A Note to All Working Moms Out There

Kalau baru-baru ini Ameeel menulis curhatan hati seorang Stay at Home Mom (SAHM), kali ini saya mau menyapa para working moms di luar sana dan menulis tentang satu hal yang sangat akrab dengan kehidupan ibu bekerja: rasa bersalah.

Sayangnya, saya tidak akan berbagi jurus jitu untuk menghilangkan rasa bersalah, karena menurut saya rasa bersalah itu memang datangnya sudah “satu paket” dengan menjadi ibu bekerja. Saya pernah datang ke sebuah acara, di mana Ibu Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mengaku bahwa satu hal yang belum bisa beliau hilangkan adalah rasa bersalahnya kepada anak-anak, karena beliau tidak selalu ada di rumah. Bayangkan! Seorang Ibu Mari yang pekerjaannya adalah mengemban tugas negara dan bisa mengubah nasib jutaan rakyat Indonesia saja masih merasa bersalah – apalagi kita? Jadi justru dalam tulisan ini saya ingin mengatakan: jangan merasa bersalah karena punya rasa bersalah! Berdamailah dengan diri sendiri, terima bahwa rasa bersalah itu kadang datang, tapi juga jangan larut dengan rasa tersebut sehingga kita tidak bisa menikmati asyiknya menjadi wanita karir – atau malah membuat kita mengambil keputusan yang kurang matang.

Baru-baru ini saya dilanda rasa bersalah yang lumayan hebat karena jarang sekali ada di rumah untuk Aluf. Berhubung Aluf sudah TK dan masuk sekolah lebih pagi, ia pun pergi tidur lebih cepat setiap malam. Jadi jika saya sampai di rumah lewat pukul 19.30, sudah bisa dipastikan dia bisa tidur. Sementara siapa, sih, di antara kita yang bisa sering-sering sampai rumah sebelum pukul 19.30? Yang membuat hati saya mencelos, suatu sore, sebuah pesan di Whatsapp datang dari si Mbak yang bercerita bahwa Aluf sekarang sudah bisa mengendarai sepeda roda empatnya, yang saya belikan sebagai hadiah ulang tahun hampir setahun yang lalu. Another big moment of her life I had to miss. Mommies pasti tahu, ya, bagaimana sedihnya rasanya?

Setelah curhat lewat Twitter dan ke beberapa teman, keesokan harinya, datang dua pesan ke ponsel saya di waktu yang hampir bersamaan, dan pesan ini langsung membuat hati saya hangat dan saya jadi bisa kembali tersenyum. Yang satu dari sesama working mom yang tahu persis apa yang saya alami, sementara pesan satu lagi dari seseorang yang belum menjadi orangtua tetapi bisa menunjukkan ke saya hal yang saya hampir lupa: bahwa bekerja di luar rumah adalah bentuk rasa cinta saya terhadap Aluf yang tidak terukur dalamnya.

Berikut saya copy paste di sini pesannya, ya. Semoga bisa menjadi “pukpuk” yang menenangkan untuk working moms yang sedang dilanda rasa bersalah. Cheer up, Moms! :)

Affi, aku sampai terharu liat Aluf udah bisa naik sepeda. Semoga sebagai ibu kita tidak terlalu sering kehilangan big moment dalam kehidupan mereka, ya, Fi. Life as a working mother is always on overtime in Jakarta.”

Being a great mother and a working woman is not easy, sometimes you will have to miss a game with your daughter or a first ride with a bicycle, other times you will have to put the phone in silence mode just to disconnect you from the office. But somehow you have proved to know how to keep a good balance, so she knows you are there for her when it does matter, while making sure she’ll have to dig less than you did because you have already cleared the path for her with hard work (and a little bit of fun).

 


49 Comments - Write a Comment

  1. Wah, terlambat baru baca thread ini, senang sekali bisa mendapat dukungan moral secara langsung maupun tidak dari sesama moms, supporting system memang yang paling penting. Kebetulan aku terlahir dari keluarga wanita pekerja, dari jamannya nenek, semuanya kerja, dan setiap ada yg merasa bersalah atau sedang down, my grandma or my mom will step up and make me feel better. Paling sedih kalau ada komentar dari ibu2 lain yg kebetulan bekerja di rumah atau tidak bekerja yg kadang memojokkan pilihan orang lain. Sudah merasa bersalah, jadi tambah down rasanya kalau dengar komentar yang ngga enak gitu. Semangat buat para ibu bekerja, ayo kita buat kualitas waktu dengan anak yang lebih baik untuk mengkompensasi kuantitas yang kurang

  2. kalo saya yakin 1000% lebih baik kondisinya dengan saya bekerja, in my case quality time dengan anak anak lebih baik pada saat saya bekerja. ada kangen tiap hari itu loh. seruu!
    Untungnya kantor juga gak kudu ontime come and go, alias mobile. :D

Post Comment