The Baby Blues Drama

Seminggu setelah melahirkan, saya kontrol ke dokter kandungan. Berat badan saya turun 10 kg, dan pertanyaan pertama dari dokter kandungan saya adalah “Apakah kamu terkena post partum depression syndrome? Stres, Saz? Kok turunnya banyak sekali?” Saya yang saat itu sedang dalam keadaan bahagia maksimal, tentu menjawab dengan pasti, “Tidak, Dok. Saya seneng-seneng saja rasanya!” Dan selesai.

Dua minggu setelah melahirkan, ibu yang tadinya menemani dan membantu saya di rumah kembali ke Bandung. Siapa yang sangka, ketika suami dan saya sambil menggendong Menik, mengantar ibu sampai depan pintu, saya menangis. Tanpa ada sebab. Suami mengelus punggung saya dan bertanya, “Kenapa?”, dan tangis saya malah meledak saat itu. Sambil sesenggukan saya bilang, “Memang aku bisa jadi ibu, ya?” Berikutnya bisa ditebak, saya sibuk menangis. Menangis ketika Menik tidak mau tidur padahal sudah saya susui, dan popoknya tidak basah. Atau menangis kalau saya ingin pipis, tapi Menik tidak mau saya tinggal. Atau menangis setelah suami saya berangkat kerja. Bahkan, saya pernah menangis di bawah blower AC agar Menik mau tidur, karena saya sudah terlalu lelah menemani Menik melek dari pukul 6 sore hingga 8 pagi keesokan harinya. Pokoknya, cry was my middle name, back then! Haha.

Saya mengingat-ingat bahan bacaan di kala hamil, salah satunya di buku “What To Expect When You’re Expecting” milik Heidi Murkoff yang menyebutkan soal baby blues. Saya kutip sedikit, ya:

Baby blues appear (appropriately) out of the blue, bringing on unexpected sadness and irritability, bouts of crying, restlessness, and anxiety. Unexpected because — well, for one thing, isn’t having a baby supposed to make you happy, not miserable?

Yes, I feel miserable dan akhirnya saya akui kalau saya terkena baby blues ini. Bagian paling bawah bab soal baby blues menyebutkan jika kita tidak cepat mengatasi perasaan ‘biru’ ini, dikhawatirkan akan masuk ke tahap depresi. Maka sebaiknya segera perbaiki perasaan ketika kita sadar kalau si baby blues datang.

Hal pertama yang saya lakukan adalah mengaku ke suami kalau saya terkena baby blues, dan meminta dirinya menyiapkan telinga, dan praktikkan kata-kata mutiara “masuk kuping kiri, keluar kuping kanan” karena setelah ini, saya mau ngomel, mau melepaskan uneg-uneg yang mungkin sebagian besar hanya ‘perasaan’ saya saja. Dan benar sekali, Mommies. Satu jam saya menangis, mengeluarkan perasaan-perasaan negatif, yang disambut dengan anggukan, elusan di kepala, dan sedikit pelukan. Drama, ya? BANGETTTT!! Hahahaa. Semacam sinetronlah!

Setelah lumayan lega dan sadar kalau suami sudah tahu perkara baby blues ini, langkah kedua adalah berusaha menikmati peran baru dan berusaha percaya diri kalau saya bisa menjadi ibu. Akhirnya kira-kira 2 minggu kemudian, saya ‘berhasil’ melewati badai biru itu. Lebay? Nggak juga, sih, soalnya baby blues ini memang nggak enak banget rasanya, apalagi kalau sampai terkena post partum depression, ya? Karena kabarnya, kalau sampai masuk kelas depresi, kita membutuhkan psikiater, lho, untuk membantu mengatasinya. Dalam kasus yang ekstrem, baby blues yang mengarah ke depresi bisa membuat ibu tidak mau menyentuh anaknya sama sekali dan menganggap anaknya adalah musuh yang menyebabkan hidup si ibu berantakan.Ya, jadi ngeri!

Kuncinya menurut saya adalah komunikasi. Bantuan suami atau anggota keluarga lainnya sangat memudahkan ibu yang baru melahirkan untuk beradaptasi dengan keadaan baru. Jangan ragu untuk menangis, lakukan jalan pagi di sekitar rumah untuk menghirup udara segar dan mengganti suasana, beli (minta belikan suami, tepatnya) camilan kesukaan, dan yang pasti nikmati semua keadaan. Tingkatkan rasa percaya diri sedikit demi sedikit sampai perasaan sedih itu hilang, pasti bisa! Eh, ngobrol bareng member Mommiesdaily di forum juga bisa jadi obat, lho! Belum ada waktu buat posting di forum? Sekedar baca juga biasanya jadi obat, kok! You’re not alone, Mommies. Be a happy one ;)