BPJS : Masalah yang Mungkin Muncul

Ditulis oleh: Nina Samidi

Mungkin saja ada masalah yang muncul dengan menjadi peserta BPJS Kesehatan. Agar tidak mengalaminya, mari kenali dulu masalah yang mungkin muncul.

Masalah pada BPJS

Saya pernah bertanya ke beberapa teman tentang apakah saya mesti ikut BPJS Kesehatan juga? Saya pikir, saya akan dapat berbagai jawaban negatif karena dengar-dengar peserta BPJS Kesehatan banyak kena masalah saat berobat. Mulai dari prosedur yang ribet sampai pelayanan yang diskriminatif di Rumah Sakit. Tapi, ternyata tidak juga. Banyak respon positif yang mengatakan bahwa saya harus segera mendaftar karena sudah banyak teman yang berhasil mendapat jaminan atas seluruh biaya pengobatan keluarganya. Ada yang ibunya harus operasi, anaknya dirawat karena DB, hingga yang melahirkan.

Tapi tentu, ada juga masalah yang bisa muncul. Seperti di bawah ini.

1. Tidak bisa klaim atau kartu terblokir

Yang ini alasannya sangat sederhana, kemungkinan terbesarnya adalah ada tunggakan pembayaran iuran. Meskipun yang klaim sakit adalah si anak, misalnya, tapi jika ada iuran anggota keluarga lain, misal si ayah, belum dibayar maka klaim anak tidak bisa dilakukan. Karena itu, sangat penting untuk membayar iuran tepat waktu, yaitu sebelum tanggal 10 setiap bulannya, untuk seluruh keluarga. Untuk membuka blokir, cukup bayar lunas tagihan iuran yang terlambat (tanpa denda!). Kalau blokir tidak otomatis terbuka, datang ke kantor BPJS Kesehatan terdekat untuk pembukaan secara manual. Ingat ya Moms, kalau sampai terlambat bayar iuran lalu terblokir, saat Anda buka blokir dan langsung dipakai untuk pengobatan (sebelum 45 hari sejak buka blokir), Anda akan kena denda 2,5% dari total biaya pengobatan.

2. Ditolak rumah sakit

Semua klinik maupun RS yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan harus menerima pasien peserta BPJS Kesehatan. Jika ada yang menolak, kita bisa segera melaporkannya ke kantor BPJS Kesehatan terdekat. Namun kita juga harus melihat kemungkinan penyebab lain kenapa klaim kita ditolak. Yang banyak terjadi, klaim seseorang ditolak di RS dikarenakan dia tidak mengikuti prosedur yang diwajibkan bagi setiap peserta. Yang paling sering terjadi adalah peserta tersebut tidak dulu memeriksakan kesehatannya atau melapor ke faskes 1 (puskesmas/klinik daerah ia mendaftar), melainkan langsung datang ke RS. BPJS Kesehatan cukup ketat soal ini karena dia memakai sistem rujukan. Setiap peserta yang hendak klaim, meskipun tahu bahwa penyakitnya hanya bisa ditangani di RS yang dimaksud, harus tetap datang dulu ke faskes tingkat 1 yang tertera di kartunya, baru nanti dirujuk ke RS. Kita bisa langsung ke RS hanya jika langsung ke UGD. Kunci pelayanan BPJS Kesehatan tetap lancar adalah pada prosedur. Asal tertib pada aturan yang berlaku, klaim akan lancar.

3. Harus berobat di kota lain

Peserta BPJS Kesehatan yang mengalami sakit dan harus berobat di kota lain, otomatis bisa datang ke fasilitas kesehatan 1 (puskesmas/klinik) setempat. Jika sakit cukup berat, akan dirujuk ke faskes tingkat berikutnya (RS). Namun ini hanya bisa dilakukan maksimal 1 kali dalam sebulan dengan asumsi Anda sudah kembali ke kota asal tidak lama setelah itu jika pengobatan masih harus dilakukan.

4. Tidak bisa naik kelas kamar perawatan

Jawabannya sederhana, bisa jadi ini dikarenakan kita terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan Kelas 3. Permintaan pindah kelas saat dirawat di RS hanya bisa dilakukan untuk Kelas 2 ke Kelas 1, tidak bisa dari Kelas 3 ke Kelas 2 atau 1. Karena itu, pikir dulu baik-baik kita mau daftar di kelas mana ya, Moms. Saya, misalnya, mendaftar di Kelas 2 karena iurannya masih termasuk murah untuk kami sekeluarga tapi masih bisa pindah ke Kelas 1 jika sewaktu-waktu terpaksa dirawat di RS. Untuk pindah ke Kelas 1, kita hanya tinggal menambah selisih iuran, yaitu sebesar 29 ribu.

5. Ditolak RS karena kamar inap penuh

Solusinya adalah dengan meminta kenaikan kelas kamar. Menurut aturan, jika ruang rawat inap sesuai kelas peserta penuh maka Peserta BPJS Kesehatan memiliki hak untuk naik Kelas 1 tingkat di atasnya. Misal kita terdaftar sebagai peserta di Kelas 2, maka ketika ruang inap Kelas 2 penuh, kita bisa mengajukan naik ke ruang rawat inap Kelas 1 , namun masimal tiga hari saja. Jika kelas perawatan sesuai kelas telah tersedia, maka peserta dipindah ke kamar tersebut. Namun jika tak juga tersedia dan kenaikan kelas lebih dari tiga hari, maka selisih biaya ditanggung RS bersangkutan atau dirujuk ke faskes yang setara dan berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan.

Baca juga:

5 Alasan Kenapa Harus Ikut BPJS

Benarkah Daftar BPJS Ribet?


Post Comment