Menitip Anak pada Ortu? Ini Etikanya!

by: - Friday, January 11th, 2013 at 4:30 pm

In: Parenting 28 responses

0 share

Beberapa hari lalu saya menyaksikan film Parental Guidance yang dibintangi Billy Crystal, Bette Midler, dan Marissa Tomei. Filmnya pas banget dengan kondisi saya. Kenapa? Karena saya gemar menitipkan anak pada orang tua untuk diawasi.

Memang sih, alur cerita Parental Guidance dan tema besarnya bukan tentang itu, thok. Tapi entah kenapa, yang lebih “jleb” justru urusan menitipkan anak pada ortunya itu, lho. Saya bisa melihat persoalan ini dari perspektif orangtua alias kakek dan nenek.

Hingga saat ini, saya masih suka menitipkan Nadira di rumah mertua saya. Kebetulan, rumah mertua hanya beda beberapa rumah dari rumah kami. Kemudian, suami saya itu tipe paranoid, yang enggan meninggalkan anak berdua saja dengan ART di rumah. Jadi, deh, setiap pulang sekolah, Nadira ke rumah neneknya dan dijemput saat kami pulang kantor. Meski begitu, saya tetap menugasi pengasuh Nadira untuk meladeni semua kebutuhannya. Jadi mertua saya hanya mengawasi saja.

Itupun kami masih suka merasa nggak enak. Saya dan suami takut kalau mertua jadi terbebani atau terkekang. Makanya kami berusaha keras agar kehadiran Nadira di rumah mertua tidak merepotkan beliau. Untuk makanan, susu dan snack, saya siapkan sendiri. Kemudian, kami juga memberi uang bulanan kepada mertua sebagai “kompensasi”. Awalnya mertua menolak, tapi karena kami yakinkan dengan argumentasi yang masuk akal, akhirnya beliau mengerti.

Kenapa kami mau repot-repot begini? Sebab kami berusaha memberi batasan. Nadira adalah anak dan tanggung jawab kami. Semua kebutuhannya HARUS kami yang penuhi. Jangan sampai karena kami lalai memenuhi, Nadira jadi merepotkan orang lain, meski itu kakek dan neneknya sendiri.

Ternyata, pedoman ini juga dianjurkan oleh seorang psikolog terkenal. Saya pernah baca rubrik konsultasi yang ia asuh di sebuah tabloid. Saat itu, ia menjawab pertanyaan seorang ibu yang mengeluh karena masih tinggal bersama mertuanya.

Saya lupa kalimat persisnya, tapi kira-kira tulisan sang psikolog begini, ya:

“Ibu saya itu sakelijk kepada anak dan cucunya. Saat saya menitipkan anak, ibu membolehkan. Tapi saya harus membawa pengasuh anak dan kebutuhan anak saya sendiri. Ibu menegaskan, anak saya adalah tanggung jawab saya. Jadi beliau bersedia dititipi anak, tapi hanya mengawasi dan mengajaknya bermain, bukan memandikan, menyuapi atau mengejar-ngejarnya. Itu sepenuhnya adalah tanggung jawab orang tua si anak, yang bisa didelegasikan ke pengasuh.

Selain itu, ibu saya juga tegas jika ada anaknya yang tinggal di rumah. Si anak harus membayar biaya listrik, biaya makan, dan lain-lain. Tidak ada namanya menumpang gratis. Apalagi jika si anak menumpang tinggal bersama istri/suami dan anaknya. Ia harus mengurus segala sesuatu sendiri, mulai dari makanan, cucian sampai membersihkan kamar. Rumah ibu saya ibaratnya hanya sebagai kos-kosan. Si anak dan keluarganya harus bertanggung jawab atas semua kebutuhannya sendiri dan membayar kewajibannya tiap bulan.

