Pelecehan Seksual, Bisakah Dihentikan?

Pelecehan seksual pada perempuan masih sering terjadi. Tentu saja kita semua tahu, bahwa hal ini harus segera dihentikan, Masalahnya, pelecehan seksual, bisakah dihentikan?

Sakit hati, sedih, malu, marah, kesal, dan igin menangis adalah  sebuah reaksi umum dan sangat wajar jika seorang perempuan mendapatkan pelecehan seksual. Jangankan dipaksa untuk melakukan hubungan seksual oleh orang yang tidak dikenal, area tubuh sengaja disentuh saja rasa sakit hatinya bukan main.

Hampir 5 tahun yang lalu saya sempat menjadi korban pelecehan seksual. Saat pulang kerja, dan sedang berjalan ke arah angkutan umum di pinggir taman di daerah Hang Jebat, tahu-tahu ada motor yang jalan melambat dan terlihat ingin menghamipiri saya. Semula saya pikir, si pengendara motor ingin menanyakan jalan, ndilalahnya dia malah mendekat hanya untuk memegang area dada saya. Sontak saat itu saya langsung shock dan langsung berteriak. Sayangnya, saat itu area taman dan jalan memang sangat sepi, si pengendara motor pun langsung menancapkan gasnya.

Nggak terasa air mata juga lantas mengucur di pipi. Sedih dan traumanya bukan kepalang.

pelecehan seksual

Pelecehan seksual sendiri bisa diartikan sebagai setiap bentuk perilaku yang memiliki muatan seksual yang dilakukan seseorang atau sejumlah orang namun tidak disukai dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan akibat negatif, seperti: rasa malu, tersinggung, terhina, marah, kehilangan harga diri, kehilangan kesucian, dan sebagainya, pada diri orang yang menjadi korban.

Saya pernah membaca sebuah berita yang menyebutkan kalau pelecehan seksual pada perempuan masih terus  meningkat. Setidaknya, Komisi Nasional (KomNas) Perempuan mencatat selama tahun 1998 hingga 2010, kebanyakan dari kasus kekerasan terhadap perempuan adalah kasus kekerasan seksual. Selain itu, data Komnas Perempuan menyebutkan sepanjang 2014 kalau jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan mencapai 293.220, artinya setiap dua jam tiga perempuan menjadi korban kekerasan seksual. Belum lagi banyaknya berita kasus pelecehan yang mengarah pada kekerasan seksual yang bikin sesak napas saat membacanya.

Apa saja, sih, contoh pelecehan seksual pada perempuan? Tentu saja banyak, nggak hanya tindakan fisik meraba-raba tubuh korban dengan tujuan seksual yang sempat saya alami dulu, mendapat siulan ‘nakal’ dari seorang  pria yang tidak kita kenal saja sudah termasuk tindakan pelecehan seksual.  Termasuk  lelucon-lelucon cabul yang diucapkan di hadapan sasaran lelucon juga termasuk tindakan pelecehan seksual. Perilaku ‘pemaksaan’ dengan ancaman kekerasan atau ancaman lainnya agar seorang perempuan bersedia alias perkosaan tentu saja bentuk pelecahan paling ekstrem.

Oh, ya… ada contoh lain yang menurut saya masuk dalam kategori pelecehan seksual di mana hal ini bisa terjadi di ranah social media. Saya paling marah dan protes jika ada teman laki-laki yang memmosting foto seorang perempuan yang kurang pantas. Contohnya, foto perempuan memerlihatkan area tubuhnya. Bagian dada, paha, bahkan bokong.

Kok, foto seperti itu dijadikan lelucon, sih? Di mana rasa empatinya? Mungkin orang-orang yang melakukan hal ini sebagai guyonan sedang lupa kalau dia dilahirkan dari rahim seorang perempuan. Bagaimana kalau posisinya dibalik? Foto yang kurang pantas dari saudara perempuannya juga disebar di social media? Apakah ia rela?

Biar bagaimana pun tindakan pelecehan seksual bisa terjadi dan dialami siapapun juga dan lintas usia. Nggak terbatas dengan perempuan yang berpakaian minim saja, kok. Perempuan yang mengenakan jilbab dan berpakaian serba tertutup pun bisa mengalaminya. Sayangnya, sampai saat ini masih ada oknum masyarakat yang cenderung menyalahkan korban. “Ooooh… pantas, saja…. dia pakai baju terbuka seperti itu, sih, sehingga ‘memancing’ terjadinya pelecehan seksual.” Bukankah pandangan ini malah hanya membenarkan perilaku kejahatan seksual? Kondisi ini tetu saja nggak bisa menjadi justifikasi bahwa pelecehan seksual pantas dapatkan.

Untuk mencegahnya apa yang bisa dilakukan? IMHO, semua terletak pada diri sendiri. Kita sebagai perempuan perlu menunjukkan bahwa kita nggak bersedia dilecehkan. Artinya, idelanya kita pun tidak memberi peluang pada pihak manapun untuk melecehkan. Setidaknya, sikap harus tegas, kalau ada orang yang memperlihatkan dirinya akan melakukan tindakan ke arah arah pelecehan.

Sebagai seorang ibu dari anak laki-laki, saya dan suami pun punya PR yang sangat besar, mengajarkan bagaimana anak kami bisa memiliki etika termasuk bagaimana memperlakukan seorang perempuan dengan semestinya.


Post Comment