Menyimpan Kue Keranjang Juga Ada Aturannya

Supaya lebih awet dan lebih enak dinikmati ternyata ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menyajikan dan menyimpannya kue keranjang. Apa saja?

cara menyimpan kue keranjang

Menjelang Hari Imlek, saya selalu menanti-nantikan kiriman kue keranjang. Soalnya, memang ada salah satu teman dekat Mama saya yang merayakan dan hampir selalu mengirimkan kue keranjang. Bahkan, kue yang terbuat dari tepung ketan ini bisa dibilang jadi salah satu cemilan favorit, termasuk Bumi, anak saya. Lucunya, Bumi selalu menyebut kue keranjang ini adalah dodol, hahaha.

Memang, sih, yah, tekstur yang kenyal dan lengket kue keranjang ini mirip seperti dodol, tapi ternyata kue keranjang memang bukan dodol. Informasi ini juga saya ketahui setelah membaca web budaya Tionghoa, di sana tertulis  kue keranjang sering disebut dan dianggap sama dengan dodol. Padahal ada perbedaan diantara keduanya.

Selain beda bentuk dan cara pengemasan, perbedaan antara dodol dan kue keranjang ini adalah bahan baku yang digunakan. Kalau dodol menggunakan bahan gula merah atau gula aren dalam pembuatannya , sedangkan kue keranjang tidak memakai gula merah, gula kawung ataupun gula aren , melainkan gula pasir. Dodol juga menggunakan santan, sementara kue keranjang tidak. Pantas saja, ya, kalau kue keranjang ini lebih tahan lama ketimbang dodol.

Tapi kalau dulu saya suka sebal kalau kue keranjang ini tiba-tiba jadi mengeras, alot nggak bisa digigit. Ternyata, kue keranjang ini memang perlu ‘treatment’ khusus dalam hal penyimpanan. Belajar dari pengalaman saya pun bisa menyimpulkan beberapa hal.

  1. Supaya lebih awet dan tetap kenyal, ternyata kue keranjang hanya perlu disimpan di dalam suhu ruangan. Biasanya, sih, kekenyalan kue keranjang ini bisa bertahan selama 3 hari.
  2. Menyimpan kue keranjang ternyata juga nggak perlu menggunakan wadah yang tertutup. Hal ini justru hanya meningkatkan risiko kue keranjang menjadi berjamur. Sayang kan?
  3. Kalau berjamur apakah kue keranjang nggak bisa dimakan? Umh… kalau saya, sih, selama umur kue keranjang kurang dari satu minggu dan ternyata sudah ada jamurnya, biasanya jamur tersebut akan saya potong saja, kue keranjang yang tidak berjamur bisa saya dinikmati lagi
  4. Langkah selanjutnya adalah jangan lupa untuk mengukusnya selama beberapa menit, dengan begitu kue jamur bisa kembali kenyal dan enak untuk disantap.
  5. Setiap orang pasti punya selera yang berbeda-beda, apabila Mommies lebih senang menikmati kue keranjang yang keras bisa menyimpannya di dalam lemari es. Biasanya, sih, kalau sudah masuk lemari es dan keras saya akan menggorengnya dengan adonan tepung.

Duuuh… tiba-tiba, kok, saya jadi mau nyemil kue keranjang goreng, ya. Ternyata menulis juga bisa bikin seseorang jadi kabita, ya, hahahahaa…. Oh, ya, saya  saya juga pernah mendengar seorang teman yang membuat puding panas dari kue keranjang. Katanya cara membuatnya juga sangat mudah, setelah dipotong-potong sesuai selera, campur kue keranjang dengan dengan santan kental, daging kelapa muda, telur dan kismis. Setelah disimpan dalam wadah, segera kukus hingga beku.

Umh, ada yang pernah membuatnya juga? Atau punya resep lain bagaimana menikmati kue keranjang? Oh, ya, ternyata memotong kue keranjang ini juga nggak perlu ribet, lho.


Post Comment