Mia Sutanto: Sang “ASI Motivator”

Ketika bicara ASI, ingatan pertama biasanya langsung ke AIMI. Bicara AIMI, pasti langsung ingat sama Mia Sutanto, Ketua Umum AIMI sekaligus juga konselor laktasi yang masih sering ‘turun panggung’ demi mengampanyekan cairan emas untuk buah hati kita, ASI.

Mengawali World Breastfeeding Week 2012, saya diberi kesempatan untuk ngobrol sama ibu cantik yang ramah ini. Dan jujur, jawabannya sangat memotivasi saya secara pribadi, untuk membantu mengampanyekan ASI. Simak, yuk!

Sejak kapan tertarik pada dunia per-ASI-an?

Pertama kali tertarik pada dunia per-ASI-an adalah sejak kelahiran anak pertama 8 tahun yang lalu. Setelah menikah 7 tahun (1997) kami baru dikarunia seorang anak, sehingga saat itu saya langsung memutuskan untuk berhenti bekerja dari firma hukum untuk bisa mengasuh anak secara penuh. Saya juga bertekad dan niat untuk memberikan yang terbaik, yaitu ASI. Sayangnya, sama dengan kebanyakan calon ibu lainnya, saya menganggap menyusui sebagai sesuatu hal yang wajar, alamiah dan mudah, sehingga tidak ada usaha untuk mencari tahu dan belajar lebih banyak tentang ASI dan menyusui. Alhasil, tidak IMD (memang tahun 2004 belum ada IMD), tidak rawat gabung, sudah diberi formula saat di rumah sakit, anak saya kuning, payudara saya bengkak, puting lecet, baby blues dan berbagai permasalahan seputar menyusui pasca kelahiran mulai bermunculan satu persatu. Untungnya setelah anak saya berusia 2 minggu saya bisa full menyusui berkat ke-ngeyel-an diri saya sendiri dan juga dukungan suami dan keluarga. Sekitar anak saya, Kayla, berusia 5,5 bulan, dsa mengatakan bahwa kenaikan berat badannya kurang bagus sehingga sudah harus mulai makan. Jadilah Kayla tidak ASI eksklusif karena sebelum 6 bulan sudah pernah campur formula dan sudah mulai MPASI.

Saya menyusui Kayla juga hanya sampai 10 bulan, karena waktu itu saya  terkena demam berdarah dan harus dirawat di rumah sakit. Dokter menyarankan untuk tidak menyusui dan memerah serta membuang ASI saya karena mengandung obat-obatan keras. Sekali lagi, karena ketidak-tahuan saya, karena menganggap enteng menyusui sehingga tidak merasa perlu untuk belajar, saya menurut saja dengan instruksi dokter. Kembali ke rumah setelah pulih, Kayla menolak menyusu pada saya (nursing strike), dalam kepanikan dan kesedihan karena merasa ditolak oleh anak sendiri, saya berhenti menyusui Kayla. Setelah itu, saya jadi penasaran kenapa kok bisa gagal menyusui sampai 2 tahun sesuai cita-cita semula? Saya harus belajar lebih banyak tentang ASI dan menyusui untuk bekal kelahiran adik-adiknya Kayla nanti.

Mungkin banyak perempuan yang tertarik pada dunia ASI, tapi beberapa tahun lalu, yang mau ikut pelatihan konselor laktasi WHO, mungkin sedikit sekali. Alasannya apa, sih, Mbak?

Self motivation :)

Pertama: pelatihan konselor menyusui menggunakan modul 40 jam WHO/UNICEF, ada praktik konseling langsung dengan ibu-ibu hamil dan menyusui, sehingga dari segi waktu dan biaya mungkin akan terasa berat bagi sebagian orang.

