Motherhood Monday: Silly, “Saya Bukan Superwoman”

Setelah biasanya sibuk saat memutuskan resign, hal apa yang pertama Mbak Mbak Silly lakukan?

Pertama keluar bingung mau ngapain, harus melakukan apa, ya? Gaji sudah nggak ada, anak-anak kondisinya juga seperti itu. Aku benar-benar mempertaruhkan segalanya. Tapi aku yakin, setiap niat baik pasti akan dibukakan jalan. Mulai saat itu aku pun netapin hati untuk melakukan kegiatan sosial, dan menjemput bola.

Waktu itu follower Blood For Life baru 132 orang, nah, sambil aktifin aku akhirnya bertemu anak kecil yang mendapatkan kekerasan seksual. Dari sana aku mulai semakin memanfaatkan sosial media untuk melakukan gerakan sosial ini. Sampai akhirnya ada pihak Google yang melihat kalau ada orang Indonesia yang menggunakan sosial media untuk gerakan sosial.

Mereka telepon, dan tanya pengalaman yang paling menyentuh, akhirnya aku cerita soal Fahmi yang kondisinya sudah sangat memburuk tapi akhirnya bisa ditolong lewat sosial media sampai akhirnya menganggap kita sebagai keluarga. Semenjak itu Blood For Life makin dikenal dan besar. Kita yang terlibat dalam Blood For Life menganggap kalau Blood For Life ini adalah UGD-nya dunia maya. Di mana siapa yang datang ke kita, pasti kondisinya urgent untuk dibantu. Makanya kita selalu jaga 24 jam dengan ganti shift.

Selain menjembatani orang yang butuh bantuan donor darah, apa saja yang dilakukan Blood For Life?

Yang kita lakukan nggak cuma jadi jembatan orang yang butuh bantuan, tapi kita berpikir semakin banyak orang yang sadar untuk mendonorkan darah maka semakin sedikit orang yang kita bantu. Prestasi buat kami dilihat dari bukan berapa banyak orang yang bisa kita tolong, tapi justru kita lihat dari berapa banyak orang yang sadar kalau donor darah itu baik dan penting untuk dilakukan. Kita melakukan edukasi di kampus-kampus, SMA atau sosial media. Menurut kita sosial media ini sangat powerfull, dunia tanpa batas. Semua bisa masuk.

Kok, kepikiran, sih, Mbak untuk membuat Blood For Life?

Saya percaya, kalau semua orang pasti punya hati nurani. Semua orang pasti rindu untuk melakukan sesuatu yang baik yang bisa menolong orang lain. Tapi banyak orang yang nggak tau bagaimana caranya dan merasa nggak punya cukup uang untuk membantu. Tapi kalau darah, semua orang punya dan itu semua dikasih gratis sama Tuhan, nggak pakai bayar. Masa darah yang sudah dikasih ke kita secara gratis, tapi kita nggak mau kasih ke orang lain sih? Itu yang kemudian membuat saya jadi semangat. Blood for life akan ada 3 nantinya, BFL action, BFL Kampus, BFL School dan semuanya ini saling integrasi.

Rumah harapan1

Hingga akhirnya Mbak mendirikan Rumah Harapan ini?

Komunitas gerakan sosial itu kan banyak sekali, ya. Tujuannya tapi tentu sama, ingin membantu sesama. Daripada bergerak sendiri-sendiri, kenapa kita nggak bergandengan tangan saja? Rumah harapan ini menjadi wadah yang jadi payung gerakan sosial semua komunitas. Semua komunitas bisa bergabung di sini karena kita juga punya berbagai program yang bisa meningkatkan seluruh kegiatan komunitas.

Apa yang Mbak pelajari setelah banyak melakukan gerakan sosial seperti sekarang ini?

Saya banyak belajar dari sini. Salah satunya aku belajar untuk melayani Tuhan. Sekarang aku memberikan hidup aku untuk melayani Tuhan, karena buat aku melayani Tuhan itu dengan mengasihi. Tuhan itu kan hadir dengan cara yang sangat sederhana, sesederhana anak-anak. Aku belajar untuk menghabiskan hidup bersama mereka.

Bagaimana dengan anak-anak, apakah kesibukan Mbak Silly kemudian membuat perhatiannya teralihkan dari anak-anaknya? Simak cerita Mbak Silly yang dianugerahi 2 anak berkebutuhan khusus di halaman selanjutnya!


4 Comments - Write a Comment

  1. adiesty

    Iya, banget Lit…. fokusnya buat kegiatan sosial. Kemarin pas gue main ke rumah harapan juga Mbak Silly lagi sibuk banget ngurus satu anak yang ‘terbuang’ dari keluarganya lantaran sakit kulit. Mending sakit kulitnya apa gitu, ya…. ini sakit lepra. Tapi Mbak Silly cuek aja gitu deket2 sama anak tsb. Nggak ada rasa takut apalagi jijik…..

Post Comment