“Konsentrasi, Dong, Nak…”

kids_yoga*Gambar dari sini

Sering, nggak, sih, Mommies berkata begitu pada anak-anak?

Baru-baru ini, saya punya cerita tersendiri soal konsentrasi, tepatnya saat saya sedang mencari-cari sekolah baru untuk Bumy. Saya dan suami mengikutkan Bumy trial di sebuah sekolah. Sesudahnya, Wakil Kepala Sekolah menyampaikan hasil observasinya terhadap Bumy. Dari observasi tersebut, Wakepsek menilai Bumy bermasalah dalam konsentrasi. Ia menilai attention span (rentang perhatian) Bumy sangat rendah dari seharusnya. Lama konsentrasi anak minimal usianya dikali 2 menit, maka seharusnya Bumy bisa berkonsentrasi mengerjakan sesuatu selama minimal 4 x 2 = 8 menit. Tapi, di kelas, dia tidak bisa tekun mengerjakan sesuatu, bahkan waktu fokusnya tidak sampai 2 menit. Tidak hanya itu, eye contact-nya juga sangat kurang.

Beliau juga bilang, “Saat menggambar, kalau anak-anak lain biasanya menggambar sesuatu yang riil, yang mereka lihat sehari-hari seperti awan, pohon, rumah, dan lain-lain, tapi Bumy malah menggambar Angry Birds. Dari sini bisa kita lihat ‘kan, kalau yang ada di kepala Bumy terus-menerus adalah Angry Birds.”

Err… Saya dan suami tidak begitu terkejut mendengarnya karena ia memang menggemari tokoh kartun itu. Namun, saya terhenyak mendengar makna dari informasi ini dari perspektif seorang pendidik. Wakepsek menanyakan apakah Bumy suka main game memakai gadget dan menonton televisi, serta berapa lama itu dilakukan setiap harinya. Saya jawab kalau kami memberikan jatah untuk Bumy main game 20 menit, dan 3 jam untuk menonton televisi. Wakepsek nampak terkejut ketika mendengar ini, lalu menyampaikan bahwa anak-anak di bawah usia 6 tahun sebaiknya tidak menonton televisi dan main gadget sama sekali. Kalaupun iya, menurutnya, waktu maksimalnya hanya 30 menit (untuk nonton televisi) dan dengan bimbingan orangtua.

Hal paling ‘seram’ yang saya dengar adalah saat Wakepsek bilang, “Memang, usia saat ini di bawah 6 tahun adalah golden age karena otak anak dapat menyerap begitu banyak ilmu dan informasi. Tapi, untuk bisa menyerap informasi dan mempelajari apapun itu, anak harus bisa berkonsentrasi. Kalau konsentrasinya rendah, jadinya percuma, nggak akan ada ilmu yang bisa diserap.”

“Tidaaaak!!” (Begitu reaksi saya saat mendengarnya… meski cuma dalam hati, sih!)

Gawat juga, ‘kan, Mommies? Meskipun agak panik, tapi saya bersyukur bisa mengetahui hal ini. Sebelumnya, saya tidak menyadari betapa pentingnya peran konsentrasi dalam perkembangan diri anak. Sekarang, yuk, kita cari tahu lebih jauh mengenai konsentrasi, rentang perhatian (attention span), dan bagaimana pengaruhnya dalam tumbuh-kembang anak.

Lihat di halaman berikutnya, ya!


5 Comments - Write a Comment

  1. Vanshe: Pas banget artikelnya, kebetulan anakku juga punya permasalahan yang hampir sama dengan Bumy. Kira2 kalau udah “terlanjur” antisipasi ke depannya gimana ya? Apa mengurangi gadget dan lebih banyak stimulasi uda cukup bantu menambah konsentrasi? atau ada masukan lain dari gurunya?

    1. Hai Shinta, setelah tahu hasil observasi itu, jatah screen time Bumy aku cut. No more gadget, at least not until he’s 6 yo. Sementara TV aku cut jadi 30 menit per minggu. Drastis bangetttt, memang… Konsekuensinya ya Bumy jadi “sakaw” TV dan gadget xD Suka tau-tau merengek bilang kangen main game, kangen nonton tokoh favoritnya di Disney Channel, as expected lah yaa. Tapi mungkin karena usianya udah cukup gede, dia ngerti sih, saat aku jelasin kalau kebanyakan TV dan gadget nanti bisa bikin nggak pinter… yah kadang pakai trik nge’dongeng’ juga biar dia lebih termotivasi.

      Saran dari Wakepsek-nya senada banget dengan tips yang aku tulis di artikel, kayak:
      1. Sediakan corner khusus buat Bumy main dan beraktivitas yang nggak melibatkan gadget dan TV. Jadinya aku limpahi aja dia dengan mainan yang fisikal, peralatan arts & crafts, buku, dll.
      2. Ajak dia engage dalam aktivitas sehari-hari. Ini sebenernya mudah aku terapin karena nggak hire PRT di rumah, hehe… Jadi ya kalo aku cuci piring, dia bantuin ngebilas (yang enteng dan aman-aman aja). Aku nyikat kamar mandi, dia bantu nyiram. Nyuci mobil sama papanya, gitu-gitu deh.

      Sementara soal tv, dari yang tadinya bisa nonton tiap sore atau malam selama 3 jam, sekarang cuma dapet jatah seminggu sekali, selama 30 menit, dengan supervisi xD Aku juga nggak ngasih nonton tv sebagai reward, ya sesuai jadwal aja tiap minggu dia dapet jatah nonton tv 30 menit.

      setelah 3 minggu, akhirnya Bumy bisa move on dari An*ry B*rds dan bilang udah nggak suka lagi, nggak mikirin lagi :))) Kalo kebetulan lagi di tempat yang nyetel TV (kayak di rumah Oma Opanya), Bumy juga jadi kurang tertarik melongo di depan TV. Dia kayak bisa nge-distract dirinya sendiri dengan latihan piano, main mobil-mobilan, atau minta kertas dan pensil buat ngegambar. Fiuuh Alhamdulillah :D

Post Comment