Berhenti Menjadi Ibu yang Menyebalkan

Ditulis oleh: Nayu Novita

Senang menjadi ibu, sayang sama anak… itu memang wajar. Tapiiii jangan sampai deh, kita menjadi sosok ibu yang menyebalkan karena berlebihan dalam berbagai hal.

Sejak pertama saya menjadi bunda, saya paham bagaimana serunya kehidupan sebagai orangtua. Dunia saya berubah dari yang awalnya serba saya menjadi semua untuk anak-anak dan hanya tentang anak-anak. Obrolan dengan teman-teman nggak jauh dari seputaran anak, postingan di sosial media juga lagi-lagi tentang anak. Menyenangkan rasanya…. masalahnya menyenangkan untuk siapa? Untuk saya sudah pasti. Untuk orang-orang di sekitar saya? Belum tentu.

Saking hanyutnya pada keseruan petualangan menjadi orangtua, tak sedikit di antara kita (termasuk saya) yang mengekspresikan rasa cinta pada si kecil secara berlebihan. Tanpa sadar, tindakan itu pada akhirnya membuat risih orang-orang di sekitar kita dan ujung-ujungnya, membuat kita dilabeli “gengges” oleh teman sepergaulan! Coba cek beberapa poin di bawah ini, jangan-jangan Anda juga sempat mengalaminya seperti saya.

Ibu yang menyebalkan

1. Terlalu rajin posting foto

Ada masanya saya ‘khilaf’. Dalam sehari saya bisa share foto atau video anak-anak saya di sosmed atau grup chat lebih dari 6 kali. Postingan pertama masih banyak yang memberi komentar, berikut-berikutnya hening dan senyap. Yah bagaimanapun kan teman-teman saya bukan orangtua dari kedua anak saya, ya. Mereka nggak perlu tahu (atau nggak peduli lebih tepatnya) apa yang dilakukan anak-anak saya setiap detiknya. Coba sortir mana yang layak diunggah dan mana yang cukup disimpan dalam folder pribadi. Kalau terlalu sering upload foto, jangan heran bila diam-diam banyak teman yang meng-unfollow akun medsos Anda. Pastikan juga Anda tahu aturan sebelum memposting foto anak di social media. 

2. Selalu membicarakan anak sendiri

Entah pada saat memulai obrolan atau ketika menanggapi diskusi teman-teman di grup chat, ujung-ujungnya saya selalu berbicara tentang kondisi si kecil di rumah. Semua selalu tentang anak saya. No wonder ada beberapa teman saya—perlahan tapi pasti, mengurangi frekuensi menelpon, mengirim SMS/BBM atau whatsapp, juga berkirim email karena bosan. Jangan heran jika semakin sedikit teman yang mau menanggapi obrolan Anda (yang selalu bertema tentang anak sendiri) – terlebih jika teman kita itu belum menjadi orangtua. Di sinilah dibutuhkan kerendahan hati dari kita *tsaaaah*. Turunkan ego kita sedikit, tanyakan kabar teman-teman dan cerita keseharian mereka.

3. Enggan bersosialisasi

Mengabaikan janji ketemuan dengan para sahabat, malas ikut berkomentar di grup chat, menunggu sampai hari selanjutnya untuk membalas email karena tidak mau perhatian dan waktu Anda teralihkan dari si kecil? Jika ini terus-menerus dilakukan, bisa-bisa teman-teman dalam lingkup pergaulan akan mengira Anda tak lagi enjoy bergaul dengan mereka. Selanjutnya, jangan heran bila nama Anda terlupakan dari ajakan untuk kumpul-kumpul di masa depan. Padahal bersosialiasi itu menjadi salah satu wadah penting agar seorang ibu tetap waras.

Apakah 4 hal berikut sering kita lakukan? Jika ya, siap-siap kita dianggap menyebalkan oleh teman-teman kita.


Post Comment