Para Suami, Jangan Hanya Salahkan Istri Jika Belum Memiliki Anak

30% sampai 45% infertilitas justru disebabkan oleh laki-laki, jadi sangat besar faktor suami yang menyebabkan tidak punya anak. So, please do not blame the other spouse.

Belum lama ini salah satu teman saya semasa SMA sempat curhat. Dia bilang kalau hidupnya makin tertekan, bahkan pernikahnnya sedang berada di ujung tanduk. Kalau banyak pasangan yang sering mengalami masalah penikahan lantaran ada salah satu pasangan yang selingkuh, atau akibat perekonomian, pemicu perceraian teman saya justru lantaran dirinya belum juga dikaruniai momongan.

Setelah merasa terganggu dengan banyaknya pertanyaan ‘kapan hamil’, ternyata sang suami yang seharusnya bisa menjadi super support system yang baik untuknya justru sering kali menyudutkan dengan menganggap kalau sulitnya mendapatkan keturunan lantaran teman saya ini mengalami ketidaksuburan.

Wait…. what?

Bukankah masalah hamil ini dipengaruhi banyak hal? Bukankah ketidaksuburan bisa terjadi pada siapa pun? Baik pihak perempuan ataupun pria? Lalu kenapa pihak perempuan yang disalahkan?

infertilitas pada pria

Mendengarnya jelas bikin saya kesal. Sayangnya, dalam hal ini memang masih saja banyak orang yang mengkambing hitamkan pihak perempuan. Banyak yang nggak sadar kalau  pasangan yang sudah lama menikah dan belum juga mendapatkan anak, kemungkinan besar memang ada yang salah pada sistem reproduksi, ketidaksuburan yang sebabkan kegagalan kehamilan juga banyak disebakan masalah pada sistem reproduksi suami.

Kebetulan beberapa waktu lalu saya sempat mengikuti diskusi media soal  yang dilangsungkan RS. Pondok Indah, Jakarta. Waktu itu, dr Yassin Yanuar MIB, SpOG, MSc mengatakan bahwa faktor pria juga menyumbang infertilitas atau ketidaksuburan .

“Istri duluan, deh, yang periksa karena suami masih sibuk kerja. Jelas ini pemahaman yang salah dan harus dihentikan karena antara suami dan istri punya peran yang sama dalam menyebabkan infertililas, jadi equal. 30 sampai 45% infertilitas jutsru disebabkan oleh laki-laki, jadi sangat besar faktor suami yang menyebabkan tidak punya anak. Setelah itu penyebabnya dalah faktor ketidaksuburan perempuan dan terakhir faktor yang memang tidak diketahui penyebabnya. Unexplained, jadi sudah diperiksa dua-duanya tapi nggak ada apa-apa.”

Dr. Yassin juga menjelaskan kalau WHO pernah mirilis data kalau 1  dari 4 pasangan di negara berkembang mengalami infertilitas. Bagaimana di Indonesia? “Ada data 2008, ada gangguan kesuburan sebanyak 10%-15% artinya ada 4 juta pasangan yang mengalami gangguan kesuburan di Indonesia. Ini di luar masalah over populasi di Indonesia karena di sini memang masih terjadi ketimpangan antara yang susah punya anak dan gampang punya anak tidak terkontrol juga banyak.”

Nggak berbeda dari jauh dari penyebab infertilitas pada perempuan, faktor yang menyebabkan ketidaksuburan pada pria juga dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah pola gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, alkhohol, narkoba, faktor usia, dan organ vital yang sering terpapar panas. Misalnya pria yang senang mandi uap, mandi air panas.  Oh ya, menyimpan HP dalam kantung celana juga menyebabkan sperma menjadi abnormal.

Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan jumlah atau kualitas sperma yang dikeluarkan laki-laki. Di samping itu kondisi sperma ang sedikit atau cacat juga bisa dikarenakan faktor genetik. Dengan demikian, sperma pun akhirnya bisa tidak sampai ke saluran telur dan membuahi sel telur hingga pembuahan terjadi.

Selain karena faktor sperma yang sedikit dan bentuknya tidak normal, ketidak suburan pria juga bisa dikarenakan adanya gangguan di ‘pabrik’ dan saluran sperma. Seperti yang dipaparkan dr Yassin Yanuar MIB, SpOG, MSc, masalah pada saluran tempat didistribusikannya sperma, mulai dari testis, epididimis, sampai saluran kencing, bisa memengaruhi kesuburan. Begitu juga dengan masalah pada pabrik yang memproduksi sperma di testis. Apabila ada masalah pada hal ini maka sperma dapat tetap diambil untuk membuat kehamilan. Caranya, dengan terapi  Inseminasi Intraurin (IUI) atau penyuntikan sperma ke rahim wanita atau program bayi tabung (IVF).

Oleh karena itulah saat melakukan pemeriksaan kesuburan memang harus dilakukan oleh dua belah pihak, baik isteri dan suami. Seperti yang dikatakan dr. Yassin, mungkin saja suami punya masalah azospermia atau masalah hormon. Jika, ya, maka dokter urologi atau andrologi bisa menentukan penyebabnya sekaligus menentukan tindakan selanjutnya.