Memang banyak saudara yang kaget dengan sikap ibu. Tapi menurut saya, justru inilah yang terbaik. Saya dan adik-adik saya jadi terbiasa mandiri, baik secara psikis maupun finansial serta menghormati ibu sebagai orang tua maupun sebagai seorang pribadi. Jika ibu saya tidak tegas seperti itu, bisa jadi anak-anaknya akan bertingkah seenaknya dan memperlakukan ibu dengan tidak hormat. Tugas ibu mengurus anak-anaknya kan sudah selesai saat anak-anaknya mandiri. Masa harus ditambah dengan mengurus cucu dan anak-anaknya yang sudah menikah?”

Siapa yang merasa “jleb” dengan komentar sang psikolog tadi? *tunjuk diri sendiri hehehe…*

Makanya saya merasa beruntung punya suami yang satu visi untuk urusan ini. Bahkan suami saya lebih lebay. Dulu saat saya masih tinggal nebeng sama mertua dan orang tua saya, suami selalu membelikan beras, minyak dan kebutuhan rumah tangga lainnya untuk mertua dan ortu saya. Alasannya, kami sering tinggal dan numpang makan, plus menitipkan Nadira. Padahal saya berpikir, memberi uang bulanan saja sudah cukup.

Anyway, poin-poin etika menitipkan anak pada orang tua mungkin bisa dirangkum sebagai berikut:

  1. Awali semua dengan rasa “tidak enak”. Jangan mentang-mentang itu orang tua atau mertua sendiri, lantas kita bisa seenaknya menitipkan anak. Kita sudah jadi orang tua, lho, anak adalah tanggung jawab kita sepenuhnya, bukan orang lain meski itu kakek dan neneknya sendiri.
  2. Penuhi kebutuhan anak agar tidak membebani ortu kita. Bu Elly Risman pernah berkata, “Tubuh kami (ortu, Red), tidak didesain untuk mengejar-ngejar cucu. Kami ini sudah renta. Anak adalah tanggung jawab ortunya, bukan kakek neneknya.” Jadi kalau kita mau menitipkan anak, sediakan pengasuh dan segala kebutuhan anak. Kalau kepepet, seperti pengasuh pulang kampung misalnya, minimal sediakan segala kebutuhan anak. Jangan sampai menyusahkan ortu secara fisik dan finansial sekaligus.
  3. Berbeda pola asuh dengan ortu? Terima sajalah. Itu, kan, risiko yang kita ambil saat memutuskan untuk menitipkan anak pada ortu, bukan? Kalau tidak mau, ya, jangan titipkan anak, dong. As simple as that :)
  4. Kalau memang ada yang mengganjal sekali, utarakan dengan hati-hati. Kita bisa kan bersikap ekstra hati-hati bahkan memanjakan ART/nanny dengan tujuan agar mereka tidak mudik? Lalu kenapa sama ortu sendiri nggak bisa? Padahal mereka yang melahirkan dan mengasuh kita sejak kecil, lho.
  5. Kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah. Ingat pepatah tersebut? Oleh karena itu, menurut saya, sebanyak apapun saya memberi uang atau harta benda pada ortu dan mertua, tetap tidak akan mampu membalas semua yang pernah mereka berikan. So please be generous to your parents, tentu sesuai kemampuan ya. Apalagi jika ortu kita sehari-hari membantu mengasuh anak. Sebisa mungkin berikan uang bulanan meski hanya sedikit. Kalau ortu menolak, berikan hadiah-hadiah kecil sebagai kejutan. Entah itu makanan kesukaannya, blus cantik atau pajangan favorit. Minimal, berikanlah perhatian kepada mereka because it’s the least that we can do, right?

Sudah, ah, segitu dulu. Saya jadi terharu sendiri mengetiknya, nih :’)

 

Share this story:

Recommended for you:

28 thoughts on “Menitip Anak pada Ortu? Ini Etikanya!

  1. Aduh! Makjleb sekali artikel ini!!!

    Saya dong setiap hari kerja mentitipkan Danny-boy pada mama saya dan setiap weekend kami stay di rumah mertua (mami suami). Bukannya tidak mau pakai pengasuh, justru mama saya yang minta ada Mba’ di rumah hanya untuk urusan cuci-setrika-bebersih, sedangkan untuk cucunya mau diurusi sendiri olehnya selama saya dan suami ngantor. Tentunya semua kebutuhan si kecil sudah kami siapkan supaya tidak ada tuh musti dadakan beli susu saat susu habis, de-el-el. Selain itu, kami juga membayar hampir semua pengeluaran di rumah (baik itu tagihan listrik, iuran sampah, tagihan air, gaji si Mba, dll).

