Berkreasi Bersama Anak

Coba perhatikan, deh, berapa banyak anak yang lekat sekali dengan gadget? Nggak usah pakai penelitian dulu, perhatikan saja sekitar kita. Berapa banyak anak-anak yang bisa kalem kalau ada gadget di tangannya? Atau malah jangan-jangan anak Anda termasuk salah satunya?

 

Kids-Gadgets

Tak hanya untuk anak sendiri, kehadiran gadget di tengah keluarga memang seringnya, sih, mendekatkan yang jauh (berkirim kabar lewat dunia maya, misalnya) tapi tak jarang jadi menjauhkan yang dekat. Saya masih ingat pernah menyaksikan sekeluarga yang lagi makan malam di restoran, tapi masing-masing anggota keluarga asyik dengan gadget masing-masing. Well, yang saya saksikan memang hanya sekian persen dari 24 jam kegiatan keluarga tersebut, sih. Tapi kok ndilalah yang terlihat di mata saya kegiatan itu, ya? Sedih, deh.

Itu baru untuk urusan sosialisasi sesama keluarga, bagaimana pengaruh gadget dalam hal lainnya? Kreativitas atau imajinasi anak, misalnya?

Jadi begini, di layar biru (TV, smartphone, tablet, dan kawan-kawannya) segalanya tergambar dengan jelas. Bebek dengan warnanya, suaranya, bahkan tempat tinggalnya. Otak anak tak perlu lagi dirangsang untuk menerjemahkan kata bebek ke dalam bentuk visual. Itu contoh kecil saja, lho.

Selain itu, layar biru dengan pergerakannya yang sangat cepat (saya pernah bekerja di televisi, jadi saya lumayan tahu dalam 1 detik berapa gambar yang bisa ditampilkan), membuat attention span atau rentang perhatian anak menurun. Di usia 4-5 tahun, seharusnya anak bisa fokus melakukan sesuatu selama 2-3 menit. Attention span yang panjang berpengaruh ke masa depan anak. Coba baca artikel yang membahas tentang konsentrasi anak di sini, ya.

Meskipun begitu, gadget tak selalu buruk. Banyak juga manfaat yang bisa didapatkan darinya. Seperti pernah ditulis di artikel ini, teknologi tak harus selalu dimusuhi, selama penggunaannya diawasi dan berdasarkan kesepakatan. Misalnya jadwal penggunaan gadget, apa saja yang boleh dimainkan, dan banyak lagi kesepakatan yang bisa kita lakukan dengan anak seperti yang pernah ditulis di artikel ini.

Selanjutnya: Kalau tanpa gadget, terus ngapain, ya?