banner-detik
COMMUNITY EVENTS

Jangan Jadi Ibu Biasa

author

adiesty01 Mar 2016

Jangan Jadi Ibu Biasa

Percaya, dong, kalau semua perempuan itu punya kelebihan? Buktinya, perempuan dipercaya mampu multitasking. Oleh karena itu, jangan mau menjadi ibu yang biasa-biasa saja.

Dulu.... saya punya mimpi yang segudang. Mulai dari bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan pilihan hati, punya anak dan keluarga yang harmonis, dan punya bisnis sendiri untuk menambah penghasilan. Iya, saya ingin jadi ibu yang serba bisa dan tentu saja bisa berdaya secara finansial, walaupun inginnya menjadi perempuan yang berdaya di banyak bidang, hehehe.

Ngomongin soal berdaya secara finansial, tanggal 18 Februari kemarin, #MDLunch kembali digelar di Branche Bistro, Senopati. Kali ini kami menggandeng Ligwina Hananto ​dari QM Financial dan membahas mengenai bagaimana caranya menjadi ibu yang luar biasa. Iya, jadi seorang ibu jangan mau jadi yang biasa-biasa saja.

jangan jadi ibu yang biasa1

Waktu itu pemilik akun twitter @mrshananto ini mengatakan, pada dasarnya banyak hal yang bisa kita lakukan agar tidak menjadi ibu yang biasa. Hal ini tentu saja berlaku untuk semua ibu, baik ibu yang bekerja di kantor ataupun di rumah. Soalnya, walaupun jadi ibu rumah tangga, banyak hal yang memang bisa dilakukan untuk memberdayakan diri. Kuncinya memang kita harus bisa berkreasi. Punya online shop atau jadi blogger juga bisa jadi pilihan yang baik. Ada banyak faktor mengapa kita memang harus bisa kreatif, punya energi untuk membuat sesuatu.

"Mau jadi ibu rumah tangga saja? Ya, ngggak apa-apa. asalkan jangan jadi ibu yang biasa dan tidak melakukan apa-apa," ungkap perempuan yang kerap di sapa Mbak Wina ini.

Biar bagaimana pun hidup itu, kan memang pilihan, sejauh kita merasa bahagia dengan apa yang kita pilih, ya lakukan saja semaksimal mungkin. Kalau memang di antara Mommies ada yang sedang berpikir untuk resign, sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja, coba telaah lebih dulu apa yang benar-benar ingin kita lakukan. Untuk itulah, kita pun sebaiknya memang bisa melakukan sesuatu untuk mendapatkan penghasilan. Bisa dimulai dengan membuka online shop. Punya hobi? Nah, mungkin ketika sudah tidak bekerja kita jadi punya waktu untuk melakukan hobi tersebut. Siapa tahu dari hobi ini pun bisa mendatangkan penghasilan.

Setelah itu, jangan lupa cek cash flow, dan membereskaan keuangan keluargaMisalnya, nih, perhatikan masalah hutang. Jangan sampai ketika berhenti bekerja, cicilan tidak bisa dibayarkan. "Seringkali saat berhenti bekerja dan nggak punya uang, kita jadi harus berhemat. Mengubah pola hidup dengan mengunci pengeluaran yang memang nggak penting," papar Mbak Wina lagi.

Bingung mau hemat di pos yang mana? Dalam hal ini menurut Mbak Wina, cara yang paling mudah adalah dengan cek belanja bulanan yang rutin kita beli. Kemudian cari barang subtitusi, misalnya kalau sebelumnya terbiasa beli selai impor, ganti saja dengan merek lokal yang harganya jauh lebih murah. Kemudian, yang paling penting adalah mengubah kebiasaan, dalam artian pola gaya hidup disesuaikan. Kalau dulu terbiasa nonton ke bioskop seminggu sekali, jatahnya dikurangi jadi sebulan sekali saja. Terbiasa makan enak di restoran setiap akhir pekan? Coba kurangi juga. Selain itu perhatikan juga kebiasaan di rumah. Misalnya, nih, kebiasaan membiarkan aliran charger listrik tetap menyala, atau mulai biasakan bawa bekal.

jangan jadi ibu yang biasa

Soalnya, nih, banyak sekali yang bilang nggak bisa menabung. Padahal menabung tentu saja bisa dilakukan, hanya saja banyak yang kebablasan dalam pos gaya hidup. Seperti yang diungkapkan Mbak Wina, nggak ada salahnya mau belanja baju, skincare, tas atau sepatu. Tapi pos-nya sudah sesuai belum?  Idealnya harus memerhatikan rasio. Paling nggak, cash flow yang aman, bisa menyisihkan tabungan 10%, dan punya hutang hanya 30% dari total penghasilan.  

Lalu apa lagi? Tentu saja perhatikan soal investasi atau asuransi. Coba perhatikan, proteksi yang dimiliki. Mbak Wina mengingatkan bahwa proteksi yang harus dimiliki adalah proteksi untuk orang yang menjadi sumber nafkah utama. Kalau selama ini sumber terbesar dari suami, pastikan suami punya asuransi jiwa. Dalam  berinvestasi, ukur kemampuan lebih dulu, baru  memilih produk kendaraannya. Oh, ya, mengenai produk investasi ini jangan semata-mata mencari produk yang menguntungkan saja, lho. Tapi lebih kepada cocok atau tidaknya dengan tujuan yang ingin kita capai. Dalam hal ini jangan lupa dengan pos dana darurat. Biar gimana, kita kan memang nggak pernah tahu risiko hidup yang akan terjadi ke depan.

Ketika ada risiko hidup yang mengharuskan kita mencairkan aset atau investasi, investasi pendidikanlah yang harus dipertahankan. Hal ini dikarenakan anak kita tumbuh terus dan kebutuhkan dana tersebut memang tidak bisa diganggu gugat. Makanya investasi dana pendidikan sangat penting.

jangan jadi ibu yang biasa2

Waaah.... untuk menjadi ibu yang tidak biasa-biasa saja memang perlu melakukan banyak perubahan, nih. Ternyata PR saya masih banyak, tapi bukan berarti nggak bisa dilakukan, dong! Gimana dengan Mommies  yang lain?

Share Article

author

adiesty

Biasa disapa Adis. Ibu dari anak lelaki bernama Bumi ini sudah bekerja di dunia media sejak tahun 2004. "Jadi orangtua nggak ada sekolahnya, jadi harus banyak belajar dan melewati trial and error. Saya tentu bukan ibu dan istri yang ideal, tapi setiap hari selalu berusaha memberikan cinta pada anak dan suami, karena merekalah 'rumah' saya. So, i promise to keep it," komentarnya mengenai dunia parenting,


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan