Jadi Korban KDRT Finansial, Harus Bagaimana?

Kekerasan dalam rumah tangga tidak melulu penyiksaan secara fisik. Dipaksa suami untuk bekerja dan menghidupi keluarga atau diharuskan berhenti bekerja disertai ancaman juga merupakan tindakan KDRT dalam segi finansial.

Geram sekali rasanya ketika salah satu teman baik saya bercerita kalau suaminya meminta dirinya untuk terus menerus memenuhi kebutuhan keluarga. Ya, memang, sih, sebagai pasangan suami istri sudah sewajarnya saling dukung dan support. Tapi kalau terus menerus menekan istri untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga, rasanya nggak adil, ya? Sementara sang suami malah ongkang-ongkang kaki di rumah. Apalagi kalau  ingat bahwa sebenarnya yang wajib mencari nafkah adalah pihak suami.

Mendengar ceritanya, saya cukup paham bagaimana pusing dan ‘tersiksa’nya teman saya ini. Dan bertanya-tanya, jangan-jangan kasus yang dialami teman saya ini termasuk dalam KDRT finansial. Saya pun jadi teringat dengan obrolan bersama Maharani Ardi Putri Msi. Psi, beberapa waktu lalu. Ia mengatakan bahwa sampai detik ini, kasus KDRT masih banyak sekali terjadi. Baik KDRT dalam bentuk fisik, psikis, ekonomi, seksual, ataupun spiritual.

kdrt finansial

“Untuk kekerasan ekonomi ini misalnya dengan kondisi tidak bekerja, istri tidak dikasih uang atau uangnya sangat mepet, sehingga untuk mencukupi makan saja sangat sulit. Mereka harus ngutang, pinjam atau bahkan harus minta ke orang lain. KDRT itu biasanya memang gabungan. Fisik iya, psikis iya, ekonomi juga iya,” katanya. Merujuk dari penjelasan Mbak Putri ini, apa yang dialami teman saya pun bisa masuk dalam kekerasan finansial dalam keluarga.

Kondisi kekerasan finansial ini memang sudah terjadi secara global, karena tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat Indonesia saja. Baru-baru ini The Guardian melakukan survei, yang hasilnya menyebutkan bahwa 1 dari 10 pasangan menikah di Amerika Serikat mengalami kekerasan finansial yang dilakukan oleh pasangan mereka.

Kekerasan ini dimulai dari hal kecil dan sederhana hingga melibatkan ancaman dan kekerasan fisik. Biasanya, pelaku kekerasan finansial ini akan memaksa pasangannya untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi. Ada juga pasangan yang memaksa pasangan untuk tidak bekerja sama sekali disertai ancaman untuk mengakhiri hubungan.

Senada dengan Mbak Putri, Anna Surti Ariani. Psikolog Anak dan Keluarga ini mengatakan kalau kekerasan finansial dalam keluarga ini memang bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Mulai dari melarang istri untuk tidak bekerja sementara kebutuhan finansial tidak terpenuhi, sampai adanya pembatasan yang kaku atau sangat ketat dalam penggunakan uang. 

Jika sudah terjebak dalam situasi tersebut, apa yang harus dilakukan? Apakah satu-satunya jalan adalah bercerai? Dalam hal ini ternyata baik Mbak Putri Langka ataupun Mbak Nina Teguh punya pendapat yang sama.

Mbak Putri yang aktif dalam Yayasan Pulih mengatakan, bahwa memang tidak semua pasangan yang mengalami KDRT memutuskan untuk bercerai. Hanya saya, kalau mereka masih mau berada dalam perkawinan, ada beberapa hal yang harus mereka pelajari agar KDRT tidak bertambah parah bahkan kalau bisa jadi berkurang.”

Sementara Mbak Nina mengatakan bahwa masalah finansial ini perlu keterbukaan sejak awal. “Dalam hal ini tentu saja baik dari sudut pandang suami ataupun istri. Seberapa banyak penghasilan yang didapat, termasuk membicarakan masalah hutang ataupun investasi”.

Menyinggung mengenai perceraian, Mbak Nina pun mengingakan bahwa perceraian sebenarnya bukan pilihan untuk menyelesaikan masalah. “Ada ada banyak alternatif yang bisa dipilih untuk menyelamatkan perkawinan. Karena sebenarnya semua tergantung pada kondisi dan situasinya. Justru yang perlu dipikirkan adalah bagaimana menyelesaikan masalah yang ada. Kalau memang ada masalah ekonomi dan tekanan hidup, cari jalan keluar bagaimana kebutuhan hidup terpenuhi.”

Saya sendiri sangat setuju dengan saran Mbak Nina, karena pada dasarnya komunikasi dengan  pasangan punya peran yang amat penting sehingga semua permasalahan harus dibicarakan secara terbuka. Paling nggak, lewat cerita teman saya ini membuat saya tambah yakin kalau sebagai perempuan memang tidak boleh jadi istri atau ibu yang biasa-biasa saja. Harus bisa berdaya dalam banyak hal, dan tentunya sesama perempuan harus bisa memberikan support.

Saya sendiri yakin kalau setiap rumah tangga pasti punya masalah sendiri-sendiri. Semua tergantung bagaimana kita mau berjuang menghadapi masalah. Mau memilih untuk menyerah dalam diam atau melakukan sesuatu untuk menyelamatkan perkawinan?


Post Comment