Motherhood Monday: Silly, “Saya Bukan Superwoman”

just silly1

Saat mengetahui anak Mbak memiliki kebutuhan khusus, apa yang pertama kali Mbak lakukan?

Waktu anak yang pertama, saya nggak tau kalau anak saya itu autism, yang saya tau anak saya itu berkebutuhan khusus dibandingkan anak lainnya. Jadi awal saya berhenti bekerja juga karena saya tau kalau anak saya sering dikasih CTM sama baby sitter. Tiap saya telepon, anak saya selalu tidur. Hingga akhirnya saya pernah meminta yang  jaga untuk membeli sesuatu dulu di warung, setelah saya periksa tasnya, ternyata di dalam kamar saya menemukan puntung rokok dan CTM yang sudah di belah-belah. Dia kan baby sitter, kok seperti itu? Akhirnya saya balikin ke yayasan, tapi nggak saya tuntut karena kasihan dengan baby sitter lain yang baik. Saya cuma pesan kalau hati-hati untuk menjaga semua tenaga baby sitter yang mereka tawarkan. Sejak itu saya resign, dan anak saya mulai ikut berbagai terapi.

By the time being anak saya bisa tumbuh jadi anak yang mandiri. Pada saat saya sudah lega dan tenang di rumah, saya melihat ini anak gue yang satu kenapa, ya? Awalnya anak saya step. Dari sana saya mulai periksa ke dokter, rekam otak, tapi katanya nggak apa-apa. Tapi lama kelamaan, anak saya sudah nggak pernah manggil saya mama lagi, perkembanganya juga berkurang. Saya lihat juga anak saya ini mulai menarik diri. Untungnya saat itu sudah berhenti kerja.

Saya akhirmya mulai cari tahu soal autism. Dari buku yang saya baca, ‘Dunia di Balik Kaca’, anak itu merindukan bunyi denyut jantung ibunya seperti dalam kandungan. Makanya anak yang autis seperti anak saya, senang bunyi yang konstan seperti bunyi batu yang ia kumpulkan kemudian dilempar. Bunyinya kan pluk… pluk… pluk.. semenjak itu anak aku sering aku peluk, dan anak aku benar-benar menikmati.

Lama kelamaan aya semakin sadar kalau anak saya memang berkebutuhan khusus, terlebih setelah 5 orang ahli juga mengatakannya. Dan saya pun menerima dan mengakui kondisi tersebut. Untuk menolong anak yang berkebutuhan khusus, pertama kali yang harus dilakukan adalah orangtuanya harus bisa menerimanya lebih dulu. Jadi ketika ada anak yang memiliki kebutuhan khusus, bantu dulu orangtuanya untuk menerima kondisi anaknya. Kalau orangtuanya sudah bisa menerima, maka dia bisa berkompromi dan tau apa yang harus dilakukan untuk anaknya.

Setiap individu anak autis itu sangat unik, kebutuhan anak autis itu tidak sama, terapi anak yang satu belum tentu cocok untuk yang lain. Tapi inti dari terapi itu untuk melatih integrasi anak.

Ngomong-ngomong, Mbak Silly kan sekarang sudah banyak dikenal orang, jadi suka jaga image nggak sih, Mbak?

Hahahaa…… nggak tuh, saya apa adanya banget. Buat saya, apa yang yang ada di hati, apa yang kita ucapan apa yang terpancar di mata justru yang bisa berbicara banyak hal. Bukan dari penampilannya. Kalau pakai sepatu misalnya, aku nggak pernah beli yang mahal, nggak tega gitu untuk buat pakainya, kan tinggal diinjak-injak. Aku malah banyak beli yang 50 ribuan, ini yang aku pakai malah 25 ribuan. Kalau tas memang sekarang banyak di-endorse, baju juga, jadi nggak pernah keluar uangnya.

Kalau aku pergi-pergi, misalnya waktu kita jalan ke Nias dulu, ya penampilan aku apa adanya aja seperti itu. Setelah sering masuk televisi, lebih banyak dikenal orang, saya sama sekali nggak pernah jadi jaga image. Ya, apa adanya saja. Malah Prita, Public Relation Rumah Harapan yang suka ingetin aku untuk menjaga image sedikit. Jadi memang nggak pernah kepikiran untuk lebih jaga image, ubah penampilan, atau tata bahasa. Ya, apa adanya saja.

Lalu apa bedanya Mbak Silly sekarang dengan Mbak Silly belasan tahun yang lalu?

Bedanya adalah dulu itu aku Scorpio yang sangat keras, dan some part of me masih seperti itu. Kalau mau melakukan sesuatu aku sangat keras, tapi di sisi lain aku nggak lagi jadi perempuan yang gampang marah dan gampang banget tersinggung seperti dulu. Sekarang masih ada porsi seperti itu, tapi sudah jauh berkurang.

Ibaratnya begini, dalam tubuh seseorang ada serigala baik dan serigala jahat. Semua orang punya dua sisi ini. Lalu siapa yang menang? Tergantung dari serigala mana yang kita kasih makan, kalau kita kasih makan serigala jahat terus menerus, serigala ini tentu akan jadi besar dan semakin buas sehingga menguasai kita. Tapi kalau kita terus memberi makan serigala baik, serigala baik ini juga akan tumbuh menjadi kuat, tapi kekuatan yang baik ini akan menaungi tubuh. Aura yang nongol jadi yang baik, sementara yang jelek lama-lama akan mati karena nggak pernah dikasih makan.

—-

Buat saya pribadi, sosok Mbak Silly ini menjadi salah satu contoh perempuan yang memberikan banyak inspirasi dan pantas dinominasikan dalam gerakan program ‘Women of Worth’ yang sedang dilangsungkan L’Oreal. Kalau Mommies punya saudara, atau kenalan yang memang banyak memberikan inspirasi, jangan lupa ikut menominasikan mereka, ya. Mumpung program ini masih berlanjut hingga akhir Oktober nanti.

Terimakasih Mbak Silly atas waktu, ilmu dan inspirasinya! Andai lebih banyak orang seperti Mbak Silly di dunia ini, ya…


4 Comments - Write a Comment

  1. adiesty

    Iya, banget Lit…. fokusnya buat kegiatan sosial. Kemarin pas gue main ke rumah harapan juga Mbak Silly lagi sibuk banget ngurus satu anak yang ‘terbuang’ dari keluarganya lantaran sakit kulit. Mending sakit kulitnya apa gitu, ya…. ini sakit lepra. Tapi Mbak Silly cuek aja gitu deket2 sama anak tsb. Nggak ada rasa takut apalagi jijik…..

Post Comment