Ini Ciri-ciri Orangtua Masa Kini

Menurut saya nih, nggak hanya fashion dan beauty yang mengikuti perubahan zaman. Tapi juga gaya pengasuhan orangtua terhadap anak  juga mengalami perubahan.

Saat dulu saya masih kecil, saya ingat pernah mendengar eyang puteri dan mama saya berdebat tentang anak-anak mama saya yang notebene perempuan semua didaftarkan les karate. Kata eyang, namanya anak perempuan harusnya kursus (KURSUS) menjahit  (daaaaang). Tapi untung mama saya kekeuh jadilah saya dan kedua kakak selamat dari urusan jahit menjahit :p.

Dan, sekarang, setelah memiliki anak, saya pun kerap berbeda pendapat dengan mama, tentang apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan ke anak-anak saya. Menurut mama, saya terlalu memanjakan anak-anak. Dan, lagi-lagi, menurut mama, dulu dengan gaya pengasuhannya, ketiga anaknya baik-baik aja dan tetap hidup kok sampai detik ini. Kenapa sekarang cucu-cucunya harus mengalami perbedaan pola asuh? Hal yang hingga detik saya membuat tulisan ini, masih belum dipahami mama.

Terlepas dari perdebatan antara orangtua masa dulu dan masa kini (iya deh yang kekinian…), tidak bisa dihindari yang namanya perubahan pasti terjadi. Dan, ini yang saya lihat dari perilaku orangtua masa kini, termasuk saya.

Sober-Mommies-I-Feel-Like-My-Recovery-Community-Forgot-Me

*Gambar dari sini

  1. Bergabung dengan komunitas

Hayooo, ngaku, siapa di antara mommies di sini yang tergabung dengan setidaknya satu komunitas? Senangnya dengan semakin banyaknya komunitas, terutama komunitas parenting, kita sebagai orangtua jadi memiliki banyak sekali wadah untuk saling berdiskusi dan bertukar informasi. Sekarang, para orangtua baru kayaknya nggak buta-buta amat deh untuk urusan merawat bayi baru lahir, menyusui, dan masih banyak lagi. Dengan adanya komunitas, kita semacam memiliki teman berbagi bahagia dan derita kan? Bahkan untuk mencari rujukan dokter atau Rumah Sakit yang oke bisa didapat dari komunitas.

Senang memiliki banyak teman senasib sependeritaan sudah pasti. Tapiiii, jangan sampai ini membuat kita semacam ‘ketagihan’ dan bergantung banget dengan komunitas tempat kita bergabung. Dan, jangan sampai deh, ketergantungan ini membuat kita rela dihujat mereka hanya karena, mungkiiiiin kita memiliki pandangan yang berbeda. Bagaimanapun, teman itu memang tempatnya curhat dan dimintai pendapat, tapi bukan berarti mereka mempunyai hak sebagai pengambil keputusan dalam hidup kita. Setuju mommies?

  1. Kerap “menyogok” anak

Sebagian besar orangtua sekarang, dua-duanya pasti bekerja. Saya nggak bicara tentang bekerja kantoran ya, tapi bekerja dalam bentuk apapun! Tuntutan hidup yang semakin tinggi, impian untuk anak-anak yang juga semakin luar biasa membuat dua-dua orangtua sibuk mengumpulkan bekal materi demi masa depan anak. Biasanya, kalau sudah sibuk senin-jumat, yang udah-udah, weekend menjadi ajang untuk menebus rasa bersalah.  Jalan-jalan ke mall, makan di restoran, belanja mainan atau apapun yang si kecil mau. Atau berapa bulan sekali traveling.

  1. Mulai menganut gaya hidup sehat

Poin nomor tiga ini benar-benar saya rasakan, walaupun sampai saat ini masih adalah masa-masanya saya terjebak dengan renyahnya gorengan pinggir jalan, atau nyamannya berpelukan dengan guling dibanding mengangkat bokong untuk berolahraga. Nggak tau ya kenapa setelah punya anak saya jadi niat banget untuk hidup sehat. Mungkin alasan utamanya karena saya mau hidup selamaaaa mungkin untuk menemani anak-anak saya, hehehe. Dan, hidup sehat ini nggak hanya diterapkan ke diri sendiri, tapi juga ke anak-anak saya.

No MSG, No fastfood, No too much sugar and salt, sebisa mungkin memilihkan bahan makanan organik untuk anak, ikut yoga, pilates, klub kebugaran, mengajak anak aktif bergerak. Hmmm, apalagi ya? Pokoknya benar-benar dipikirkan deh apa yang masuk ke dalam mulut dan apa yang dilakukan oleh tubuh.

Tapi, sesekali saya masih sih mengizinkan anak-anak merasakan lezatnya MSG (guilty pleasure bersama kalau yang ini). Soalnya saya mikir, umpama benar-benar saya larang, ada masanya mereka juga akan ‘nyuri-nyuri’ mencicip makanan itu di saat mereka sudah mulai sekolah.

  1. Merasa bersalah kalau memarahi anak

Dulu, saya sempat melakukan hal ini. Maksudnya gini, saat anak-anak saya sukses melakukan sesuatu yang membuat alarm marah saya menyala, saya serba bingung mau bertindak apa. Mau teriak atau membentak, tapi kata buku-buku pengasuhan anak, sekian juta sel otak anak akan mati saat menerima bentakan.  Lah, saya nggak mau dong sekian juta sel otak anak saya itu mati. Tapi kalau hanya ditegur dengan suara sok disabar-sabarin dan dimanis-manisin biar sesuai dengan saran para ahli, kok ya nyiksa juga buat saya sebagai orangtua. Jadi serba salah. Sering saya membentak kemudian menyesal (dih…. aneh deh pokoknya). Akhirnya, yang terjadi malah anak saya sempat jadi pintar manipulatif.

Inilah yang menjadi sumber perdebatan antara saya dan mama kemudian. Pembelaan mama saya “Dulu kamu mama bentak buktinya baik-baik aja!”  Lalalala…… kemudian pura-pura nggak dengar.

Ternyata banyak saya lihat orangtua sekarang yang bersikap seperti saya. Jadinya anak malah cenderung dibiarin berbuat apa saja atas nama sedang bertumbuh dan eksplorasi. Nah, untuk kasus satu ini akhirnya saya sampai menyempatkan diri curhat ke mbak Vera Itabiliana. Dan, saya pun mendapatkan pencerahan, hehehe.

Menurut mbak Vera, kalau anak salah ya memang harus ditegur, dimarahin dan diberi konsekuensi (saat mendengar hal ini mama saya tersenyum lebar). Cuma memang jangan dibentak. Lebih baik sebut nama anak dengan suara keras, seenggaknya anak tahu kalau mamanya lagi marah nih dan menjadi warning untuk si anak kalau sudah keterlaluan. Yang perlu dihindari adalah membentak anak kemudian ngatain anak macam-macam.

Apa 3 ciri berikutnya?


Post Comment