Kedua: banyak yang menganggap untuk belajar tentang ASI dan menyusui tidak perlu repot-repot ikut pelatihan, cukup dengan baca dari buku, majalah atau internet. Tapi pelatihan konselor menyusui tidak semata-mata hanya tentang ilmu ASI, lho, yang lebih banyak adalah porsi tentang ilmu berbicara … it’s not what you say, but how you say it. Buat kebanyakan orang, termasuk saya sendiri pada awalnya, ini susah. Konselor menyusui harus bisa berempati, menerima (bukan berarti meng-iya-kan) pendapat ibu yang salah tanpa judging, sembari terus memberikan informasi relevan sehingga si ibu sadar sendiri bahwa apa yang selama ini diyakini tentang menyusui ternyata kurang tepat. Dari situ pelan-pelan timbul rasa percaya diri ibu untuk menyusui bayinya, dan rasa percaya diri itu yang harus terus dipupuk oleh si konselor menyusui melalui dukungan yang sejajar. Konselor menyusui harus bisa duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan seorang ibu menyusui. :)

Ketiga: yah, mungkin selama ini banyak yang memandang kegiatan sebagai konselor menyusui kurang membawa benefit untuk diri sendiri, padahal selama hampir 6 tahun sebagai konselor menyusui secara pribadi saya sudah merasakan benefit yang luar biasa, terutama dalam hal kemampuan saya untuk berinteraksi dengan orang lain.

Yang biasanya terjun ke dunia ASI kebayangnya adalah nakes, tapi Mbak Mia kan lawyer, kok berani mempertaruhkan karir?

Being a lawyer was a job, THIS is my calling, my passion.

Mungkin klise, ya, alasan saya “If you want to make a change, start with yourself”, tapi saya percaya setiap orang punya peranan, setiap orang bisa berkontribusi di masyarakat. No matter how big or small. This is mine. Kalau saya ingin suatu keadaan berubah, saya tidak bisa menuntut orang lain untuk mengerjakannya, sayalah yang harus memulai untuk melakukan perubahan itu.

Lalu, ceritakan secara singkat mengenai terbentuknya AIMI dong, Mbak?

Setelah saya selesai pelatihan konselor menyusui Januari 2007 yang diselenggarakan oleh Sentra Laktasi Indonesia, saya mulai sosialisasi dan memberikan edukasi tentang ASI ke teman dekat serta saudara-saudara saya. Saya juga aktif browsing di internet dan ikutan berbagai milis untuk latihan memberikan konseling menyusui. Salah satu milis yang ikuti adalah milis ASIFORBABY. Singkat cerita, saya ketemuan dengan beberapa ibu-ibu menyusui yang tergabung di milis tersebut seperti Nia Umar, Mbak Yeye serta Shanty dan kami sepakat untuk bikin wadah organisasi support group untuk ibu menyusui yang jangkauannya bisa lebih luas dibandingkan dengan support group yang berbasis internet seperti ASIFORBABY. Setelah itu kami bertemu dr. Utami Roesli, SpA, IBCLC untuk bertukar pikiran dan beliaulah yang menyarankan nama Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia. Tanggal 21 April 2007 pada acara kopdar pertama milis ASIFORBABY, kami mendeklarasikan berdirinya AIMI.

Boleh tahu nggak, Mbak, ‘pasien’ pertamanya siapa, sih? :D


Hahahaha, lebih tepatnya siapa ‘korban’ saya yang pertama ya :D
Setelah lulus pelatihan, saya langsung mengumpulkan teman-teman dan saudara dekat yang sedang hamil atau yang memiliki bayi dan saya undang ke rumah. Hanya dengan berbekal laptop, layar TV dan beberapa alat peraga (seperti boneka, breast model, dll) saya menjalankan apa yang sekarang sudah dikenal di lebih dari 20 kota seluruh Indonesia sebagai Kelas Edukasi :D Alhamdulillah beberapa dari ‘korban-korban’ saya tersebut berhasil menyusui sampai 2 tahun/lebih. Sebagian dari pendiri dan pengurus AIMI juga merupakan ‘korban’ awal saya … hehehe … Alhamdulillah bukannya lari, mereka justru jadi kepincut dengan dunia per-ASI-an.

