Sulit Tambah Anak? Jangan-jangan Alami Infertilitas Sekunder

Tambah momongan teryata nggak segampang yang saya kira. Saya pun jadi khawatair, jangan-jangan mengalami infertilitas sekunder?

Buat Mommies yang sering baca artikel-artikel yang saya tulis, mungkin sudah ngeh, kalau saat ini saya dan suami sedang merencanakan untuk tambah anak. Iya, saya mau hamil (lagi). Bahkan hal ini sudah kami rencanakan kurang lebih dari tiga tahun yang lalu. Langkah pertama yang saya lakukan tentu saja membuka ‘pengaman’ lebih dulu.

infertilitas

Tapi, setelah 3 tahun, saya kok, belum kunjung hamil, ya? Bahkan kerinduan untuk punya anak  bukan saja saya dan suami  rasakan, anak kami, Bumi, pun merindukan kehadiran adik. Entah berapa puluh kalimat tanya yang ia lontarkan mengapa ia belum  juga punya adik. Hahahhaa…. ternyata menjawab pertanyaan anak sendiri, lebih sulit ketimbang ada pihak luar yang mempertanyaan soal kapan hamil..

Belum lama ini saya sempat mengikuti media edukasi di Rs. Bunda, Jl Teuku Cik Ditiro, Jakarta. Waktu itu, salah satu narasumber, dr Sigit Solichin SpU mengatakan, kalau ada pasangang suami istri yang sudah punya riwayat kehamilan, namun sulit ketika ingin menambah anak, bisa saja yang terjadi pasangan tersebut adalah infertilitas sekunder. Nah, lho!

Untuk memastikannya apakah pasangan pasutri alami infertilitas sekunder atau tidak, tentu saja diperlukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter. Pada dasarnya, infertilitas ini terbagi menjadi dua, infertilitas sekunder dan infertilitas premier.

Infertilitas bisa diartikan apabila seorang isteri belum berhasil hamil walaupun sudah melakukan hubungan seksual seca aktif dan teratur selama 12 bulan berturut-turut. Sementara infertilitas sekunder artinya jika istri pernah hamil akan tetapi tidak berhasil hamil lagi walaupun bersenggama secara teratur dan dihadapkan pada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut.

Oleh karena itulah dr. Sigit menegaskan “Dilihat saja kalau dalam waktu satu tahun pasangan berhubungan intim dengan rutin, tanpa pakai kontrasepsi tapi istri nggak hamil-hamil, patut dicurigai dan diperiksakan”.

Menurut dr. Sigit ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang alami infertilitas sekunder. Namun, biasanya pasangan yang mengalami kesulitkan untuk mendapatkan anak kedua seperti saya, terjadi terjadi pada pasangan usia reproduktif. Untuk perempuan yang usianya sudah 35 tahun, juga mempunyai beberapa risiko yang membuat untuk sulit hamil.

Tapi, faktor pemicu sulitnya mendapatkan anak ke-2 bukan hanya karena sel telur pada perempuan makin berkurang, lho. Pihak laki-laki atau para suami juga punya andil yang cukup besar, karena suami pun bisa mengalami infertilias. Waktu itu dr. Sigit menjelaskan kalau 50 % faktor infertilitas berasal dari pihak suami. Sebab infertilitas pria sekitar 30-40% memang tidak diketahui atau ditemukan kelainan.

Selain itu, penyebab lainnya suami mengalami infertilitas karena varikokel dengan persentase 15,6%. Disusul dengan kondisi biji kemaluan yang tidak turun ke kantong kemaluan sebanyak 7,8%. Adanya infeksi saluran kemih, gangguan cairan sperma, sumbatan di vas deferens, faktor imunolog hingga ada kelainan lainnya yang tidak bisa diketahui secara pasti juga bisa menyebabkan terjadinya infertilitas. Pernyataan ini semakin menguatkan kalau sudah seharusnya pasangan suami istri nggak saling menyalahkan karena infertilitas ini bisa terjadi pada suami ataupun istri.

Saya sendiri sebagai pihak perempuan juga cukup sadar diri, biar bagaimanapun, sejak kehamilan pertama 6 tahun lalu, hingga punya rencana hamil lagi, tentu bisa saja terjadi perubahan pada organ reproduksi. Perubahan ini bukan tidak mungkin menyebabkan proses kehamilan menjadi lebih sulit.

Oh, ya, satu hal yang penting dan perlu digaris bawahi, ternyata faktor kualitas hubungan seksual juga perlu diperhatikan. Berhubungan intim setiap hari ternyata memang tidak disarankan karena kondisi dan kualitas sperma belum baik. Untuk itu aktivitas hubungan seksual ini disarankan setidaknya dua atau tiga kali dalam seminggu. Menurut dr Sigit rentang waktu ini dianggap cukup longgar karena bisa meningkatkan kualitas sperma menjadi lebih baik


Post Comment