Akrobat Bekerja di Rumah

Bekerja dari rumah memang kedengarannya enak ya mom. Tapi saya harus pandai menjadi pemain akrobat agar si kata enak ini bisa terealisasi.

Saya mungkin termasuk sedikit dari orang yang dianggap beruntung karena diperbolehkan bekerja dari rumah oleh kantornya. Jadi, ‘kantor’ saya ya ruangan kecil tempat komputer di rumah. Hari bekerja saya biasanya dimulai dengan mengecek tenggat, di tempat tidur. Setelah tiba waktunya bekerja, saya akan membuat segelas teh hangat (atau dingin, tergantung cuaca) sambil menunggu komputer saya booting. Lalu, saya akan mulai duduk di kamar kerja, membaca brief, kemudian mulai bekerja. Satu jendela untuk pekerjaan, satu jendela untuk berselancar di dunia maya, satu jendela lagi untuk menyetel musik.

Kita samakan persepsi dulu, ya. Untuk tulisan ini, segala tugas saya yang berkaitan dengan kantor tempat saya digaji saya sebut bekerja. Pekerjaan rumah dan segala lainnya saya asosiasikan dengan non-bekerja. Sebenernya, sama aja, tapi demi kemudahan menyampaikan pesan, kita anggap saja begitu.

600-00934319

Saya tidak menyadari, sebelum saya bekerja di rumah, bahwa sekat antara waktu dan tempat bekerja dengan kegiatan lain non-bekerja itu perlu apalagi buat yang punya anak di rumah. Senang sih bisa kerja sesuai dengan waktu dan keinginan kita. Mau makan? Tinggal ke meja makan. Tiba-tiba ingin menjahit? Tinggal pergi ke mesin jahit. Ngantuk? Selama nggak lagi kejar tenggat, bisa aja langsung menuju kasur. Bosan? Tinggal buka jendela buat berselancar di internet. Kangen anak? Tinggal dicari aja anaknya di rumah.

Salah satu keuntungan bekerja di rumah, ya kita tidak meninggalkan rumah. Kekurangannya, menurut saya, itu juga bisa berarti urusan rumah dengan mudah ‘bocor’ ke kantor. Memang, kita bisa menyiapkan pencegahan: mengatur jadwal kerja berbarengan dengan waktu istirahat anak, mengatur jadwal mandi, makan, tidur, dan main anak, bahkan menyediakan ‘pengasuh’ saat kita sedang bekerja. Namun, pada akhirnya ketiadaan sekat ini, membikin perhatian kita mudah teralihkan.

Lagi asik kerja, tiba-tiba anak tantrum dan nggak mau sama orang lain selain ibunya? Ya berhenti dulu kerjanya. Bisa sebentar, bisa lama. Lagi ngetik tulisan, tiba-tiba hujan? Larilah kita ke belakang untuk angkat jemuran. Lagi break lalu melihat rumah berantakan karena anak main? Bisa jadi break panjang ngajakin dia beberes.

Kalau dibilang ibu bekerja di rumah itu bisa lebih mudah membagi waktu dengan anak, saya bilang sih enggak juga. Karena bekerja dari rumah itu kalau nggak produktif ya sama aja bohong. Waktu bersama anak berbeda dengan waktu yang ‘dihabiskan bersama’ anak. Buat ibu bekerja di luar rumah ini keliatan banget bedanya karena secara fisik kita dipisahkan, jadi lebih kasat mata untuk menghitung berapa banyak waktu yang kita habiskan bersama anak. Buat ibu bekerja di rumah, bisa jadi lebih sulit. Makanya harus pintar manajemen waktu.

Saya sendiri, kalau ditanya berapa banyak waktu yang saya habiskan hanya untuk bersama anak, nggak bisa menjawab dengan pasti. Memang dari tidur sampai tidur lagi, bisa jadi saya bersama anak saya, tapi sambil ngejar tenggat ini itu. Padahal, penting banget ya bisa menghabiskan waktu bersama anak saja.

Sempat saya jadi ibu rumahtangga selama kira-kira 2 tahun sebelum akhirnya saya sadar kalau jadi ibu rumahtangga, tanpa mengerjakan yang lain, bukan sesuatu yang cocok buat saya. Saya suka jadi perempuan rumahtangga, tapi saya merasa ada hal lain yang perlu saya kerjakan di luar segala kemewahan tugas rumahtangga yang saya rasakan.

Ini, tentunya, nggak berlaku buat semua orang, ya. Ada yang memang perlu bekerja di luar rumah. Ada yang enjoy berat mengerjakan tugas rumahtangga dan nggak kepikiran untuk menyambi bekerja di rumah. Semua orang punya situasi dan kondisinya sendiri jadi saya tidak berminat membandingkan seolah segala faktor di hidup kita ini sama dengan orang lain.

Yang sama, menurut saya, bahwa baik ibu bekerja di luar rumah, ibu bekerja di rumah (kayak saya), atau ibu rumahtangga tok, kita punya tantangan tersendiri ketika berhadapan dengan persoalan membesarkan anak dan kita sama-sama berusaha sebaik-baiknya untuk anak dan keluarga kita.

Wicahyaning Putri, Editor di Keluarga Kita – yang semula bernama 24hourparenting.com – kini berubah menjadi keluargakita.com. Keluarga Kita adalah penyedia konten edukasi keluarga dan berharap bisa menjadi teman seperjalanan keluarga Indonesia. Ikuti updatenya di Twitter: @KeluargaKitaID, Instagram: @keluargakitaid dan Facebook: Keluargakitaid


Post Comment