8 Kiat Mempertahankan Bisnis Bagi Mompreneur

Kesempatan menjadi momprenuer sudah terbuka lebar. Tinggal berani atau tidaknya untuk memulai melangkah, dan tentu saja mencari tahu bagaimana harus mempertahankan bisnis tersebut.

Jauh sebelum bergabung menjadi warga Female Daily HQ, saya punya bisnis kecil-kecilan yang saya beri label ‘Bumikubatiku’. Usaha yang nggak jauh dari dunia fashion di mana saya mencoba memproduksi tas dan sepatu dari beragam kain tradisonal seperti batik. Sayangnya, usaha ini mandek. Bukan lantaran  saya bekerja di Female Daily, lho, yah, tapi karena memang saya masih belum fokus dan kurang gigih saja.

??????????????????????????????????????

Padahal, dari dulu salah satu impian saya adalah punya usaha sendiri. Siapa tahu bisa sukses seperti beberapa mompreneur yang pernah saya wawancara seperti  Diajeng Lestari pemilik HijUp, Nilam sari yang jatuh bangun mempertahankan usaha Kebab Turki Baba Rafi bersama suaminya, atau, seperti Riri F. Hasan yang punya omzet 50 juta perbulan dengan modal dua lembar kain jilbab?

Bisa bertemu dan ngobrol mompreneur seperti mereka memang bikin gairah untuk punya usaha sendiri jadi  berkobar lagi. Buat saya cerita mereka sangat menginspirasi. Lagi pula, mengingat biaya ataupun gaya hidup semakin meningkat, rasanya perlu untuk mencari cara menambah penghasilan. Toh, memulai usaha saat ini bukanlah hal yang  mustahil, apalagi kalau ingin saat ini sudah banyak peluang yang ditawarkan.

Masalahnya, nih, meskipun menjadi mompreneur banyak untungnya, tapi ada hal yang paling sulit untuk dihadapi. Yaitu bagaimana mempertahankannya usaha tersebut. Saya ingat sekali waktu wawancara dengan Nilam Sari, ia sempat cerita kalau Kebab Baba Rafi sudah berada di ujung tanduk. Untuk bertahan dan membenahi kondisi perusahaan banyak sekali yang ia lakukan. Mulai dari merekrut tenaga kerja yang kompeten, memperbaiki culture perusahaan, mengubah strategi sehingga result-nya juga ada. “Wah, kalau ingat peristiwa ini masih trauma dan merasa gimana gitu, deh…” ungkapnya.

Ngomongin soal mompreneur survival tips, belum lama ini saya sempat ngobrol dengan Tina Wahono dan Lila Imeldasari, dua perempuan kreatif yang sampai sekarang masih mempertahankan binisnya, Tina Wahono Shoes dan Lemari Lila. Berikut beberapa tips yang sempat mereka berikan untuk saya.

  1. Terus belajar; belajar tidak melulu harus di sekolah, tapi belajarlah dari lingkungan sekitar termasuk belajar dari pekerja yang kita punya. Selain itu, sangat penting untuk belajar dari hal-hal buruk  yang pernah kita hadapi, sehingga kita mengerti bagaimana cara memperbaiki kesalahan yang pernah ada.
  2. Teruslah bermimpi; bermimpilah setinggi langit, sehingga kita punya semangat untuk mencari strategi baru dalam mencapainya. jangan pernah berhenti bermimpi. Ketika cepat puas dengan pencapaian yang sudah ada akhirnya membuat bisnis menjadi stagnan.
  3. Perlakukan pelanggan dengan baik; berusahalah memberikan yang terbaik bagi pelanggan, apa yang kita tawarkan itulah yang kita sajikan. Ketika satu pelanggan merasa kecewa tidak menutup kemungkinan hal tersebut bakal menyebar ke banyak orang, dan disitulah kehancuran dimulai. Hormatilah pelanggan, beri mereka keleluasaan untuk dapat berdiskusi dengan kita mengenai produk yang kita tawarkan.
  4. Membangun koneksi; mulailah membangun koneksi dengan berbagai pihak termasuk dengan kompetitor. Jangan pernah takut bersaing, karena produk kita tentu punya keunggulan dan keunikan tersendiri yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Dengan membangun koneksi tidak menutup kemungkinan kita dapat menjalin kerjasama dilain waktu.
  5. Fokus; jadilah solusi total bagi permasalahan konsumen, fokus dengan apa yang kita jalani dan yang kita punya. Disaat persaingan mulai ketat, kita harus tetap mempunyai prioritas utama untuk mencapai target bisnis.
  6. Jadwal kerja yang matang. Kerja kantoran ataupun tidak tentu kita harus punya kemampuan untuk mengorganisir pekerjaan dengan baik sehingga pekerjaan bisa selesai sesuai deadline.
  7. Suport system; sudah bisa dipastikan kalau menjalankan usaha ditengah kewajiban mengurus keluarga bukan perkara yang mudah. Untuk itulah dibutuhkan support sytem yang baik, terutama suami yang bisa diajak untuk bekerja sama dan memberikan dukungan penuh atas usaha yang tengah dibangun.
  8. Jangan banyak mengeluh. Sebenarnya ngedumel atau merasa kesal dengan situasi yang sedang dihadapi adalah hal yang wajar. Tapi, cobalah untuk merasa bahagia dengan pilihan yang sedang dijalani sehingga akan lebih ringan menghadapi masalah yang ada.

Waaah, kalau begini saya, kok, jadi semangat lagi, yah. Oh, ya, Tina Wahano dan Lila Imelda Sari juga mengingatkan, selain menyiapkan strategi untuk mempertahankan usaha, seorang mompreneur juga perlu mengetahui do’s & dont’s kelola uang.  Menjadi mompreneur, siapa takut?

 


Post Comment