    Kalau di rumah Mami (mama mertua saya), kami memang sengaja menginap setiap weekend karena Mami masih bekerja (meski tidak full time dan setiap hari) dan request mami sendiri yang mau melepas kangen dengan cucunya sepanjang weekend. Tentunya saat weekend kami kebanyakan selalu ada di rumah mertua untuk menemani si kecil, kecuali jika memang ada acara yang wajib dihadiri dan tidak bisa membawa Danny-boy. Hampir sama dengan di rumah mama saya, kami juga membayar si Mba di rumah Mami (untuk cuci-setrika-bebersih saja) jadi Mami bisa fokus sama Danny-boy. Segala kebutuhan Danny-boy juga kami siapkan sendiri di rumah Mami. Bahkan iuran listri dan telepon pun kami share dengan Mami^^ Intinya kami berusaha seminimal mungkin merepotkan beliau.

    Sebenarnya, kalau dihitung secara finansial, pengeluaran kami sama besar (atau bahkan lebih besar) ketimbang jika kami ngontrak (atau mencicil rumah), tapi berhubung kedua orang tua kami sama-sama sudah SINGLE, jadi kami memutuskan tinggal bersama mereka sehingga mereka pun tidak benar-benar merasa kesepian. Dan syukurlah baik Mama dan Mami justru senang dengan keputusan kami.

    1. Bagus ya Mbak, berarti secara pribadi udah menerapkan batasan dan rasa nggak enak. Banyak kan yang ortunya minta dititipin cucu, trus keenakan sendiri dan jadi mengabaikan kewajibannya sebagai ortu si anak. Yang kayak gitu tuh yang bikin sedih :(

  2. wah, gue bgt nih. Kl rumah nyokap udh kyk PAUD plus pengasuh2 anak gue n keponakan2 gue (totally jumlah ponakan n anak gw yg dititip dirumah nyokap jumlahnya 5 org). kadang kasian jg ngliat nyokap mo istrht utk sekedar tidur siang aja sering keganggu dg jeritan bocah2. Tp ya mo gmn lg, nyokap gak ngijinin kl bocah2 pd ditinggal ama pengasuhnya aja>

    1. Nah kalo gitu, berarti kita tetep sadar dengan kewajiban sesungguhnya sebagai ortu kali ye. Banyak soalnya temen gue yang kayaklo gitu, trus malah keenakan. Sampe gue liatnya miris. Masa wiken aja pas ibu bapaknya di rumah, neneknya tetep ngurusin cucu karena ibu bapaknya sibuk dengan gadget atau hobi masing-masing :(

  3. Aw, jleb banget!
    Untuk kondisi saat ini, padahal rumah udh misah dari kapan tau, tapi kalo minta tolong sesuatu sama mama, suka merasa bersalah dan takut ngerepotin.
    Untuk beberapa ortu, memang mereka kadang senang dititip cucu, tapi kadang2 kita yang harus mawas diri kali, ya, jangan juga jadi kebablasan keenakan dengan kondisi ini.

    1. Setuju banget! Meski ortu senang dititipin cucu, kita juga harus sadar diri. Makanya di poin no 1, saya bilang “Mulai semuanya dengan rasa nggak enak.” Supaya gak kebablasan aja menjadikan ortu sendiri sebagai pengasuh anak dan mengabaikan kewajiban kita sendiri pada anak kita.

