Mengapa Perempuan di Atas Usia 35 Tahun (Lebih) Susah Hamil?

Mengingat usia sudah nggak muda lagi, saya pun mulai was-was kenapa saya susah untuk hamil (lagi). Saya sempat berpikir apakah hal ini disebabkan karena saya sempat menunda? Benarkah demikan? Berikut penjelasan dr Yassin Yanuar, SpOG, MSc, dari RS Pondok Indah.

Merasa familiar nggak, dengan pandangan yang mengatakan kalau menunda punya anak bikin susah hamil? Iya, sampai saat ini memang nggak sedikit masyarakat yang mengaggap kalau menunda kehamilan berakibat dengan sulitnya mendapatkan anak. Terus terang saja, dulu awalnya saya sempat ‘termakan’ dengan omongan  ini.

Hadiah untuk ibu melahirkan

Tapi benarkah demikian? Ternyata menurut dr Yassin Yanuar, SpOG, MSc, dari RS Pondok Indah hal merupakan pandangan yang keliru. Bahkan bisa dibilang cuma mitos. Justru katanya, sesudah lepas IUD atau meminum pil KB perempuan bisa cepat hamil.

Lalu, kenapa saya susah hamil yaaaa? Ternyata selain masalah infertilitas yang harus diperiksakan lebih dalam lagi, apabila perempuan menunda punya momongan tanpa disadari akan memengaruhi jumlah sel telur. Soalnya, penundaan ini bisa jadi menyebabkan gangguan infertilitas hingga penuaan reproduksi.

“Cadangan ovarium yaitu jumlah dan kualitas sel telur pada usia tertentu. Secara alami, seiring bertambahnya usia, sel telur wanita akan berkurang karena wanita mengalami penuaan reproduksi. Berbeda dengan pria yang selalu bisa menghasilkan sperma,” tutur dr Yassin.

Wah, ternyata selain berisiko mengalami penuaan pada kulit, perempuan juga bisa mengalami penuaaan pada sistem reproduksinya! Begitu mendengar fakta ini, jelas bikin saya khawatir. Menurut dokter kandungan yang praktik di RS. Pondok Indah ini, saat lahir, jumlah sel telur perempuan berjumlah sekitar 700 ribu. Kemudian lambat laun akan mengalami penurunan hingga saat pubertas, tinggal 400 ribu. Saat berusia 37 tahun, jumlah sel telurnya makin kurang hingga menjelang menopause jumlahnya sekitar 25 ribu.

Dalam hal ini dr. Yassin menjelaskan kalau ada dua aspek yang memengaruhi kemampuan produksi sel telur, yaitu usia kronologis ovarium dan usia biologis ovarium. Yang dimaksud dengan dengan usia kronologis adalah usia atau angka yang sesuai dengan tanggal lahir. Sementara usia biologis berhubungan dengan cadangan ovarium pada wanita yang mengalami penurunan seiring bertambahnya usia dalam rentang waktu yang cepat atau lambat.

Angka penuaan reproduksi pada perempuan juga tidak sama, tapi ternyata faktor genetik dan lingkungan juga punya andil besar pada penuaan ovarium secara biologis yang menyebabkan cadangan ovarium menurun. Akibatnya, usia kronologis bisa lebih tua daripada usia biologis.

Oleh karena itu, dr. Yassin menegaskan bagi pasangan atau perempuan yang ingin memiliki anak (lagi) seperti saya penting sekali untuk mengetahui usia biologis ovariumnya. Sehingga dapat mengetahui secara jelas kendala apa saja yang perlu diperhatikan. Nggak bisa dipungkiri, kan, semakin cepat mendapat penanganan yang tepat maka peluang untuk mendapatkan anak pun akan semakin besar.