Gaul Pangkal Happy!

Ditulis oleh: Nayu Novita

Bukan cuma si kecil yang perlu bersosialisasi, para mommy juga perlu tetap menikmati waktu luang dengan teman-teman agar pikiran jauh dari suntuk dan (ternyata) membuat hidup lebih seimbang.

Slide 2

*Gambar dari sini

Waktu pertama kali punya bayi, saya sempat kewalahan karena benar-benar merasa clueless alias serba salah karena tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Alhasil, baby blues drama pun dengan sukses datang menyerang! Pernah dengar istilah “senggol-bacok”, kan? Naah… saya pernah tuh berada dalam posisi itu! Tekanan akibat mengurus bayi (sambil bekerja dan menyusun thesis), membuat saya jadi amat emosional dan gampang meledak.

Untungnya, seiring waktu, dukungan dari keluarga dan teman-teman berhasil membuat saya lebih rileks. Hanya dengan melakukan kegiatan sederhana, seperti ngafe bareng, amat membantu mengangkat “awan kelabu” dari wajah dan pikiran saya! Kini, setelah anak kedua beranjak besar pun saya tetap mempertahankan ritual hangout bersama teman-teman. Mau tahu sebabnya?

Kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain

Saya pernah membaca sebuah artikel di majalah tentang betapa kehadiran seorang anak bisa berpotensi menghancurkan hubungan pasangan suami istri. Menurut narasumber yang bernama Elly Taylor, seorang konselor perkawinan dan penulis buku Becoming Us; 8 Steps to Grow a Family That Thrives, hal ini salah satunya disebabkan oleh perasaan overwhelmed alias kewalahan (persis seperti yang saya rasakan!) yang dialami oleh ayah dan ibu baru.

Salah satu cara mengatasinya, menurut Taylor, adalah dengan tetap membina hubungan pertemanan dengan para sahabat dan relasi lainnya, sebagaimana dulu sebelum status kita berubah menjadi orangtua. Katanya nih, pada minggu-minggu pertama kelahiran bayi, orangtua memang perlu membangun semacam “kepompong” di sekeliling diri mereka dan si kecil untuk membantu menguatkan bonding antara satu sama lain sekaligus membiasakan diri dengan peran baru sebagai orangtua.

Tapiii… setelah masa-masa “mengasingkan diri” tersebut usai, maka secara alami akan muncul keinginan untuk melihat dunia luar dan mengejar ketertinggalan selama kita mengurus anak. Menurut Taylor, semua manusia perlu merasa dirinya terhubung dengan orang lain. Makanya, perasaan terasing dari dunia luar yang kerap kali dialami para mommybaik mereka yang baru saja menjadi ibu maupun yang sudah memiliki anak remaja, bisa membuatnya merasa mengalami ketidakseimbangan dalam hidup. Jadi, jangan merasa bersalah saat melakukan me time.

Jenis-jenis kegiatannya

Masalahnya sekarang, predikat sebagai orangtua biasanya datang bersamaan dengan menyusutnya waktu luang. Kira-kira, jenis kegiatan apa yang tetap bisa dilakukan bersama teman-teman sepergaulan tanpa mengakibatkan benturan dengan “tugas negara” di rumah ataupun di kantor?


Post Comment