Belajar Jadi Pasien Cerdas, Bukan Sok Tahu

Sekarang dalam hubungan antara pasien dengan dokter, tak hanya dokter yang dituntut untuk cerdas, karena pasien pun juga perlu cerdas. Tapi, jangan sampai cerdas berubah menjadi sok tahu.

Sejak punya dua orang anak, sejak virus dan bakteri semakin canggih, hubungan saya dengan dokter cukup ‘harmonis’ alias cukup rutin ke dokter. Karena minimal kalau tidak sakit, ya harus imunisasi bulanan anak-anak ataupun vaksinasi diri sendiri. Berhubung saya nggak pernah mau punya satu dokter andalan (kebayang repotnya kalau si dokter andalan ini lagi tidak praktik dan cuti dalam waktu yang lumayan lama), saya jadi sengaja mempunyai beberapa pilihan dokter baik itu untuk dokter anak, dokter kandungan, dokter penyakit dalam sampai dokter THT.

Dan, dari hasil ngobrol-ngobrol dengan para dokter ini, saya jadi paham jenis pasien yang mereka suka seperti apa. Hmmm, ternyata nggak hanya pasien yang punya dokter favorit, dokter pun punya pasien favorit.

D

*Gambar dari sini

  1. Riwayat kesehatan yang lengkap

Saat datang ke dokter dengan keluhan tertentu, coba sampaikan dengan detail dan jelas tentang keluhan yang dialami. Misalnya, kapan demam mulai timbul,  kapan ruam mulai timbul (saat demam tinggi atau demam turun), dari bagian tubuh mana ruam mulai timbul, catat suhu tubu, gejala apa lagi yang muncul selain demam, adakah keluarga atau tetangga yang menderita penyakit yang sama. Jika ada alergi terhadap sesuatu, selalu ingatkan dokter tentang alergi tersebut. Dengan informasi detail seperti ini dokter jadi lebih mudah mendiagnosa kemungkinan penyakit.

Jika memang Anda ada feeling kalau akan diminta melakukan tes laboratorium atau rontgen, tidak ada salahnya membawa hasil laboratorium dan rontgen terakhir yang dimiliki. Jika dalam kasus sebelumnya Anda sudah ke dokter dan sudah diberi obat namun belum sembuh juga, lalu  Anda ingin pergi ke dokter yang berbeda, jangan lupa untuk informasikan jenis obat yang Anda dapat sebelumnya.

  1. Banyak tanya

Dokter kan juga manusia yang bisa lupa, jadi kalau memang ada hal lain yang belum jelas dan Anda ingin tanya, tanyakan saja. Kalau saya pribadi, setiap kali dokter memberikan obat, saya pasti akan bertanya, obat apa saja yang didapat, manfaat dari masing-masing obat, cara minumnya bagaimana (sebelum atau sesudah makan, boleh digabung dengan obat lain atau minumnya diberi jarak waktu). Kalau sudah ada antibiotik, saya akan tanya lagi, kenapa harus antibiotik.

  1. Dokter dan Google adalah dua hal yang berbeda

Saya tipikal orang yang selalu mencari informasi terlebih dahulu berkaitan dengan keluhan-keluhan sakit yang saya ataupun anak-anak alami. At least dengan mencari tahu, saya jadi sudah punya gambaran tentang jenis-jenis penyakit yang mungkin diderita, pengobatannya dan lain sebagainya. Jangan salah, dokter senang kok kalau kita mencari tahu, karena ini bisa menjadi diskusi dua arah yang menyenangkan.

Tapi jangan sampai setiap kali dokter menerangkan kemudian kita menjawabnya dengan “Tapi, kalau saya baca di google atau internet begini dok,” “Tapi kalau saya baca di internet nggak begitu dok,”. Intinya jadi berkesan kalau kita meragukan penjelasan yang disampaikan oleh si dokter.

