Tubuh Kurus Namun Kolesterol Tinggi

Ditulis oleh: Dona Kamal

Ini bukan tips  untuk mengurangi kolesterol lho ya. Ini adalah curhatan saya sebagai pengidap kolesterol tinggi! Ya, badan saya kurus tapi kolesterol  tinggi *nangis bombay*.

Beberapa tahun lalu saya terkaget-kaget ketika melihat hasil medical check-up rutin yang difasilitasi kantor. Semua skor bagus kecuali skor untuk kolesterol yang menunjukkan angka 230! Sementara rekomendasinya, skor untuk kolesterol baiknya di bawah angka 200! Saat itu kebetulan kondisi saya sedang hamil tua, dan setelah baca-baca, ternyata kolesterol memang dibutuhkan selama kehamilan untuk membuat beberapa hormon yang dibutuhkan selama kehamilan. Jadi, saat itu saya pikir kolesterol saya tinggi karena efek dari kehamilan dan akan menurun setelah melahirkan.

Setelah melahirkan, saya tidak kembali mengecek kadar kolesterol. Saya pede banget kalau kadar kolesterol saya akan turun, sampai akhirnya saya melakukan pengecekan kembali tiga tahun setelah melahirkan. Hasilnya, kadar kolesterol saya memang turun, tapi masih di atas standar yang seharusnya! What?!

Menurut dokter, skor 215 memang masih “normal” untuk orang-orang Asia terutama Indonesia, tapi kalau tidak diimbangi dengan perbaikan gaya hidup, skor itu akan terus naik. Apalagi tanda-tanda kolesterol tinggi, seperti kerap merasa pegal di leher, sudah mulai sering saya rasakan. Sejak itu, saya mulai mengumpulkan tekad untuk sedikit demi sedikit mengubah gaya hidup.

Kolesterol tinggi

 

*Image dari media.viva.co.id

Semua Makanan Digoreng
Duh, sumpah ya, inilah yang paling susah dari program menurunkan kolesterol. Saya sih sebenarnya memang bukan pecinta camilan gorengan macam bakwan, tahu isi, cireng, dkk. Tapi coba kita tengok menu makanan sehari-hari di rumah. OMG, setiap hari menunya terdiri dari lauk pauk yang digoreng! Untuk berpaling dari gorengan, saya akui deh sampai saat ini masih susah dilakukan. Untuk menyiasati, paling saya mengimbangi dengan banyak makan sayuran, buah, minum air putih, cerdas memilih minyak goreng yang baik dan minum minyak habbatussauda + zaitun setiap hari yang konon katanya mampu menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah.

Rutin Olahraga
Masalah olahraga sebenarnya nggak sesusah seperti mengurangi makan gorengan. Sejak jaman gadis dulu, saya termasuk orang yang bisa dibilang gemar olahraga. Yah, paling nggak seminggu sekali, saya pasti jogging, berenang, atau sekedar push-up & sit-up di kos-kosan. Kebiasaan berolahraga saya mulai menghilang sejak menikah hingga punya anak, dengan alasan “nggak sempat”. Padahal saya bisa saja mencari motivasi agar tetap semangat berolahraga, ya, Moms.

Efek samping dari tidak-lagi-berolahraga ini ternyata benar-benar kerasa lho di badan. Saya jadi sering capek, mudah sakit, dan yang paling parah mood saya jadi kacau. Saya tahu saya harus segera memulai rutin olahraga lagi, tapi ya itu “nggak sempat” melulu, sehingga jadilah resolusi untuk rutin olahraga baru terlaksana di tahun 2015 (padahal planning-nya sudah dari tahun 2013!).

Untuk permulaan, saya memilih jogging seperti kebiasaan jaman gadis dulu. Namun apa daya, mungkin karena faktor U, rasanya kok badan sudah nggak sekuat dulu kalau diajak lari. Baru 1,5 putaran GOR, napas sudah mulai satu-satu *sigh* *gantung sepatu lari*. Lalu saya pun beralih ke olahraga lain: renang. Hasilnya, kemampuan dan kekuatan tubuh masih seperti gadis *yeayy!*, tapi karena kolam renang umum agak jauh dari rumah, mulai deh timbul malesnya.

Oke, alternatif ketiga: Aerobik dan zumba. Nah, aerobik ini kebetulan ada setiap hari Minggu di halaman pusat perbelanjaan dekat rumah dan zumba diadakan di kantor tiap Rabu malam setelah jam kantor. Walaupun saya lebih senang berenang ketimbang aerobik dan zumba, tapi tak apalah, demi kadar kolesterol yang menurun, toh tinggal ngesot ini dari rumah dan kantor, akhirnya sudah hampir satu tahun ini saya rutin aerobik/zumba.

Sejak menjalankan dua resolusi demi menurunkan kolesterol seperti yang saya tulis di atas, rasa pegal di leher sudah mulai jarang muncul. Saya sih berharap dengan (berusaha) menjalankan kedua resolusi itu, kadar kolesterol saya akhirnya turun. Sekarang, tinggal menunggu jadwal medical check up tahunan, dan semoga semua hasilnya baik, aamiin.

Nah, mulai sekarang, ayo perhatikan gaya hidup kita! Jaga makan dan olahraga rutin biar nggak kolesterol-an macam saya inih T_T.


One Comment - Write a Comment

  1. Pernah dengar tentang silent inflammation? Ada di bukunya dr.Tan Shot Yen “Saya Pilih Sehat dan Sembuh”. Di halaman 22 disebutkan kalo yg penting itu rasio TG/HDL jangan bernilai 3 atau lebih.
    Untuk merendahkan TG, jangan makan karbo simpel, makan karbo kompleks.
    Untuk naikkan HDL, makan ikan (jangan digoreng supaya lemaknya nggak rusak), bisa pake suplemen niacin (bukan niacinamide) & minyak ikan (omega 3).
    Jadi sebetulnya kalo kolesterol total normal tapi rasio TG/HDL 3 atau lebih, orang tersebut berpotensi kena silent inflammation yg ujung2nya mengarah ke sindrom metabolik.

Post Comment