Ciptakan Lingkungan Kondusif untuk Atasi Anak Kecanduan Game Online

Anak sering uring-uringan ketika nggak dapat jatah main game? Merasa ‘terganggu’ atau gelisah? Jangan-jangan si kecil sudah mulai kecanduan. Game online memang dirancang khusus agar orang yang memainkannya bisa ketagihan. Untuk itu, yuk, ketahui bagaimana harus bersikap.

Topik anak dan gadget khususnya ketertarikan mereka terhadap game online mamang tidak ada habisnya untuk terus diulas, ya. Saya saja yang sering mendapat teori dari pakar psikolog, para praktiknya masih suka bingung bagaimana menghadapinya.

Saya dan suami pernah dibuat kesal lantaran anak kami, Bumi, sering ogah-ogahan kalau diajak pergi saat akhir pekan. Soalnya jatah dia main game mamang hanya saat akhir pekan saja. Begitu ada acara, dia pun malas ikut lantaran merasa jatah main game jadi berkurang. Ternyata yang senasib dengan saya juga ada kok, beberapa teman juga mengaku marasakan hal yang serupa.

bermain-gadget-2

Nah, beberapa waktu lalu saya sempat datang ke acara media edukasi yang dilangsungkan Australia Independent School (AIS) soal anak kecanduan game. Workshop ini sebenarnya merupakan bagian dari program Social and Emotional Thinking (SET) untuk orangtua yang diadakan untuk orangtua siswa AIS.

Menurut pengajar Social and Emotional Thinking (SET) Australia Independent School (AIS), Linzi Band, ada beberapa tanda yang bisa orangtua lihat dari perilaku anak bila kecanduan game online. Apa saja?

  1. Anak nampak merasa terganggu bila tidak bisa bermain game online.
  2. Jarang berbicara, jika berbicara hanya sedikit membicarakan hal lain.
  3. Sering berbohong kepada saudara atau orang tua mengenai lama waktu bermain game online. Contohnya, nih, anak jadi mengaku bermain 10 menit saja kok. Padahal kita tahu kalau anak sudah bermain lebih lama dari 10 menit.
  4. Anak terlihat lelah. “Bisa jadi karena ia kurang tidur gara-gara bermain game online,” kata Linzi
  5. Punya ikatan emosi kuat dengan teman-teman di dunia online.
  6. Sering pusing
  7. Memilih bermain game online daripada bermain dengan teman-teman lainnya.

Meskipun  mengatasi anak yang sudah kecanduan game, nggak gampang, tapi sebenarnya ada hal yang bisa dilakukan, kok. Salah satunya tentu dengan menciptakan lingkungan yang kondisif, dalam hal ini erat kaitannya dengan adanya kerja sama antara orangtua dan sekolah.

Seperti yang dipaparkan Brenton Hall, Principal of AIS Indonesia, “Model kerja sama bisa dilakukan dengan cara memberikan workshop mengenai gaming addiction agar orang tua dapat mengenal tanda-tanda kecanduan game dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif.”

Sementara Linzi Band, pengajar program Social and Emotional Thinking (SET) memberikan beberapa tips yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa langkah yang bisa kita lakukan adalah:

  • Tunjukan kalau kita punya ketertarikan pada kegiatan si anak, termasuk mencoba memahami daya tarik dari games online yang dimainkan oleh anak. Meskipun saya nggak terlalu suka main game, setiap kali Bumi sedang bermain, saya pun berusaha sok kepo dengan game yang sedang dimainkan. Setidaknya kita juga bisa tahu apakah game yang dipilih anak cocok atau tidak untuk seusianya.
  • Batasi akses internet dengan sehat. Kalau saya, sejauh ini memberikan jatah Bumi main game hanya saat akhir pekan saja atau sedang libur, itupun hanya 30 menit persesi, di pagi, siang dan sore hari.
  • Mematikan WifI pada jam-jam tertentu, terutama jam belajar dan istirahat. Kebetulan di rumah saya memang ada wifi, sepertinya langkah ini bisa saya lakukan ketika akhir pekan, lagi pula cara ini pun juga bisa membatasi saya dan suami untuk nggak fokus dengan gadget pribadi. Terasa lebih adil kan?
  • Buat kesepakatan bersama pada semua anggota keluarga untuk tidak menggunakan gadget pada jam tertentu, dan erea tertentu, seperti saat saat makan bersama di meja makan.
  • Satu lagi yang nggak kalah penting adalah menggandeng pihak sekolah untuk saling mendukung pembatasan penggunan games online.

Post Comment