Grandparenting VS Parenting

“Mengurus cucu itu lebih susah dari ngurus anak sendiri”

Kira-kira beginilah kalimat yang dilontarkan Mama saya beberapa waktu lalu. Mendengar keluhannya tersebut, jelas bikin saya khawatir. Bagaimana tidak, setiap hari saya, kan, masih menitipkan anak pada Mama saya karena kami masih tinggal satu atap. Wajar saya jika saya langsung berpikir, “Wah, kenapa, ya,  nyokap sampai bisa bilang begitu?”

Sejak menikah dan punya anak, saya memang masih tinggal di rumah orangtua. Bukannya nggak mau mandiri seperti keluarga lain, keputusan ini kami ambil berdasarkan beberapa pertimbangan. Salah satunya karena rumah second yang kami beli belum direnovasi. Akibat kelamaan menunda, biaya yang harus kami persiapkan pun semakin melonjak. Walaupun begitu, bukan berarti kami tidak punya target untuk membangun ‘istana’ sendiri.

Selain karena alasan tinggal serumah, menitipkan anak pada orangtua memang jadi pilihan yang tepat untuk kondisi saya sekarang. Kalaupun ada perbedaan pola asuh, ya, wajar saya. Saya sangat percaya, dengan berkompromi, tentu bisa meminimalkan terjadinya konflik. Ngomongin soal konflik yang terjadi ketika masih menitipkan anak pada orangtua, saya jadi teringat dengan apa yang dikatakan salah satu psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, Spsi, Msi, Psi. Mbak Nina ini bilang kalau ‘gesekan’ yang sering terjadi ketika anak dititipkan pada orangtua lebih disebabkan karena perbedaan standar gaya pola asuh.

bumi1

“Seringkali banyak nenek yang zaman dulu itu tidak mau atau sulit untuk diajak konseling, sementara untuk nenek yang kekinian, mau ikutan, jadi saya sebagai psikolog bisa berbicara dengan keduanya. Sebetulnya memang akan sangat membantu jika saat konseling keduanya hadir bersama-sama. Jadi mereka bisa sama-sama mendengarkan.”

Hal ini sebenarnya wajar saja terjadi. Mengingat dunia parenting saat ini, jauh berbeda dengan kondisi 20 tahun hingga 30 tahun yang lalu, ketika para orangtua mendidik kita saat kecil. Jadi, kalau memang gaya asuh yang kita pilih jauh berbeda dengan gayu asuh orangtua, sebenarnya ini salah satu risiko yang harus kita ambil. Tapi, bukan berarti nggak ada jalan tengah yang bisa dipilih kok, Mbak Nina menyarankan agar sedari awal kita melakukan kompromi terlebih dahulu. Apa saja?

Anak tanggung jawab orangtua

Salah satu hal yang paling utama dan harus kita ingat adalah anak adalah tanggung jawab kita, bukan tanggung jawab orang tua kita atau kakek dan nenek. Mereka hanya bertugas sebagai ‘pengawas’, mengurus segala urusan dan keperluan anak bukanlah tugas mereka. Nggak mungkin, dong, ya, Mama saya yang usianya sudah di atas 60 tahun harus menemani Bumi bermain sepeda atau lari-larian di taman? Usia anak 5 tahun seperti Bumi itu kan sedang aktif-aktifnya. Untuk itulah saya selalu berusaha keras untuk mencari pengasuh sehingga bisa menemani Bumi. Sementara Mama saya, tugasnya hanya mengawasi. Jangan sampai kebutuhan anak tidak dipenuhi dengan baik. Hal ini pun berlaku untuk kebutuhan anak yang lain seperti makanan dan yang lainnya.

Buat kedekatan

Sebelum menutuskan untuk menitipkan anak pada orangtua, coba, deh, cek ulang bagaimana hubungan kita dengan orangtua atau mertua. Sudah dekat atau belum? Apakah komunikasi kita dengan mereka sudah baik? Jangan sampai sejak awal hubungan kita kurang harmonis, sehingga untuk menitipkan anak pun akan semakin sulit dan rentan timbul konfik. Seperti yang dikatakan Mbak Nina, “Ketika kita bisa nyaman ngobrol dengan orangtua kita, tentu masalah menitipkan anak akan jauh lebih sukses. Dengan begitu kita bisa lebih nyaman untuk membicarakan segala hal, termasuk masalah pola asuh.”

