Apa Jadinya Anak dari Ibu Bekerja?

Ditulis oleh: Kurnia Midiasih

Mungkin ini akan jadi artikel yang akan mengobati perasaan bu bekerja yang selalu dikejar rasa bersalah karena “meninggalkan” anak di rumah demi pekerjaan. Pertanyaan utamanya adalah “apa jadinya anak dari ibu yang bekerja?”.

Saya adalah ibu bekerja. Saya meninggalkan kedua anak saya untuk mengajar di pagi hari lalu bekerja di kantor pada siang hari. Anak pertama lebih beruntung karena baru saya tinggalkan saat dia sudah berumur satu tahun. Sementara itu, anak kedua sangat tidak beruntung karena saya terpaksa sudah harus kembali bekerja saat dia berumur satu bulan. Mungkin seperti pikiran ibu-ibu bekerja lainnya, anak-anak yang punya stay-at-home-mom adalah anak-anak yang sangat beruntung, karena mereka berlimpah kasih sayang ibu dan sepenuhnya diawasi ibu, bukan “si mbak”.

working_mom

*Gambar dari sini

Namun sebuah hasil penelitian oleh Harvard Business School pada bulan Mei lalu agaknya mengobati sedikit rasa bersalah saya. Dalam penelitiannya terhadap sekitar 50.000 orang dewasa di 25 negara menyebutkan bahwa anak perempuan dari ibu bekerja kelak dewasa banyak yang mendapat pekerjaan yang lebih baik, pendapatan yang lebih besar, dan pendidikan yang lebih tinggi dari anak-anak dengan ibu yang berada di rumah. Sementara itu, anak laki-laki dari ibu bekerja, kelak dewasa akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama anak-anak mereka dan terlibat dalam urusan domestik.

Penelitian yang banyak dikutip berbagai media internasional, seperti Forbes, The Guardian, dan Sydney Morning Herald ini merupakan penelitian gender. Dari penelitian ini juga diperoleh hasil bahwa dari melihat ibu bekerja, anak perempuan jadi belajar bahwa mereka juga bisa mencapai posisi yang lebih tinggi dalam hidupnya, dan anak laki-laki pun menerima istri mereka untuk bekerja di luar dan mereka mau membantu pekerjaan di rumah.

Terlepas dari penelitian yang cukup membuat saya bisa tersenyum dan usaha saya untuk melihat poin-poin positif sebagai ibu bekerja, saya sendiri merasakan bahwa ada kok (banyak bahkan) hal positif yang dipelajari oleh kedua anak saya dari saya si ibu yang bekerja ini.

  1. Kemandirian

Saya merasa kalau kedua anak saya lebih mandiri. Mungkin karena mereka di rumah sama neneknya dan saya selalu mengingatkan mereka kalau jangan terlalu ‘menganggu’ nenek.  Jadi, apa-apa mereka terbiasa mencoba melakukannya sendiri dulu. Kalau sudah mencoba tetap tidak bisa, baru mencari bala bantuan, hehehe. Mereka pun bukan tipe anak yang harus ditemani ibu baru bisa tidur. Kalau memang sudah mengantuk, ya dengan sendirinya mereka akan jatuh tertidur.

  1. Disiplin

Melihat ibunya yang memiliki ritme kerja cukup teratur dengan pembagian waktu yang juga sangat disiplin, ternyata hal ini menular ke anak-anak saya (terutama yang besar).  Anak saya yang besar sudah terbiasa bangun tidur jam berapa, makan jam berapa, belajar jam berapa dan tahu kapan waktunya bermain.

  1. Lebih menghargai waktu dan uang

Saya terharu ketika anak saya yang besar sudah mulai paham bahwa ibunya bekerja untuk mencari uang buat ia dan adiknya. Jadi ia bukan tipe anak yang gampang minta jajan atau beli ini itu, hehehe.  Setiap dapat uang jajan pun, jarang banget uangnya dihabiskan. Seringnya ada sisa sedikit untuk ditabung di celengannya.  Dan, ia pun juga kelihatan banget kalau saya ada di rumah benar-benar mencoba untuk memaksimalkan waktu di antara kami.

  1. Percaya Diri

Mungkin saya memang tidak bisa selalu mengantarnya ke sekolah. Atau menemani ketika ia belajar. Tapi believe it or not, hal itu nggak membuat anak saya merasa tidak pede atau merasa tidak diperhatikan. Bahkan, ternyata, si kakak suka membanggakan ibunya yang bekerja, lho. Dan terlihat banget, kalau dia lagi main sama teman-temannya, dia selalu dengan penuh percaya diri mengatakan ke teman-temannya kalau Ibunya mengajar dan membuat orang menjadi pintar.

  1. Memiliki cita-cita tinggi

Iya, saya paham yang namanya anak itu pasti cita-citanya masih berubah-ubah. Tapi setidaknya saya senang karena melihat ibunya bekerja, punya penghasilan, bisa membantu biaya hidup keluarga, anak saya jadi selalu mengatakan kalau ia ingin seperti saya. “Aku ingin nanti kalau besar seperti ibu, ah. Pintar cari duit.” Nah, kalau sudah terlontar kalimat begini, biasanya saya sambung dengan pesan terselubung “Kalau mau pintar cari duit, berarti kamu harus punya keahlian yang akan dicari banyak orang dong.” Dan, si kakak pun dengan berapi-api menjawab “Iyaaa pasti. Makanya aku mau belajar yang pintar, sekolah yang tinggi dan jadi orang sukses.” Ibu pun bisa berkata amiiiiiin, hahaha.

 

Sumber:

Forbes.com

Dailymail.com

Theguardian.com

Telegraph.co.uk


5 Comments - Write a Comment

  1. saya adalah produk dri org tua yg ibunya bekerja kantoran begitupun suami,tapi saya tdk pernah merasakan ada “jarak” dri org tua saya (baca : ibu),saya tetap merasa “dekat” & tdk pernah merasa kasih sayang yg mereka berikan kurang,intinya mmg quality time sih dgn anak2,bukan bermaksud menyudutkan yg full time mom,full time mom itu hebat bgt menurut saya,balik lagi pada diri sendiri ya,semua itu adalah pilihan :)

Post Comment