  4. jleb! jleb! jleb! dan banyak jleb! lg yg harus gw terima,,,
    ampun ibuku,,,,aku bener2 anak yg sangat merepotkan,,,
    udah ya nyari mba susahnya naudzubilah,,,anak gw geraknya blangsakan kesana kemari,,,penghasilan pas2an apalagi gw single parent to be alias dlm proses pisahan
    sekali lg ampuuunnnn ibuuuuu,,,,
    walopun gw emg nyiapin semua kebutuhan anak gw,,,suka ngasih bulanan walopun gak banyak,,,bayar aer,,,tp gak mampu bayar listrik,,,,
    ampun lg deh buat emak gw,,,
    hehehehe akhirnya tiap bis gajian gw cm nyengir aja ke emak gw ngasih nya pas2an ;D

    1. *peluk Mbak Farah*

      Meski secara finansial lagi susah, mungkin bisa “dikompensasi” dengan kasih perhatian lebih kali ye ke ortu. Jangan kayak temen gue yang setelah jadi single parent, sibuk sendiri sama urusan+pacar-pacarnya, trus anak dihibahkan ke ortunya. Weekdays atau weekend, anaknya gak diurus samsek. Boro-boro kasih duit ke ortu, lah wong seringnya minta. Sedih dan gemes liatnya :’(

      1. wadooohhh,,,itu mah keterlaluan mbak,,,
        ya gw sih sebisa mungkin berusaha gak gitu ke emak gw ya,,,alhamdulillah ampe skrg klo dah jumat sore emak gw kegirangan soalnya emaknya Daanesh libur xixixixixi,,,lucu ngeliatnya pas gw pulang kantor jumat sore,,,giraaaannngggg bgt emak gw hahahahaha

        oks deh thanks ya mbak udah share ini,,mengingatkan gw soal cinta tanpa batasnya ibu,,,semoga kita bs jadi ibu yg baik seperti ibu2 kita ini yaaaaa

  5. Terima kasih sudah menulis artikel ini, Mbak. Benar-benar jadi bahan renungan dan pertimbangan saya kalau melahirkan nanti. Kami pengantin baru yg sementara ini msh tinggal sama ortu saya.Kalau kami berdua ngantor yah tentulah anak dititip sama ortu saya. Sama. Saya juga ikut terharu pas baca samapi point no 5-nya, hehehe…

  6. Jleb jleb jleb… Bener banget artikelnya Mbak Ira, menitipkan anak ada etikanya, lagipula anak kita kewajiban kita bukan ortu kita. Apalagi mau berantem dg ortu dengan perbedaan pola asuh, ya itu risiko kita menitipkan anak ke ortu kita.
    Yang paing jleb adalah kok kita bisa menjaga sikap agar ART/Nanny gak ngambek, harusnya kita bisa bersikap lebih kepada ortu kita sendiri yang mau dititipi anak2x kita.
    terima kasih ya mbak Ira atas remindernya :).

    1. Iya gue nulis poin yang itu juga jleb sendiri bok. Apalagi yang beda perbedaan pola asuh. Secara gue sering berbeda pandangan sama ortu/mertua untuk urusan ini. Setelah dipikir-pikir, ya itu risiko gue lah ya. Sapa suruh gue nitipin anak ke ortu/mertua? Jadi sekarang berusaha lebih legowo aja lah. Kalo ada yang kurang-kurang dikit, biarin aja. Tapi kalo emang ganggu banget, baru deh diomongin, dengan hati2 tentunya, hehehe..

  7. Yak! walaupun belum tiba pada saat musti nitipin anak ke ortu (anaknya belum lair), tapi masih tinggal sama ortu dan sering semena-mena (maaaphkan akuuu ibuuu)
    Seenggaknya ada nyumbang dikit lah buat listrik dan groceries (dikiit banget tapi), dan kadang bayarin belanja, beliin apalah gitu kalau pas jalan-jalan. Atau masakin yg simpel2 buat dimakan barengan.