Batasan yang jelas

Banyak orang merasa khawatir dengan mengatakan kalau ada beberapa sikap dari orangtua kita bisa membuat anak terlalu manja, lebih mudah tantrum dan menjadikan orangtua kita sebagai ‘penyelamat’. Saya sendiri, sih, nggak setuju, ya. Hal ini bisa dicegah kalau sejak awal kita bisa berkompromi dan menyamakan pola asuh. Dengan begitu, ‘aliran’ yang diterapkan pun akan sama. Dengan menyamakan pola asuh seperti ini, anak pun tidak jadi bingung karena konsisten menghadapai sikap orangtua ataupun nenek kakeknya.

Saya sendiri merasa sangat beruntung karena Mama saya masih bersedia untuk menjaga anak saya, Bumi. Soalnya, ada juga, lho, orang tua yang sakelijk dengan mengatakan tidak mau ketitipan cucu.  Sementara, tangan beliau sangat terbuka untuk mengawasi dan menjaga cucu-cucunya.  Tidak jarang Mama saya rela untuk tidak mengikuti pengajian mingguan lantaran harus menjaga cucunya. Bahkan, ada masanya ketika Kakak saya tidak punya asisten rumah tangga, Mama saya rela bolak balik ke rumahnya di daerah Pamulang untuk menjaga keponakan saya. Sorenya ketika kakak saya pulang kerja, Mama saya baru pulang rumah. Kurang baik apa coba?

Jangan adu mulut di depan anak

Walaupun sudah membuat batasan jelas, bukan berarti aman dari konfik, lho. Saya yakin, pada praktiknya pasti ada masanya kita akan mengalami gesekan atau perbedaan suara. Jika hal ini terjadi, Mbak Nina Teguh menyarankan agar kita mengalah lebih dulu. Maksudnya begini, wajar saja jika kita tidak sependapat dengan sikap yang dipilih orangtua. “Untuk masalah ini saya selalu bilang, jangan berantem di depan anak. Jadi, siapa duluan yang ngomong atau mengambil sikap, ‘menangin’ saja dulu. Maksudnya, meskipun kita kurang setuju dengan sikap atau apa yang dikatakan orangtua,  kita bisa menghindarinya dengan pergi menjauh saja. Biarkan anak bersama neneknya lebih dulu. Dengan berada dekat dengan anak dan nenek, seakan-akan kita merestui atau menyetujuinya. Padahal kan nggak. Setelah itu, baru kita bicarakan lagi dengan orangtua saat anak tidak dekat dengan kita”. Hal ini akan mengajarkan anak untuk melihat konsistensi dan menghindari rasa bingung.

Memberikan kepercayaan penuh

Siapa di antara Mommies yang sering sekali memantau anak lewat telepon ataupun bolak balik chatting ke orangtua untuk menanyakan kondisi anak? Ternyata, bolak balik telepon ke rumah untuk menanyakan kabar si kecil bisa jadi sangat mengganggu, lho. Bahkan bisa menimbulkan salah persepsi, di mana orang tua berpikir kalau kita tidak memercayainya. Umh, bisa kebayang, sih, ya? Paling tidak, saya juga suka merasa kesal kalau ada orang yang sering menelepon untuk sesuatu yang sifatnya tidak penting. Khawatir dengan kondisi anak? Tenang saja, orang tua kita nggak mungkin menelantarkan anak kita, kok. Kalau nggak percaya, buat apa dititipkan ke orangtua kita? Ketika kita sudah memutuskan untuk menitipkan anak pada orangtua ataupun mertua, itu tandanya kita harus bisa memberikan kepercayaan penuh kepada mereka. Percaya, deh, kalau kita sudah memberikan kepercayaan penuh pada mereka untuk mengasuh anak-anak, mereka pun bisa menjalaninnya tanpa rasa beban.

Mengingat saya termasuk salah satu orangtua yang masih menitipkan anaknya pada ibu sendiri, oboran saya dengan Mbak Nina ini jelas memberikan ilmu buat saya. Dan saya sendiri sangat sadar bahwa hobi saya yang sering telepon Bumi, ternyata sangat mengganggu. Mama saya menganggap kalau saya kurang memercayainya. Padahal sama sekali nggak, loh, tujuan saya menelepon hanya karena saya kangen Bumi, terutama dengan kalimat yanfg sering Bumi ucapkan di akhir pembicaraan kami. “Ibu selamat bekerja, ya. Mudah-mudahan nanti ngggak macet, supaya Ibu pulang cepat. I love you, Bu”.


One Comment - Write a Comment

Post Comment