Mengubah Emosi Menjadi Tenang Dalam Waktu 3 Menit

Emosi ke anak memang wajar, tapi tahukah Mommies ternyata mengubah perasaan emosi ataupun marah ke tenang bisa dilakukan dalam waktu yang singkat? Berikut penjelasan dari Devi Sani, M. Psi, Psikolog.

“Ibu, kenapa, sih, ibu itu lebih galak dari bapak? Ibu,tuh sering banget ngomel-ngomel ke aku…”

Deeg… hati saya mencelos begitu mendengar komentar anak lanang saya ini. Kalau boleh jujur dan membandingkan tingkat kesabaran saya dan suami, sumbu kesabaran saya memang nggak ada apa-apanya. Sangat pendek, dan rasanya cepat tersulut emosi. Saya paham sekali kalau sebagai orangtua, saya harus bisa mengelola emosi dengan baik. Bagaimana bisa anak saya, Bumi, punya kecerdasan emosi sementara saya tidak? Sementara, kecerdasan emosi  itukan memang menular.

Paling nggak kalimat protes Bumi mampu menyadarkan saya kalau saya harus lebih banyak belajar untuk menjadi ibu yang tenang, belajar jadi ibu lebih sabar dan nggak gampang marah. Saya pun lantas bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana, sih, cara meregulasi emosi diri sendiri dengan tepat?

Beruntung, pertanyaan saya ini akhirnya bisa dijawab oleh Devi Sani, M. Psi, Psikolog. Kemarin, saya baru saja mengikuti acara talkshow yang diadakan Get Happy dengan pembicara Devi Sani, M. Psi, Psikolog. Get happy ini sendiri merupakan sebuah komunitas atau wadah yang bergerak untuk mengedukasi masyarakat tentang kepedulian terhadap masalah kesehatan mental. Makanya kemarin topik yang dipilih adalah  “Peacefull Parent,Happy Kids”.

mengubah emosi

Semua juga pasti setuju dengan kalimat, happy mom will definitely raise happy children. Kemarin Psikolog anak jebolan Universitas Indonesia dan Universitas Padjdjaran ini menegaskan kalau kunci keberhasilan parenting adalah kebahagiaan orangtua. Oleh kerena itulah cara pandang kita dalam memandang parenting ini sangat menentukan.

“Semua tergantung pada kita sendiri, mau memandang parenting sebagai sesuatu yang negatif atau positif? Yang dominan itulah yang akan punya pengaruh besar. Parenting itu adalah sesuatu yang bisa dirasakan. Ketika kita bisa bahagia, maka kita bisa memperlakukan orang lain termasuk anak-anak dengan tenang, hormat, dan tentunya bertanggung jawab. Dengan begitu maka anak pun akan memiliki regulasi emosi yang baik”.

Lebih lanjut Mbak Devi mengatakan,Marah itu manusiawi, marah itu nggak apa-apa, tapi yang perlu kita pelajari adalah bagaimana cara menyalurkan rasa marah tersebut? “Biar bagaimanapun, anak akan terus melihat kita marah, jadi bagaimana cara kita menyalurkan kemarahan kita akan menjadi pelajaran penting dalam hidup anak,” ungkapnya. Jadi katanya pilihan kita itu ada dua, “Apakah kita akan mengajarkan bahwa orangtua atau orang dewasa juga mengalami tantrum ataukah marah adalah hal yang manusiawi, dan menyalurkannya dengan tanggung jawab bagian dari kedewasaan”.

Psikolog yang mendirikan Rainbow Castle, Klinik Psikologi Anak Berbasis Bermain memberikan beberapa kiat bagaimana me-manage kemarahan, bahkan mengubah rasa marah menjadi tenang dalam waktu 3 menit saja. Bagaimana caranya?

Ketika sudah merasakan emosi, Mba Devi menyarankan untuk memberikan diri sendiri time out. “Kita perlu menangkan diri, tapi bukan untuk memikirkan betapa benarnya kita, karena kita perlu sadar kalau orangtua tidak selamanya benar dan tahu yang terbaik untuk anaknya. Selanjutnya adalah penting bagi kita untuk mengubah pikiran sehingga perasaan pun ikut berubah. “Coba pikirkan, kalau anak berperilaku seperti itu karena memang dia masih anak-anak… Kenakalannya adalah pertanda ada sesuatu yang ia butuhkan.  Listen your anger, rather than act on it”.

Lebih lanjut, Mbak Devi juga mengingatkan bahwa sebagai orangtua tentu kita mau anak untuk bisa mengikuti aturan, tapi BUKAN BERARTI arahan kita harus bersikap kejam apalagi sampai main fisik.  Kalau ingin anak patuh karena dia tidak ingin mengecewakan kita, bukan karena takut. Karena begitu anak merasakan takut.

Selanjutnya, psikolog anak yang sempat mengenyam pendidikan di  Tennesse, Amerika untuk mengambil lisensi resmi menjadi seorang terapis dari Parent-Child Interaction Therapy, mengatakan meskipun memang tidak mudah bahwa sebenarnya mengubah perasaan ke tenang bisa dilakukan dalam waktu yang singkat, bahkan hanya perlu 3 menit.

Caranya, pada menit pertama coba pikirkan apa yang sebenarnya membuat kesal. Kemudian, katakan kepada diri sendiri, “Ahh, anak kita hanya memanipulasi saya…”. Menurutnya, sering kali emosi marah ini muncul karena ketakutan kita sendiri. Di menit kedua, cobalah untuk menyadari bahwa selalu ada dua sisi cerita. Penting bagi kita untuk memikirkan kejadian dari sudut pandang anak. Kemudian, Mbak Devi mengatakan bahwa dimenit ke-3,  kita perlu membantu tubuh untuk melepaskan perasaan. “Mulai dengan bernafas dan katakan pada diri sendiri untuk tenang,” paparnya.

Wah, benar juga, ya, sebagai orangtua sering kali saya merasa pusing mencari tahu bagaimana membuat anak bahagia. Seringkali karena ingin menjadi orangtua yang benar dan sempurna membuat kita lupa bagaimana caranya menjadi orangtua yang menyenangkan dan lupa kalau ada banyak hal kecil yang tampak konyol dan bodoh, anak-anak pun bisa merasa senang.

Mengingat sumbu sabar saya memang pendek, ilmu dari Mbak Devi ini tentu sangat berguna. Aaah… jadi nggak sabar mau mempraktikannya. Mudah-mudahan saja, saya nggak ada dicap jadi ibu yang galak lagi.