Don’t Blame Technology

Masih ingat, dong, curhatan saya soal Menik yang RASANYA terlambat bicara? Tidak bisa dipungkiri, saya menyalahkan diri karena memberikan akses mudah ke iPad dan televisi untuk Menik. Menurut banyak sekali sumber, anak terlambat bicara, kena gangguan perkembangan emosinya, karena terlalu banyak duduk diam di depan berbagai macam alat elektronik. Saya sendiri sempat mendetoks Menik, saking takutnya kalau anak saya ini benar-benar ketergantungan sama iPad. Tapi kemudian setelah mengobrol dengan suami, sedikit demi sedikit kekhawatiran tersebut memudar.

Pertama, Menik ternyata tidak terlambat bicara, selain perkembangan kosakatanya yang memang sesuai dengan KPSP, saya membandingkan (ah, ini juga hal yang sebetulnya tidak boleh dilakukan, ya?) Menik dengan anak teman yang memang perkembangan bahasanya di atas rata-rata. Terintimidasi banget rasanya! Kedua, teknologi memang ada dan akan terus berkembang. Siapa yang bisa menghentikan?

 

Having a kid in 2011, makes me realize, my kid will live in a hi-tech era. Lalu kemudian apakah kita harus memberikan kacamata kuda pada si anak, agar tidak terkontaminasi? Well, in my two cents, we don’t have to do that. Menurut saya yang baru jadi ibu selama 24 bulan ini, di era perkembangan teknologi yang pesat, mengenalkan anak ke berbagai macam hal adalah perlindungan utama. Jika si anak sudah mengetahui apa itu iPad, apa fungsinya, dan kenapa ada parental lock di-install oleh orangtuanya, ia tidak perlu lagi mencari tahu di luar dan bertanya pada orang lain, soal gadget yang dimiliki orangtuanya. Survival guide seperti yang dibuat oleh Riska juga penting. Sebagai orangtua, tentunya kita harus selangkah lebih tahu agar rasa penasaran anak bisa dijawab dengan baik.

Tidak perlu menyalahkan teknologi yang terus berkembang karena nanti yang ada lelah sendiri. Kitalah yang menciptakan lingkungan sehat bagi si anak. Pembagian waktu yang tepat, support system yang baik, akan menjadi kombinasi yang pas untuk menjaga keseimbangan antara indoor and outdoor activities. Tentunya, menyogok anak dengan perangkat elektronik agar si anak diam sejenak tidak termasuk dalam hal berkompromi dengan teknologi, ya. Atau pekerjaan terbengkalai karena terlalu sibuk dengan timeline di Twitter, itu sih namanya diperbudak, dan ini yang harus dihindari. Sama seperti kita yang sudah dewasa, jika dijauhkan dari teknologi, nantinya ketinggalan zaman. Tapi juga kalau over dosis teknologi, pastinya tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga. Runyam.

Sudah tidak musim lagi menyalahkan perkembangan teknologi hanya karena kita merasa banyak waktu yang terbuang sia-sia karena sibuk cek timeline akun sosial media. Sudah tidak tepat lagi menyalahkan tumbuh kembang anak terhambat karena teknologi. Sekarang zamannya memperkenalkan si teknologi agar bisa bersahabat dengan anak, dengan porsi penggunaan yang pas sesuai usianya. Sudah tidak masanya mengambinghitamkan teknologi atas nama anak nanti kurang aktif dan tidak bahagia. Justru karena mudahnya akses ke berbagai penjuru dunia dan hal, anak-anak bisa belajar banyak.

Menurut saya, asal tetap seimbang antara teknologi dan alam nyata, maka semua bisa baik-baik saja. Contoh, Menik sedang kasih makan Buddy, anjing kami di halaman depan. Kemudian ia melihat kupu-kupu dan meminta saya untuk memotret si kupu-kupu. Beberapa hari kemudian, Menik sedang melihat flash card di iPad dan ada kupu-kupu. Menik bisa bilang “Bu, Kupuu.. sama.. sama!” (artinya: Bu, ini kupu-kupu, sama dengan yang kemarin Menik lihat) sambil menutup halaman flash card dan membuka galeri foto, dan menunjuk kupu-kupu yang kami potret kemarin. Is it bad? I don’t think so! ;) Pokoknya prinsip saya adalah tidak berlebihan, ada pembatasan waktu bermain gadget, dan tetap didampingi. Sampai saat ini saya belum pernah membiarkan Menik main iPad sendiri. Saya ada di sampingnya, menjawab pertanyaannya jika menemukan sesuatu, dan tentunya menciptakan komunikasi dua arah dimulai dengan “Menik lagi lihat apa, sih?” Jadi Menik tidak diam nonton iPad begitu saja, tapi saya ajak ngobrol dengan subjek tontonannya tadi.

Let’s walk together with technology, shall we?

*Gambar dari sini


5 Comments - Write a Comment

  1. Tsakep banget!
    Sebenarnya penggunaan gadget atau teknologi nggak selalu buruk, asalkan kita menggunakannya dengan tepat. Banyak kok cara yang ternyata malah menguntungkan, kaya yang elo mention di atas, Ki. TFS ya, semoga mencerahkan buibu lain :)

  2. Ki, keponakan gue, minggu depan 2 tahun, laki-laki, juga dianggap speech delay. Sudah konsultasi ke dokter, tapi tidak menyalahkan gadget koq, walo dia suka lihat You Tube untuk nonton Elmo dan High-5. Tapi lebih karena rahangnya dan masih ngiler parah sampe sekarang (turunan kalo ini). Baru bisa bilang: Papa, Mama, Mo, Dah, Gak. Hehehhe..

Post Comment