Motherhood Monday: Silly, “Saya Bukan Superwoman”

Nama lengkap perempuan ini Valencia Mieke Rhanda, tapi lebih dikenal dengan panggilan  Just Silly, persis seperti akun Twitter-nya @Justsilly. Buat Mommies yang aktif di sosial media, saya yakin banget kalau sudah kenal dengan sosok ibu dari Aurelia, Andre dan Hirosi ini.

Saya sendiri sudah cukup lama mengenal Mbak Silly lewat sosial media twitter. Pertama kali membaca dan mengikuti berbagai ‘kicauannya’ saya langsung tau kalau perempuan ini sangat menginspirasi. Di mata saya, perempuan ini hatinya sangat luas. Gimana nggak, setiap hari, pasti ada saja yang ia kerjakan untuk menolong orang tanpa memandang status.

Hingga pada akhirnya saya diberikan kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat karena kami sama-sama pergi ke Nias dalam dalam rangka kegiatan sosial #HandinHand beberapa waktu lalu. Di sana, saya tambah yakin kalau Mbak Silly ini perempuan yang spesial.

Setiap kali ngobrol denganya, pasti ada saja ilmu yang bisa saya serap. Beberapa waktu yang lalu saya sempat menghubungi Mbak Silly lagi, dan akhirnya kami bertemu di Rumah Harapan di bilangan Tebet Timur Dalam.  Rumah singgah ini sengaja didirikan Mbak Silly untuk anak-anak sakit terutama anak-anak Leukemia, yang datang dari daerah, dan belum dapat ditampung di RS karena kapasitas RS yang terbatas.

Rumah Harapan ini sendiri sebenarnya merupakan salah satu mimpi Mbak Silly. Ya, waktu kami ngobrol, Mbak Silly sempat bilang kalau salah satu impiannya adalah membuat Rumah Sakit untuk anak-anak yang tidak mampu. Seperti yang sudah Mbak Silly tulis dalam blog pribadinya, ia selalu berdoa untuk diberikan kelapangan rezeki untuk membantu sesama.

“Tuhan, jika diberi keleluasan rejeki, saya pengen bikin rumah untuk menampung mereka, rumah di mana mereka bisa beristirahat dengan nyaman untuk sementara, tanpa pusing mikirin duit dari mana untuk makan dan bayar biaya penginapan lagi. Biarkan mereka menjaga dan merawat anak mereka dengan nyaman, sampai mereka mendapat tempat di RS”.

Aaaah…. tanpa sadar, air mata saya pun langsung meleleh ketika Mbak Silly menceritakan betapa banyaknya anak-anak di luar sana yang kurang beruntung yang memang butuh kita untuk bantu. Waktu itu Mbak Silly bilang, “Kalau mereka bisa memilih, mereka tentu juga nggak mau lahir dari keluarga yang nggak mampu. Lahir dalam kondisi yang memprihatinkan. Mereka nggak pernah bisa menjerit, kalaupun menjerit pasti hanya dalam diam. Kalau memang saya bisa membaca itu, pasti karena Tuhan yang mau aku berangkat menolong mereka.”

Perbincangan kami pun semakin berlanjut, Mbak Silly menceritakan banyak hal yang saya yakin mampu menginspirasi kita semua.

Ceritain dong, Mbak, awal mula Mbak melahirkan gerakan sosial?

Jadi tahun 2009 itu mendirikan Blood for life, tapi waktu itu memang belum besar dan aktif. Lalu, tahun 2010 aku kerja. Aku ini tipe orang yang menajalankan hidup secara maksimal, ketika jadi ibu rumah tangga harus dikerjakan dengan maksimal, ketika sudah bekerja juga begitu.

Pada saat itu aku kerja yang dikejar itu karir dan karir, uang dan uang terus. Aku lupa kalau sudah membuat gerakan sosial. Apalagi bekerja di perusaahn logistik sesuatu hal yang baru. Dulunya kan saya di Astra bagian sales hingga sampai akhirnya jadi Manager. Bekerja di perusahaan logistik yang benar-benar baru, membuat saya banyak belajar. Yang ada hampir separuh waktu saya habiskan untuk bekerja dan belajar lagi, sampai lupa sama anak-anak dan hal lainnya.

Sampai suatu ketika ada orang yang telepon saya. Kerena nomornya nggak saya kenal dan saya sedang meeting, jadi saya diamkan saja. Eh ternyata orangnya keukeuh sampai akhirnya SMS, bilang kalau ibunya butuh darah. Setelah saya baca SMS-nya, saya mikir, “Ah ini kan bukan kerjaan saya lagi, sekarang saya harus konsentrasi di pekerjaan dulu,  jadi kegiatan sosial bukan fokus saya lagi”.

Setelah meeting dengan regional selesai, saya pulang. Tapi kok rasanyanya nggak enak ya? Daripada nggak bisa tidur, akhirnya saya telepon dan tanya, “Pak bagaimana sudah dapat donor belum untuk ibunya?”. Dia balas, “Ah telat, Ibu saya sudah mati”. Aduh…. itu rasanya, hati saya seperti ditikam. Saya merasa sudah jadi robot yang nggak punya perasaan. Di otak hanya memikirkan uang saja. Rasanya tuh tertekan banget, dan terus kepikiran.

Hingga dua bulan kemudian ibu saya anfal, muntah darah, nggak ada kesempatan buat saya untuk cari darah. Dan akhirnya beliau meninggal. Separuh hidup saya pun rasanya pergi bersama beliau. Mungkin kedengarannya lebay, tapi memang begitu. Saya sangat sayang dan dekat dengan ibu. Bahkan waktu saya ibu saya dikubur, rasanya saya ingin masuk bersama beliau.

Saat itu jugalah saya baru mulai menyadari, apapun yang kita cintai di dunia ini adalah titipan. Semua kalau sudah waktunya diambil, ya akan diambil. Harta, anak, apapun yang kita punya. Yang dibawa pulang cuma amal perbuatan yang baik. Lalu aku mikir, aku sudah siap belum sih kalau memang harus dipanggil Tuhan?

Saat Ibu meninggal, banyak sekali orang-orang yang bercerita soal kebaikan ibu. Dulu ibuku nggak sebaik itu, tapi setelah beliau divonis sakit kanker, melakukan cuci darah, beliau mulai membaktikan dirinya untuk Tuhan, menyenangkan Tuhan lewat membantu sesama.

Dari sana aku mikir, aku ingin seperti ibu, tapi nggak mau nunggu sampai tua dan sakit-sakitan dulu. Aku mau mulai dari sekarang. Sampai akhirnya aku mengajukan diri untuk resign tapi nggak diperbolehkan,  sampai dua bulan kemudian baru diizinkan.

Apa hal pertama yang dilakukan Mbak Silly setelah resign? Apa langsung lancar kegiatan sosialnya? Lihat di halaman selanjutnya ya!


4 Comments - Write a Comment

  1. Iya, banget Lit…. fokusnya buat kegiatan sosial. Kemarin pas gue main ke rumah harapan juga Mbak Silly lagi sibuk banget ngurus satu anak yang ‘terbuang’ dari keluarganya lantaran sakit kulit. Mending sakit kulitnya apa gitu, ya…. ini sakit lepra. Tapi Mbak Silly cuek aja gitu deket2 sama anak tsb. Nggak ada rasa takut apalagi jijik…..

Post Comment