    Dari jaman aku belum nikah ibu udah wanti-wanti “ntar kalau udah punya anak, jaga sendiri. Ibu udah capek jaga anak.” hahaha!
    dan ini kayaknya bakal kejadian, karena ibuku memutuskan untuk buka warung mulai bulan depan. Jadi ya gak bisa dititipin deeeh. huhuu…

  8. makasih banyak mba ira artikelnya, pas banget sama keadaan gw,,haha jleb abis disemua poin,
    nitipin anak ke ortu dikala kita kerja emg sih kemauan ibu saya, krn beliau ga tega anak diasuh cuma sm mbak ato PRT, tp tiap hari nitipin berasa deh ga enak hatinya,
    anak kita kan kewajiban kita seharusnya bukan menambah beban ortu..hihi tp untuk saat ini dimerem2in dl deh, yang paling penting itu buat ibu saya, klo dia mau pergi arisan ato ngaji, sy bisa sediain waktu, yang ga banyak paling sebulan 1 ato 2 kali, iyelah kasian juga nyokap berkutat dengan cucu..
    tp jgn kyk ipar gw ya..hahaha kasian mertua gw, ,tiap hari jagain cucu, emak bapaknya ninggalin anak2 dl kondisi baru bangun tidur, dengan 1 todller 1 baby, boro2 pas wiken masih jalan tuh emaknya, mertua masih ngebuatin makan sampe bikinin bubur buat bayi..hadeeehh pas msh nyampur sama mertua sih, rasa2nya gerah bener, kesian bener mertua gw..

  9. Poin no 3 sangat jlebh! Karna selama ini kalo saya nitipin Ubii di rumah mertua, saya selalu rempong wanti-wanti supaya cara nyuapin, ini, dan itu sama dg cara saya di rumah. Dang! Maybe next time, saya harus ubah itu ya. Thanks berat u/ sharingnya.

    Tapi untungnya mertuaku baik banget. Beliau sering menyuruh kami nginap di rumahnya dan menyuruh saya+suami jalan-jalan atau nonton dan beliau sendiri yg menawarkan diri u/ menjaga Ubii karena beliau tau kami sdh tidak punya me time lagi sejak kami tidak punya PRT meanwhilenwe are working parents.

    Great sharing anyway :)

  10. aku termasuk yang ngerasa jleb T_T
    malahan aku lebih parah, ortu sama ortu mertua diboyong ke jakarta secara bergantian,,udah banyak suara “menyalahkan” dari kanan dan kiri. tapi mau bgmn lagi,,si Ayah maunya anaknya tetep ditungguin sama uti2nya, sementara rumah uti2 kan tidak satu propinsi :)
    Dan mertua juga bilang sayang kalo cucunya cuman ditinggal sama ART,,kalo udah urusan cucu, mertua emang concern banget.
    Tapi aku sih ninggalin anakku sudah dalam keadaan beres, mandi, maem dan bobo, kecuali terpaksa mesti dinas luar kota.
    bersyukur banget punya ortu dan mertua yang ngerti banget. thanks MOMs

  11. Jleb banget ya baca artikel ini. Jadi inget kalo di sekolahnya Raka, ada Uti temennya Raka yang suka curhat kalo dia capek dititipin cucu nya yang berusia tiga tahun. Hihihi katanya ‘pengen nya sih istirahat, tapi mesti ngurusin cucu.’ Kesian juga sih gue dengernya.

    Kalo di kasus kita, masih tinggal di rumah mertua. Tapiiii sama sekali gak pernah nitipin Raka sama mertua. Secara beliau ( both father and mother in law) masih kerja, dan ditambah mama mertua kuliah lagi. Jadi nya makin sibuk dan kalo lagi dirumah, paling main main bentar sama raka. Which is oke, secara gue stay at home mom. Dan mengurus anak kan emang sudah tugas gue sebagai ibu. :D jadi sebisa mungkin kita gak mau ngerepotin beliau, dengan nitipin Raka dan ngejer2 dia.

  12. waduh mbak, jadi makin ngerasa hutang budi sama mertua….., sekarang aku harus tetap berbesar hati manakala pulang kerja mendapati rumah diberantakin cucu2 mertuaku yang lain, krn mertua ikut kami sejak kami pindah ke rumah baru kami. makasih tegurannya mbak…

  13. Walau artikel ini setahun yang lalu ditulisnya, tetapi topiknya ga akan mati dimakan waktu.
    Jadi ingat ibuku, dari sebelum married aku memang udh berniat ngurus anak sendiri ga dititipkan karena Ibuku sdh ga kuat klo terlalu capek (dulu sakit cancer yang sekarang sudah sembuh sehingga jadi cancer survivor). Ibu pernah bilang,”Ibu ga mau nanti kalau kamu married, ibu ga mau harus ngurusin anak kamu full time, kalau cuma dititipkan sementara boleh, tapi ga berarti lepas tanggung jawab yah”.

