Saya Seorang Ibu Rumah Tangga, Titik

 

menjadi ibu rumah tangga

Masih juga ada debat (yang menurut saya tidak penting) mengenai ibu rumah tangga  VS ibu bekerja di kantor. Baru-baru ini, saya pun menerima email yang isinya serupa dan masih saja berputar-putar di situ juga. Buat saya, itu tidak penting untuk didebatkan karena masing-masing sudah bertanggung jawab dan menerima segala konsekuensinya, kan.

Saya sendiri adalah seorang ibu yang memutuskan untuk bekerja dari rumah. Dan saya belum memiliki usaha atau bisnis sendiri untuk dijalankan. Uang yang saya terima ya uang gaji suami. Pekerjaan sehari-hari tentu saja berkaitan dengan rumah tangga. Mulai dari menyapu, mencuci baju, memasak, menyetrika pakaian, membersihkan halaman, memperbaiki gorong-gorong yang rusak hingga memperbaiki mainan anak yang rusak. Soal paku-memaku hingga mencuci kendaraan, saya juga yang mengerjakannya. Tak lupa, semua kran air yang bermasalah, saya juga yang memperbaiki. Mesin pompa air di rumah pun tak luput dari hasil kerja kedua tangan saya. Soal menyemen dan mengecat rumah, saya bisa melakukannya seorang diri.

Ketika mendengar semua hal yang saya lakukan, salah satu teman di grup chat berkomentar “Buset, May! Udah mirip pembantu dan tukang aja deh lu!” . Saya memilih untuk mengirimkan emoticon tertawa terbahak-bahak untuk membalas komentar tersebut, ketimbang ngambek dan memecah persatuan dan kesatuan pertemanan di grup chat. Mau bagaimana lagi, memang semua hal itu saya yang mengerjakannya kok.

Dulu saya memang sensitif (baca : gampang tersinggung)  jika pekerjaan rumah tangga disamakan dengan pekerjaan asisten rumah tangga. Saya sering (lebih tepatnya, selalu berusaha) menjelaskan pada orang-orang di sekeliling ketika mereka menanyakan mengapa saya tidak bekerja di kantor. Di antara semua jawaban itu, saya selalu membawa-bawa pekerjaan suami yang selalu berpindah tempat, anak yang masih bayi, ketiadaan asisten rumah tangga dan bla-blabla lainnya. Lebih mirip defense ketimbang mengakui bahwa saya adalah ibu rumah tangga yang belum memiliki penghasilan sendiri dan saya melakukan semua pekerjaan rumah tangga seorang diri.

Entahlah, saat itu saya merasa pekerjaan ibu rumah tangga itu tidak keren, hahahaha. Absurd sekali ya? Tapi iya, memang tidak keren. Tidak terlihat cantik dan kurang necis. Pakaiannya ya gitu-gitu aja. Tidak ada penghasilan, tidak punya NPWP, dan jarang bisa tampil cantik. Karena hal-hal inilah, saya sempat ingin bekerja hingga menawarkan diri untuk kembali ke perusahaan yang lama.

Lambat laun, anak saya mulai tumbuh. Pun pertumbuhan emosi saya mengikuti kondisi anak. Saya mulai enjoy dengan  semua pekerjaan rumah tangga (kadang saya merasa terintimidasi saat ada orang lain yang berusaha membantu saya untuk menyelesaikan satu atau beberapa pekerjaan rumah tangga) sembari mengasuh si kecil. Saya menjemur pakaian, dia ikut menjemur pakaian miliknya. Saya menyapu rumah, dia ikut mengelap-lap meja dan kursi. Pokoknya, di usia anak saya yang ke tiga tahun, dia sudah bisa menjadi asisten andal bagi saya. Terutama saat saya malas mengambil ini-itu dan meminta dia yang mengambilkannya, hihihihi…

Keinginan untuk bekerja di kantor pun redup. Saya tidak lagi mengambil pusing saat ada beberapa kawan yang menyayangkan keputusan saya untuk tetap berada di rumah. Seringnya saya beralasan “Duh, kalau gue kerja lagi, ntar pas anak dan suami gue sakit terus gw masih di kantor, kan nggak bisa seenaknya gue pulang tanpa membereskan pekerjaan. Iya kalau kerjanya masih deket sini, kalau di Jakarta, yah bubar deh gue. Gak apa deh, gue di rumah dulu aja. Masih santai kok.” Kalau sudah begitu, semua teman saya mingkem. Hingga hari ini, tidak ada lagi yang mengomentari saya atau memberikan masukan lalala-lilili mengenai apa yang sebaiknya saya lakukan.

Saya tahu betapa terbatasnya menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten rumah tangga dan belum memiliki penghasilan setiap bulan. Namun saya tidak mau kecil hati. Nggak punya penghasilan sendiri, ya saya berusaha hemat supaya saat akhir pekan kami sekeluarga bisa berwisata atau main keluar rumah. Jika orang-orang sekitar tidak melihat hasil karya-kinerja kita, ya cukup kita dan orang-orang rumah yang tahu bahwa kita berhasil mengecat dinding kamar atau menyemen bagian carport yang gompel. Bahkan, kita pun bisa tersenyum saat melihat si kecil ikut membantu pekerjaan rumah tangga kita tanpa diminta. Apalagi ketika mendengar anak berkata, “Aku mau bantuin mama”. Indah bukan?!

Sekarang, tahun kelima untuk saya sebagai ibu rumah tangga. Masih panjang jalan di depan mata saya dan keluarga. Satu hal yang pasti, saya belajar untuk bangga dengan pekerjaan yang pilih. Menjadi ibu yang baik dan benar, menjadi istri yang baik dan benar serta menjadi individu yang baik dan benar, pasti akan memberikan akibat yang baik dan benar untuk kita. Percaya saja, jika kita melakukan hal yang baik, pasti akan berakhir baik, kan. Jadi, perdebatan mengenai : ibu rumah tangga VS ibu bekerja di kantor? Ah, so last year! :)

 


36 Comments - Write a Comment

Post Comment