Saat ini boleh dibilang, kampanye ASI sudah lebih gencar dibanding beberapa tahun yang lalu. Menurut Mbak Mia peran dari siapa sajakah ini? AIMI, media, nakes atau kesadaran ibu sendiri?

Hmmm, kalau saya yang ditanya, ya, pasti saya jawabnya karena peranan AIMI dong, hehehe. :D AIMI sejak awal selalu komit dengan visinya, yaitu meningkatkan prosentase ibu menyusui dan bayi yang disusui di Indonesia. Begitu pula dengan misi kami, yaitu memberikan akses kepada ibu menyusui dan keluarganya terhadap 3 hal:
1. Edukasi dan informasi yang akurat dari sumber yang terpercaya tentang ASI dan menyusui;
2. Dukungan peer support serta bantuan laktasi dari pihak yang berkompentensi; serta
3. Advokasi dan perlindungan hak-hak seorang ibu menyusui.

Kalau saya boleh berpikiran positif, dilihat dari berbagai kegiatan yang sudah dilakukan oleh AIMI, I’d like to think that AIMI mempunyai kontribusi yang cukup signifikan atas semakin meningkatnya awareness masyarakat tentang ASI.

Kalau peran pemerintah sendiri bagaimana mbak, terhadap AIMI atau kampanye ASI?

Alhamdulillah, menurut saya pemerintah bisa melihat sendiri bahwa AIMI murni memperjuangkan hak menyusui dan mendukung ibu menyusui di Indonesia, tidak ada agenda lain yang tersembunyi, tidak ada conflict of interest, sehingga sekarang hampir segala hal yang terkait dengan kampanye ASI, apakah itu perayaan Pekan ASI Sedunia, pelatihan laktasi sampai penyusunan peraturan perundang-undangan pihak pemerintah mengundang AIMI untuk turut berpartisipasi sebagai stakeholder.

Siapa yang paling mendukung peran Mbak Mia dalam mengampanyekan ASI?

Tentu bos di rumahlah :D dulu istrinya dibayar dengan US$, sekarang lebih sering ‘dibayar’ dengan ucapan terima kasih. I always say to him, apa yang saya kerjakan sekarang adalah untuk tabungan kita di akhirat, tabungan di dunia kamu saja, deh, yang urus, hehehe. Belum lagi saya sering travelling, kerja di akhir minggu. i. Selama anak-anak dan rumah terurus :) Ya, saya harus konsekuensi dong, with the choices I’ve made, harus bisa juggling with the many aspects of my life … kalau ada bola yang jatuh, just pick it up and start juggling again :D

Menurut Mbak Mia, penghalang terbesar bagi seorang ibu dalam pemberian ASI apa, sih, Mbak?

Protection, promotion and support.

Tiga hal yang menjadi misi AIMI, yaitu edukasi, dukungan dan perlindungan bagi ibu menyusui. Tiga hal ini sebenarnya tidak bisa dipisahkan, karena tanggung jawab pemberian ASI kepada bayi tidak hanya terletak pada si ibu, tetapi terletak pada seluruh elemen masyarakat. Why? Mengingat begitu banyaknya kerugian yang timbul apabila ASI tidak diberikan, maka masyarakat sendirilah yang akan merasakan akibatnya di kemudian hari. The future of our country lies with these babies, breastfeeding provides one of the essential foundations to build a strong nation, that’s what I believe :))

Maraknya produk susu formula (plus biaya yang tak terbatas ini) menurut Mbak Mia bisa ‘diperangi’ dengan apa?

