5 Hal yang Ingin Saya Ubah Sebagai Orangtua

Saya percaya menjadi orangtua itu adalah pembelajaran seumur hidup. Akan selalu ada hal yang diubah, diperbaiki, ditambah, dikurang. Karena menjadi orangtua itu tidak sama dengan belajar ilmu pasti yang segalanya sudah ada rumus yang pasti :).

Kalau saya bisa mengibaratkan proses perjalanan saya sebagai orangtua, bisa dibilang saya ibarat bayi yang sedang belajar berjalan dan harus melalui proses jatuh bangun. Bedanya, bayi jatuh bangun ada periodenya, sedangkan masa-masa saya jatuh bangun sebagai orangtua akan terus ada selama saya masih menyandang gelar orangtua. Dan saya belajar untuk menikmatinya.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, menjadi orangtua itu tidak sama dengan belajar ilmu pasti. Saya harus sigap berubah saat saya tahu bahwa apa yang saya terapkan mungkin tidak cocok untuk anak saya. Kalau saya tahu bahwa apa yang lakukan selama ini ternyata salah. Dan ini 5 hal yang ingin saya ubah sebagai orangtua:

1. Stop trying to be your kid’s best friend
Kadang karena takut dibenci anak, kita suka berusaha untuk ‘sok asik’ dan menempatkan diri kita sebagai temannya nyaris setiap saat. Yang kita lupa adalah, anak-anak kita sudah memiliki banyaaaaak sekali teman di setiap tahapan usia mereka. Tapi mereka hanya punya satu orangtua, yaitu kita. Percaya deh, kalau Tuhan memang ingin kita menjadi seorang teman, nggak mungkin kan kita diberi sebutan sebagai orangtua :D. They don’t need to like us 24/7 dan hal yang wajar kalau anak-anak belajar menerima penolakan atau teguran dari kita orangtuanya.

Saya pernah membaca sebuah tulisan (saya lupa di mana), tapi tulisan itu mengatakan bahwa jika sepanjang kita menjadi orangtua dan anak kita pernah berteriak sambil berkata “Aku benci mama….” itu tandanya kita sudah menjadi orangtua yang baik. Apapun trend parenting yang kita terapkan, seorang anak tetap butuh batasan. Jadi terima saja kalau saat kita menegur anak,dan dia akan menangis, membanting sebuah benda mungkin atau berteriak seolah tidak mendengar kita. They need a role model not a BFF.

Stop trying to be your kids bestfriend

*Image dari blog.kerrygaynormethod.com

2. No more “Because I said so…
Saat sudah terlalu lelah untuk berdebat… errr.… atau berdiskusi dengan anak-anak saya, maka kalimat andalan saya saat mereka mempertanyakan keputusan saya adalah “Karena mama adalah mama kalian dan karena mama bilang begitu…. jadi kalian nggak ada pilihan.” Saya menganggap ini semacam senjata pamungkas. Masalahnya, sampai kapan saya bisa menggunakan senjata pamungkas ini seraya usia anak-anak saya bertambah dewasa? Semakin mereka besar, mereka semakin butuh alasan yang jelas (dan ini sudah terjadi di saat anak-anak saya memasuki usia 7 tahun :D). Kalau posisi dibalik, mau nggak kita diminta menelan mentah-mentah apapun yang kita dengar? Pasti nggak mau dong. Jadi hal yang sama berlaku pada anak-anak kita. They are human, not robot.

3. Stop comparing
Just STOP it already! Berhenti membandingkan diri dengan orangtua lain di luar sana. Berhenti membandingkan anak-anak kita dengan anak-anak orang lain. Saya pribadi nggak terlalu sering membanding-bandingkan anak-anak saya, karena saya sendiri benci jika mengalami hal itu. But sometimes, I admit bahwa sesekali saya suka membatin dalam hati “Kenapa ya anak-anak saya nggak sekreatif anaknya si Anu?” atau “Kenapa ya anak-anak nggak senurut anaknya si Itu?”. Yah saya nggak tahu aja, mungkin anaknya itu kreatif tapi tata krama nol besar :p. Setiap pribadi itu unik kan ya? Ingat, rumput tetangga memang biasanya terlihat lebih hijau, tapi siapa yang tahu kalau itu rumput palsu yang dipasang.

4. Ask my kids to call their grand mother
Saya bersyukur anak-anak saya masih bisa bertemu dengan eyangnya. Mengenal eyangnya secara pribadi yang memiliki gaya pengasuhan yang jauh berbeda dengan mamanya :D. Kehadiran anak membuat hubungan personal saya dengan mama menjadi jauuuuuh lebih baik. Karena pada akhirnya saya memahami kekhawatiran-kekhawatiran yang dulu mama saya rasakan saat saya masih anak-anak. Saya bisa membayangkan bagaimana kondisi mama yang sekarang semakin tua, rasa kesepian yang mungkin mama rasakan saat ketiga anaknya sibuk dengan pekerjaan. Dan saya pun memutuskan untuk menambah kuantitas telepon saya ke mama. Saya pun juga meminta anak-anak saya untuk melakukannya.

Menelpon eyang mereka, face time dengan eyang mereka setiap hari. Sekadar say hello atau bertanya “Eyang lagi apa? Eyang sehat?” Saya pernah merasakan sedihnya kehilangan eyang puteri dan menyesal karena saya tidak banyak menghabiskan waktu bersamanya. Jadi saya tidak ingin anak-anak saya merasakan hal yang sama. Di balik sosok seorang eyang yang lekat dengan kata kuno, banyak wejangan menarik dan masih bisa diaplikasikan kok ke anak-anak. They raised you to be awesome.… jadi bolehlah orangtua kita merasakan bahagianya ditelepon oleh cucu-cucunya. Jangan menghubungi kalau hanya minta tolong orangtua untuk menjaga anak kita doang :D. Ingat, menitipkan anak pada orangtua saja ada etika lho!

Kids and grandparents

5. Put the damn phone down
Yes, saya sudah pernah cerita kalau sekarang saya mempraktikkan jam malam untuk urusan gadget. Jadi, pada hari-hari tertentu dan pada jam-jam tertentu tidak ada gagdet yang diaktifkan di rumah kami. Masalahnya adalah, kadang-kadang aturan ini terpaksa saya langgar karena ada kerjaan atau email yang harus segera saya balas :(. Jadi untuk kali ini, saya berencana untuk mematikan wifi juga di jam yang sudah ditentukan. No need to worry, karena banyak hal indah yang bisa kita lakukan tanpa gadget.  Enough is enough is enough!


Post Comment