Boleh-boleh saja menyampaikan informasi yang kita terima dari sumber manapun, tapi sampaikan dengan kalimat yang baik tanpa  berkesan kita sok tahu dan tahu lebih banyak dari si dokter.

  1. Setiap pasien memiliki hak yang sama

Suka sebal kalau ada pasien sebelum kita menghabiskan waktu yang lamaaaa di ruangan dokter? Membuat kita harus menunggu lama dan antrian pasien juga semakin panjang? Saya masih suka bersikap seperti itu sih *__*. Sebal rasanya kalau dokter dan pasien (selain saya) menghabiskan waktu lama di dalam ruangan. Dih, tau nggak sih banyak yang nunggu di luar. Tapi kalau posisi di balik, kalau saya yang ada di dalam ruangan dan memang saya benar-benar butuh berbicara lama dengan si dokter? Apa saya mau diburu-buru?

Jadi, walaupun masih suka sebal, saya coba sabar dan mengingatkan diri saya, kalau nanti saya yang di dalam ruangan dokter, saya juga akan mendapat hak yang sama kok. Walaupun ketika anak cranky karena menunggu lama, ya saya cuma bisa menghela napas.

  1. Jangan hobi berobat ‘digital’

Saat BBM, MMS dan Whatsapp sudah menjadi bagian dalam hidup sehari-hari, saya pernah kalau anak sakit, sedikit-sedikit minta obat dan saran hanya melalui whatsapp atau bbm. Kasih tau gejalanya ke dokter, atau saat ada gejala fisik seperti timbul ruam atau anak diare, saya cukup foto ruamnya lalu kirim ke dokter terus bertanya, kira-kira anak saya sakit apa dan obatnya apa.

Mudah sih memang, nggak harus ke rumah sakit, macet dan antri. Tapi ternyata, dokter langganan saya akhirnya menegur. Menurut beliau, ada jenis penyakit yang mungkin cukup diobati dengan berobat via smartphone, tapi ada jenis penyakit yang nggak bisa diobati hanya dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Dan, dokter saya juga bilang, bahwa dia adalah dokter bukan cenayang yang bisa mengobati penyakit dari jarak jauh (ouch…. saya pun tertohok mendengar sindirannya).

Nah, kalau versi pasien cerdas menurut mommies apa? Yuk sharing di sini.

 


3 Comments - Write a Comment

  1. Sama lho kita mom!!! Hahaha..tapi di awal2 aku merasa jangan2 dokternya bete karena aku banyak tanya ini itu, terutama terkait pengobatannya. Aku selalu browsing dulu sebelum bawa anakku ke dokter. Malah, terus terang, kadang2 aku sok ngobatin sendiri, hehehe.
    Soal dokter andalan, aku kebetulan ada satu dokter yang cocok banget sama kedua anakku yang punya alergi macem2, sebelas-dua belas sama ayah-ibunya hehe. Kita sudah coba ke beberapa dokter, dan si dokter andalan inilah yang paling oke. Diagnosa tepat, pengobatannya tepat, praktek hari sabtu, lokasinya juga dekat rmh, dan yang terpenting alergi anak2ku juga terkendali.
    Konsultasi via sms/wa juga sering, biasanya kalau sakitnya pas malam hari atau pas dokter andalan lagi ga praktek. Jika anakku sakitnya tetep berlanjut, baru deh kubawa ketemu dokter.
    Thanks ya mommy artikelnya sudah mengingatkan kita untuk lebih bijak lagi ketika berhubungan dengan dokter.

  2. Kalo aku malah mungkin saking lamanya nunggu antrian dokter -keseringan- pas konsultasi jadi blank. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di otak malah terbang semua… Kalo udah keluar ruang konsultasi baru inget hehe, padahal udah dicatet tuh…

    Pernah baca di salah satu milis sih, sepulang konsul kita -pasien- setidaknya harus tau 1) diagnosa penyakit 2) terapi pengobatannya 3) kapan harus kembali ke dokter.

    Semoga nggak usah sering-sering ke dokter ah… :D

Post Comment