    Bapak saya juga lumayan tegas soal anak, bhwa pola asuh anak, yang bertanggung jwb adalah ortunya bukan eyang-eyangnya. Sehingga walaupun ponakan saya lagi dimarahin kakak saya karena suatu hal, maka bapak-ibu saya tidak ikut campur, karena sepenuhnya itu tugasnya ortu. (Kakakku juga marahinnya ga kebangetan kok, masih dlm hal wajar), jadi ortu bener-bener ga ikutan.

    Dari awal, ortu saya sangat tegas menyatakan, urusan anak, ya orangtuanya yang urus dan bertanggung jawab.

    Semoga suatu hari, ortu saya masih bisa ketemu dengan anak2 saya, karena 2 tahun lalu saya keguguran & sampai ahri ini masih berhaarap di anugerahkan momongan lagi. Amiin..

  14. Wooow…ngena banget! Masa laluku banget… Dulu LDR dan aku kerja. Numpang di rumah ortu, nitip anak2… Meskipun berusaha meringankan dengan menitipkan anak2 dari pagi sampai sore di penitipan anak, tetap aja ortuku yg jemput karena aku sering pulang terlalu sore, belum lagi kalau weekend ada pelatihan. Huaa…

    Sejak awal udah merasa ga enak ngerepotin mereka yg udah sepuh dan aku cuma bisa menyediakan fasilitas seadanya…bantu2 di rumah sebisanya…

    sekarang…alhamdulillah udh kumpul bareng suami…tinggal misah… kadang2 msh nitipin ke mertua, tp anak2 udh lebih besar…klo dititipin udh plus petuah jgn smp repotin nenek dan tante…bla…bla…bla…hihi…

    kadang2 liburan tanpa saya juga di rumah orang tua saya, tapi kali ini jauh berkurang rasa bersalahnya karena sy anggap mereka sedang melepas kangen aja karena sekarang jarang ketemu…dan tentunya sama…dibekali petuah…bla…bla..bla…hihi…

    saya suka istilah tidak ada yg menumpang gratis…hehe…berharap seseorang membacanya… :p

    ah, betul deh…jleb2… dan setelah semua terlalui…betapa bertambah sayangnya aku sama Ibu&Bapa :)

  15. sayang ya suami gw ga sepemikiran sama gw. suami gw masih suka ngerepotin orang tuanya, tapi emang dari orang tuanya juga sih yg emang ngemanjain bgt suami gw secara anak terakhir. dan prinsip gw sama suami gw yg beda banget. suami gw kurang aware kl sm masalah ky gn. gemes gw

  16. Makasih banyak artikelnya, aku yang termasuk tersindir pake bangetzzzz……
    Sampe saat ini kami masih tinggal dengan mertua karena mertua memang sudah single dan suami minta kami untuk sementara tinggal bareng ibunya dulu (kami memang belum mampu untuk punya tempat tinggal sendiri).
    Awalnya memang ada pengasuh tapi sudah mau dua bulan ini pengasuh resign dan buat cari penggantinya lagi susahnya minta ampun (sedihnya…). Jadi sementara Disti (15m) kami titipkan sama eyang dan mbahnya (ortu ku). Pagi sama eyang trus saat istirahat kantor aku pulang dulu dan pas berangkat lagi sekalian nganter Disti ke mbahnya. Alasan kami memilih cara seperti itu karena kasihan mertua/ ortu dah sepuh kalau harus jagain disti full dari pagi sampe sore kasihan jadi separo-separo deh alias bagi sift. Sebenernya kasihan juga sama disti tapi untung jarak rumah mertua dan ortu dekat (masih satu komplek).
    Kami memang ga pernah kasih uang bulanan karena penghasilan yang memang pas-pasan hanya sesekali kami memang berusaha memberikan sesuatu entah makanan kesukaan atau barang kesukaan saat ada rejeki tak terduga. Tapi dirumah mertua (tempat kami tinggal) semua tagihan listrik, air telpon dan semua kebutuhan sehari-hari kami yang tanggung, semua pekerjaan rumah juga semua aku yang handle cuma mungkin mertuaku kasihan lihat aku jadi kadang ikut bantu nyuci piring tapi akunya yang ga enak. Sempat kepikiran anak dititipkan ke TPA tapi ortu ga ada yang setuju. Untung aku dan suami sepemikiran, sampai saat ini kami masih terus berusaha mencari pengasuh jadi eyang atau mbahnya cukup mengawasi saja. Dilema ibu bekerja :( berharap segera dapat pengasuh lagi yang sreg. Aamiin

