Bekerja Dari Rumah, Benarkah ‘Produktif’?

Buat para mommies yang (sangat) aktif di media sosial, mungkin tidak melewatkan kehebohan kecil dari satu artikel di sebuah blog yang menjelaskan 17 tipe ibu di media sosial. Blog tersebut mencantumkan ‘disclaimer’ yang menyatakan bahwa isi blog ditujukan untuk mereka yang memiliki level humor dan sarkasme yang baik untuk bisa ‘menikmati’ isi blog tersebut. Well, that’s pretty clear, isn’t it? 

Mother and daughter (4-5) in home office

*Gambar dari sini

Saya tidak akan membahasnya lebih jauh, tetapi ada satu poin yang menggelitik, tentang peran ibu masa kini yang ternyata sudah mengalami pergeseran dibanding ibu-ibu dulu. Dulu, ibu bekerja ya artinya bekerja di luar rumah, 9 to 5, setiap hari kecuali hari libur. Kini, semakin banyak ibu yang berstatus sebagai home-maker, bekerja dari rumah. Dunia yang semakin terhubung, jalur komunikasi dan informasi yang sangat mudah diakses, ketersediaan internet di mana-mana, membuat semua orang sebenarnya bisa bekerja dari mana saja.

Mommies pun bisa bekerja dari rumah sebagai pemilik dan pelaku online shop, konsultan, hingga freelancer. Bekerja dari rumah kini dianggap sebagai sebuah privilege, sebuah pilihan sadar seorang Ibu yang ingin tetap bisa ‘in-touch‘ dengan anak-anaknya, sekaligus mengembangkan potensi produktifnya. Nah, penulis dalam blog di atas ‘menelanjangi’ fakta yang (mungkin) banyak dilihatnya, bahwa bekerja dari rumah ternyata tidak semanis kelihatannya -bisa dapat uang tanpa harus meninggalkan anak setiap saat-.

Menurutnya, penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan yang bisa dilakukan via online dari rumah -atau dari manapun selama ada colokan listrik- tersebut nyatanya tidak seberapa -dalam istilah saya mungkin hanya recehan untuk jajan-, tidak benar-benar menopang ekonomi keluarga. Malah cenderung lebih banyak berkutat dengan laptop dan ponsel dan tidak benar-benar mendampingi anak.

Well, tentu saja kita bisa menjawab pernyataan tersebut dengan menyebutkan secara lancar sejumlah home maker sukses yang bahkan bukan saja bisa menopang ekonomi keluarga, tetapi bergaya hidup sangat berkecukupan dari hasil bekerja dari rumah.

Tetapi saya yang juga berstatus sebagai ibu rumah tangga dan freelancer, tentu bisa memaklumi dan sangat tergelitik dengan ‘fenomena’ yang mampu ditangkap dan dibeberkan dengan baik oleh si penulis blog. Ada dua sisi yang bisa dikupas dari fenomena tersebut.

Pertama, benarkah memang motif ekonomi yang melandasi seorang ibu rumah tangga yang berperan sebagai homemaker (not a breadwinner)? Kebanyakan tidak. Hampir semuanya malah melandaskan keputusannya untuk ‘merumahkan diri’ karena dinamika keluarga dan keinginan bersama untuk lebih hands-on dalam mendidik dan mengasuh anak. Juga kesadaran untuk mengembangkan potensi diri secara lebih fleksibel.

Kedua, ini yang bisa digarisbawahi. Kalau memang kita adalah seorang ibu yang bekerja dari rumah, sudahkah kita mampu untuk bekerja secara efektif dan efisien, sehingga tercapai tujuan untuk lebih memerhatikan anak dan menjadi ‘pendidik’ pertama bagi anak? Ibu-ibu yang hadir secara fisik dekat dengan anak, tetapi tidak hadir secara emosi, tidak ‘produktif’ dalam mendidik dan mengasuh anak, buat apa?

So, bekerja secara efektif dan mampu mengatur waktu memang bukan keahlian yang wajib dimiliki working mom saja, tetapi juga harus dikuasai oleh ibu-ibu yang bekerja di rumah. Tunggu artikel selanjutnya tentang beberapa tips yang mungkin berguna untuk mommies yang bekerja dari rumah.


Post Comment