi), kecepatan (motilitas), dan bentuk (morfologi).

Standar WHO menyebutkan, 15 juta sperma per mili-liter merupakan kadar normal. Kecepatan pergerakan juga diperlukan sperma untuk mencapai sel telur agar terjadi proses pembuahan. Tanpa motilitas itu, sperma akan sulit membuahi.

Baca juga:

Para Suami Jangan Hanya Salahi Istri Jika Belum Memiliki Anak

Sementara, bentuk sel sperma terkait dengan kesehatan sel itu sendiri dan keturunan yang dilahirkannya. Perubahan bentuk sel harus diperhatikan karena mengindikasikan kandungan genetik di dalamnya. Penyimpangan bentuk sperma yang signifikan bisa menyulitkan terjadinya pembuahan ataupun menimbulkan masalah kelainan kromosom pada janin. Misalnya, peningkatan risiko Down Syndrome.

Bank sperma di Israel, pada 2012, melaporkan bahwa kualitas sperma telah menurun drastis selama 10 sampai 15 tahun terakhir. Indikasinya, konsentrasi sperma dalam sampel yang dikumpulkan oleh bank turun 37 persen.

Dokter Anita juga mengakui, ada faktor lain yang berpengaruh terhadap kondisi kesuburan pria di samping faktor usia. Pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan ternyata punya andil besar dalam menentukan kualitas sperma. Pola makan yang tidak sehat, seperti terlalu banyak makanan berlemak dan gula bisa meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Hal tersebut mengakibatkan penurunan kualitas sperma.

Tak hanya makanan, jenis penyakit berat, seperti TBC dan infeksi organ-organ reproduksi pun berpotensi memengaruhi kualitas sperma. Juga kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi alkohol. Nikotin dalam rokok berdampak seperti racun yang dapat merusak kepala sperma. Akibatnya, sperma akan mengalami kesulitan untuk dapat menembus dinding sel telur.

Walau demikian, dokter Anita menyebut adanya kabar baik. Kualitas sperma yang mulai menurun bisa dicegah dengan menerapkan gaya hidup sehat. Misalnya dengan mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi seimbang, memperbanyak konsumsi antioksidan (asam folat, vitamin C, zinc, dan vitamin E), serta berolahraga secara teratur. Hindari juga kebiasaan seperti berendam di dalam air panas terlalu lama serta mengenakan celana yang ketat. Peningkatan suhu pada testis akan berisiko menurunkan jumlah sperma.

Saya juga menanyakan tentang mitos rutinitas hubungan intim terhadap kualitas sperma. “Kalau (sperma) dikeluarkan tiap hari juga tidak sehat. Kantung sperma itu penyimpanannya penuh rata-rata setelah tiga hari. Itu periode yang dianggap wajar (untuk berhubungan),” terangnya. Pada intinya, dokter Anita menganjurkan gaya hidup sehat dan setia pada pasangan. Jika mampu melakukan semua itu, bukan tak mungkin kualitas sperma pria yang ada di batas usia subur pun bisa lebih baik dibandingkan mereka yang masih berada di pertengahan rentang usia subur.

Jadi para mommies, silakan cek kualitas sperma pasangan ya, hehehe.

Baca juga:

Sulit Hamil, Jangan-jangan Alergi Sperma


Post Comment