  17. Dear Mba Ira,

    Terimakasih atas artikelnya. Tulisan mba paling tidak membuat aku merasa ada sedikit dukungan moril. Situasi yang kuhadapi saat ini sebenarnya agak berkebalikan namun senada. Sejak menikah, aku dan suamiku tinggal di rumahku. Kedua ortuku telah meninggal sejak aku remaja, jadi aku mewarisi rumah orangtuaku. Setahun terakhir, aku mengundang kedua mertuaku dan adik laki-laki bungsu suamiku (yang saat itu masih kuliah, sekarang sudah bekerja) untuk tinggal di rumahku, karena kasian melihat mereka selalu tertimpa musibah kebanjiran setiap tahun. Ayah mertua berpulang akhir tahun yang lalu. Tentunya, dengan kondisi saat ini, Ibu mertua akan tetap tinggal di rumahku. Namun, yang menjadi permasalahan adalah, sejak setahun ini, kakak iparku setiap hari (Senin-Jumat) menitipkan dua anaknya (usia SMP dan SD) kepada Ibu mertuaku. Alasannya, pertama, supaya maminya (ibu mertuaku) ada teman dan tidak kesepian; kedua, karena kedua iparku bekerja. Anak2 ini makan dua-tiga kali sehari dan mandi di rumahku. Selama ini, aku dan suami selalu memberikan uang belanja bulanan kepada ibu mertuaku. Tapi memang selalu habis sebelum bulan berakhir, karena biaya sayur dan lauk mahal (yang sangat saya pahami), sehingga, kami mesti selalu memberi tambahan lagi. Pertanyaan saya: 1. Apakah pantas jika saya ingin kakak iparku memberi kontribusi finansial atas biaya makan anak2nya di rumahku? 2. Bagaimana caranya yang santun untuk bisa menyadarkan kakak iparku, untuk ikut serta memberikan kontribusi finansial yang proporsional? Karena selama ini, suamiku menganggap gesture menerima dititipin keponakan ini untuk membantu keluarga mereka yang masih ‘kekurangan’ (suami kakak ipar kerjanya on dan off). Namun, aku sendiri merasa meskipun mereka ‘kekurangan’ kok rasanya gak fair kalo itu jadi justifikasi mereka agar kami menanggung pembiayaan makan anak2 mereka dari hari ke hari. Aku benar2 bingung. Di satu sisi, aku tidak mau terkesan jadi sangat perhitungan kepada mereka (bukankah mereka adalah keluargaku) atau menyulut perselisihan dengan kakak ipar, namun di sisi lain, aku merasa dimanfaatkan karena mereka tidak ada kontribusi, atau jika pun ada kontribusinya ‘hanya’ seadanya, misalnya Rp 100,000 sebulan, sementara uang belanja untuk keperluan makan (saja) bagi semua orang yang ada di rumah paling sedikit Rp 2.5 juta. Bukannya saya tidak menghargai kontribusi mereka, namun saya jadi merasa mangkel menyaksikan hal ini.

    Mohon saran Mba Ira yang baik. Terimakasih atas atensinya.

    Salam hangat, Agnes

Leave a Reply