Pilihan Pekerjaan Juga Pengaruhi Gangguan Infertilitas

Tahukah Mommies kalau pilihan pekerjaan juga pengaruhi gangguan infertilitas?

Saya yakin, rata-rata pasangan yang sudah menikah akan mendambakan kehadiran seorang anak. Sayangnya, memiliki keturunan bukan perkara yang mudah. Setidaknya hal ini sudah saya lihat dari lingkungan terdekat, tidak sedikit teman ataupun keluarga yang butuh proses panjang untuk mendapatkan anak. Dan kini, untuk mendapatkan anak ke-2, saya pun bisa merasakannya. Kesulitan tambah anak bisa saja dikarenakan mengalami infetilitas sekunder.

kadar testosteron rendah

Baik pihak pria ataupun perempuan sama-sama punya faktor pencetus masalah infertilitas. Tanpa disadari ternyata pilihan pekerjaan atau profesi juga bisa berisiko mengganggu kesuburan atau infertilitas, lho. Sayangnya, diagnosa ini memang tidak banyak yang menyadari karena kurangnya pemahaman masyarakat. Akibatnya, tidak sedikut pasangan khususnya kaum pria yang baru sadar hal ini setelah bertahun-tahun menikah dan tidak kunjung memiliki  keturunan.

Dr.Kasyunnil Kamal, dokter spesialis okupansi dari RS Bunda Jakarta mejelaskan, pada dasarnya ada 4 faktor yang memengaruhi kesuburan pria, yaitu faktor kimia, fisika, psikologi, dan campuran. Sementara bahaya dari pekerjaan biasanya adalah faktor kimia dan fisika.

Pria yang sering terpapar panas, bahan kimia, atau radiasi, dapat memengaruhi kualitas dan jumlah sperma. Radiasi juga bisa menyebabkan sperma jadi ‘menghilang’ dalam cairan semen.  Perlu diketahui, paparan panas baik dari matahari maupun mesin berpotensi menurunkan jumlah sperma, motilitas atau kecepatan gerak sperma ke dalam indung telur dan perubahan pada bentuk sperma.

Ia memaparkan, efek yang mungkin ditimbulkan di lokasi pekerjaan di antaranya paparan panas yang berpotensi menurunkan jumlah sperma, motilitas atau kecepatan gerak, dan perubahan bentuk sperma. Radiasi di tempat kerja seperti radiasi pengion atau radiasi yang bermuatan listrik diketahui dapat menyebabkan ketiadaan sperma dalam cairan semen (azoospermia).

“Radiasi di tempat kerja layaknya radiasi pengion bermuatan listrik diketahui dapat menyebabkan ketiadaan sperma dalam cairan semen (azoospermia). Bahkan radiasi non pengion elektromagnetik dengan energi rendah layaknya inframerah dan gelombang mikro, dapat juga menurunkan jumlah motilitas sperma. Misalnya saja microwave atau medan elektromagnetik,” jelasnya.

Di kesempatan yang sama, dr.Sigit Solichin, spesialis urologi, mengatakan sebenarnya semua bidang pekerjaan bisa saja memiliki riskiko. Namun beberapa pekerjaan pria yang bisa menimbulkan gangguan infertilitas antara lain adalah pengemudi profesional, pekerja pabrik bahan kimia, tukang las.

Dijelaskan dr.Sigit Solichin faktor risiko infertilitas ini memang tidak terjadi secara tiba-tiba, namun dikarenakan seorang pria sudah terpapar dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus.  Untuk meminimalkan risiko, maka dr.Sigit Solichin mengingatkan agar semua pasangan suami istri, dalam hal ini calon ayah, perlu menjaga kesehatan dengan menjalankan pola hidup sehat, berolahraga rutin, kebiasaan merokok dan minum alkohol tentu saja perlu dilakukan. Yang tidak kalah penting adalah mengendalikan stress.


Post Comment