It’s like David and Goliath, ya? :D Tapi nggak perlu berkecil hatilah :)) We do what we can to the maximum of our abillities :) Keterbukaan informasi penting, educate the community tentang bahaya pemberian formula, educate masyarakat bahwa ASI adalah HAK bayi, dan karena mereka belum bisa menyuarakan hak tersebut, it’s our responsibility untuk melindungi dan menjamin bahwa bayi-bayi tak berdosa mendapatkan hak mereka. Membuat masyarakat sadar bahwa ada bedanya antara kebutuhan dan menciptakan pasar. Saat ini, para produsen formula sudah pada tahap menciptakan pasar, and Indonesia is the second largest market in Asia after China.

Uangnya lari kemana semua?

Ingat, AIMI tidak menentang produknya karena kami sadar ada kondisi-kondisi tertentu di mana produk tersebut memang dibutuhkan (ada dalam guidelines WHO dan PP 33/2012), tetapi kami menentang teknik pemasaran dan promosi yang sudah sangat melanggar batas etika dan menurunkan kepercayaan diri seorang ibu menyusui.

Di AIMI ada divisi advokasi yang salah satunya bisa membantu ibu bekerja dalam pemberian ASI terhadap ibu bekerja. Ada kasus-kasus unik atau pelik nggak, mbak?

Adalah. Yang paling ekstrem kami pernah menerima pengaduan ada ibu menyusui yang akan dipecat dengan tuduhan melakukan pelecehan seksual di kantor karena mompa di depan teman wanitanya yang satu ruangan. Masih banyak tempat kerja yang belum mendukung karyawan wanitanya untuk memerah di waktu kerja. Para ibu menyusui ini harus mompa di toilet, gudang, pos satpam, ruang filing, kolong meja … bahkan ada yang sambil sembunyi-sembunyi. Manusiawi nggak, sih, memperlakukan seorang perempuan seperti itu?

Meskipun sekarang ada UU no. 36/2009 tentang kesehatan dan PP no. 33/2012 tentang pemberian ASI eksklusif, pemerintah tetap perlu melakukan sosialisasi yang gencar, dan tidak lupa enforcement dan punishment atas pelanggaran yang terjadi di tempat kerja. Mommies, you have the right to breastfeed or express breastmilk during work, it’s protected by law. Ini adalah hak pekerja perempuan, bukan permintaan perlakuan istimewa (special privilege).

Ada yang bilang AIMI cukup ‘keras’ dan mudah mem-black list sebuah produk. Boleh tahu Mbak, alasannya? (kalau sufor sudah tentu nggaklah, ya :D )

Integritas. Sekarang nama AIMI sudah sinonim dengan ASI di Indonesia. Mulai dari masyarakat sampai pemerintah sudah tahu dan percaya bahwa dalam hal kampanye ASI, AIMI dapat dipercaya karena AIMI tidak memiliki agenda atau motif lain selain misi dan visi seperti yang sudah saya jelaskan di atas. We cannot compromise that trust. Oleh karena itu, kami sangat ketat dalam hal menjaga agar apa pun yang kami lakukan tidak menimbulkan conflict of interest. Interest kami hanya satu, yaitu ASI :D (waduh, kalau seperti ini lawyer-nya keluar, deh :p) we don’t want to have anything to do with Code violators.

AIMI galak terhadap para pelanggar kode, tapi lembut penuh cinta terhadap para ibu menyusui, hehehe :D

Gambarkan dong, mbak, lingkungan atau situasi yang ideal bagi seorang ibu? :)

Lingkungan atau situasi yang ideal bagi seorang ibu datang dari factor diri sendiri (internal) dan faktor masyarakat sekitar (eksternal). Like 2 sides of a coin, sebenarnya 2 faktor ini tidak bisa dipisahkan.
Senantiasa belajar dan memotivasi diri sendiri serta memotivasi lingkungan agar dapat tercipta kerjasama yang harmonis dan mendukung peran kita sebagai seorang ibu. As a mother, you are not normal, you are extraordinary. However, don’t demand perfection on yourself, because perfection can only be seen through your children’s eyes. :))

Nah, siapa yang merasa ikut termotivasi untuk mempopulerkan ASI juga, hayooo? :)